Tawadhu Pada Kyai, Santri Bahrul Ulum Pilih Tidak Mudik

0
49
Para Santri yang tidak mudik demi menjaga Kyai.
Jombang, nawacita – Sebagian besar umat Islam ingin menikmati momentum Idul Fitri bersama keluarga tercinta. Namun hal itu tidak berlaku bagi santri ribat (asrama) Bumi Damai Al Muhibbin Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang, Jawa Timur yang bertahun-tahun lebaran di pesantren.
Suasana sepi dan lenggang begitu terasa saat kontributor NU Online mengunjungi ribat Bumi Damai Al Muhibbin, Jumat (15/6). Hanya tampak beberapa santri yang sibuk melayani tamu dan berjaga di kantor utama. Ribuan santri yang biasanya hilir mudik kini hanya tersisa belasan orang.
Di antara belasan santri tersebut adalah Muhammad Asadul Arifin santri asal Banyuwangi yang hampir tiap shalat Idul Fitri selalu berada di pondok. Bagi Arifin, kebiasaan tersebut sudah mendapat restu dari orang tua untuk mengabdi kepada kiai. Apalagi saat Idul Fitri, pengasuh ribat, KH Idris Djamaluddin memiliki tamu yang cukup banyak dan butuh bantuan.
“Sudah bertahun-tahun ya seperti ini. Lebaran di Pondok, shalat bareng kiai, jaga keamanan pondok dan membantu kalau ada tamu yang mau sowan,” jelasnya.
Santri yang sekaligus mahasiswa semester tujuh ini mengatakan bersyukur memiliki orang tua yang tidak mempermasalahkan pilihannya. Untuk menghilangkan rasa kangen kepada kedua orang tua biasanya video call melalui layanan whatshapp. Baginya, sang pengasuh sudah seperti ayahnya.
“Ini sudah tanggung jawab sebagai santri yang lebih lama di pondok. Maka harus mengalah kepada santri yang masih junior untuk pulang,” ungkapnya.
Menurutnya, selama di pesantren dirinya dan sejumlah santri lain tidak nganggur. “Tugas utama yaitu menjaga kiai beserta keluarganya,” ungkapnya. Juga melayani pengasuh dan meringankan tugas. Walaupun ada abdi ndalem tapi untuk lebaran ini butuh banyak tenaga, lanjut Arifin.
Arifin menjelaskan, bagi santri tidak ada yang lebih dicintai di pesantren selain sosok kiai itu sendiri. Sehingga meluangkan waktu untuk kiai merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Apalagi saat ini Arifin dipercaya oleh sang kiai sebagai pengurus ribat.
Ia mengatakan saat paling sedih ketika berlebaran jauh dari keluarga yakni kala malam takbiran. Kadang ia tak mampu membendung air mata saat mendengar lantunan takbir. “Karena ketika itu pikiran saya tertuju ke keluarga,” ungkapnya.
“Untuk menghilangkan rasa sedih, biasanya yang saya lakukan adalah pergi ke warung kopi, jalan-jalan ke sawah hingga membersihkan pondok,” pungkasnya. (Syarief Rahman/Ibnu Nawawi/nuonline)

LEAVE A REPLY