Sejarawan Inggris: Gus Dur dan Ahok seperti Soekarno dan Diponegoro

0
150

 

Kemunculan kedua tokoh itu terasah lewat kesulitan hidup rakyat pada masanya. Tokoh lain akan terus bermunculan untuk mewujudkan keadilan sosial itu di masyarakat yang mengalami tekanan. Mereka hadir pada masa karut-marut dan membuat perubahan, seperti Diponegoro dan Soekarno.

Menurut Peter, presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau dikenal sebagai Gus Dur merupakan salah satunya. Di balik kelemahannya secara fisik, Gus Dur memiliki dedikasi besar kepada keberagaman di negeri ini.Gus Dur menjadi sosok yang menjaga keberagaman dan semangat kebinekatunggalikaan.

Setelah Presiden Soeharto jatuh, kondisi negeri karut-marut dan melukai keadilan bagi kelompok minoritas. Gus Dur muncul dengan membuat banyak kebijakan yang menjadi landasan bagi kerukunan antar ras.

Saat itu, tekanan militer pada rakyat masih sangat kuat. Pasca-kerusuhan Mei 1998, Gus Dur mendorong banyak inisiatif, termasuk di antaranya mendorong etnis Tionghoa bisa memiliki hak yang sama dengan warga lain.

“Dia membuat landasan bagi dunia baru. Saat itu premanisme militer pada rakyat juga tidak bisa lagi,” kata Peter. Setelah sekian lama berselang, muncul lagi sosok Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Menurutnya, mantan Bupati Belitung itu memiliki karakter bicara spontan dan apa adanya seperti Diponegoro. Dengan gayanya, Ahok dinilai berjasa membuat perubahan bagi Kota Jakarta.

Setidaknya ini tampak dari pendapatan daerah yang melonjak berlipat. Menurut Peter, ini persoalan kemampuan administrasi sebagai bagian dari keahlian terpenting bagi seorang pemimpin yang membawa perubahan.

“Jangan bertanya ke saya bagaimana 4-5 tahun Jakarta bisa 4-5 kali lebih kaya,” kata Peter.

“Ini seperti Diponegoro yang jago administrasi, sangat tepat dan sangat ulung,” kata Peter.

Di era Joko Widodo menjadi presiden RI juga cukup banyak sosok pendobrak dalam situasi sulit. Ia mencontohkan Ignasius Jonan saat menjadi Menteri Perhubungan.

Peter mengenal perkembangan angkutan kereta api di negeri ini. Pada masa lalu, naik kereta seperti sebuah siksaan karena padat, penuh dengan orang berdagang, mengamen, dan sangat kotor.

“Sebagai seorang antropolog dan sosiolog (seperti Peter) mungkin menarik untuk satu dua kali naik dengan semua orang itu,” kata Peter.

Perubahan besar dibikin Jonan saat itu. Ia membawa segerbong tenaga profesional dengan wawasan perubahan mengganti jajaran lama dengan tenaga profesional baru. Hasilnya? “Tiap hari, kita ke Depok untuk mengajar setiap pukul 09.30. Saya bisa menepati janji. Itu dampak yang sangat terasa. Jonan membuatnya 3-4 tahun saja,” kata Peter.

Mereka merupakan beberapa contoh dari banyak tokoh di negeri ini yang juga memiliki aksi seperti Diponegoro dan Soekarno masa kini. Mereka mengupas ketidakadilan dan kesemerawutan dari hulu sampai hilir.

Menurut Peter, negara ini selalu memiliki harapan di masa depan dengan orang-orang pendobrak seperti mereka. “Berbuat dengan cara tegas tapi tidak brutal,” kata penulis buku Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa (1785-1855) ini.

Sejarah yang Bengkok

Sejarah Pangeran Harya Dipanegara atau disebut Diponegoro selama ini dinilai telah bengkok. “Diponegoro pemberontak” tercipta dari sejarawan masa lalu karena banyak keterbatasan.

Meski demikian, mengubah sejarah itu sangat sulit. “Kalau mau dikerjakan, betul-betul mengubah visi. Dan, visi pendidikan kita sudah berkarat jadi satu dan sulit mengubahnya,” kata Wardiman  Djojonegoro, salah satu pembicara di seminar ini.

Mantan Menteri Pendidikan RI di 1993-1998 mendapatkan buku Peter pada 2009. Buku itu mengungkap bahwa Diponegoro muncul karena empati melihat rakyat Jawa yang terus ditindas kolonial, sementara rasa nasionalismenya keraton merosot.

Buku tulisan Peter itu memiliki 1.000 halaman. Di dalamnya bisa ditemukan lebih dari 2000 catatan kaki lengkap dengan bahasa Jawa dan terjemahan. Buku karya Peter telah menunjukkan hasil riset mendalam, bukti, juga fakta dari berbagai arsip otentik terkait siapa sebenarnya Diponegoro.

“Betul-betul ilmuan berdasar fakta dan bukan blog (di internet) yang lebih banyak cerita legenda,” kata Wardiman.

Wardiman mengatakan, sejarah di Indonesia, termasuk Diponegoro, memang tergantung penguasa saat itu. Belanda sebagai pemenang perang mematrikan sejarah negeri ini dan ironinya diterima begitu saja selama ini.

Opini pun terbentuk bahwa Diponegoro memberontak karena patok-patok untuk pembuatan jalan di Tegalrejo mengganggu pesantrennya. Ia juga dianggap tidak senang menjadi sultan.

Pelajar sekolah dasar hingga atas mendapatkan materi serupa. “Tidak masuk akal hanya karena patok jadi perang sampai lima tahun,” kata Wardiman.

Menurut Wardiman, Kuasa Ramalan membuka wawasan. Dalam buku itu, Diponegoro muncul lantaran melihat ketidakadilan kolonial pada rakyat Jawa saat itu. Tindakan mereka di antaranya memanfaat warga keturunan Tionghoa untuk menarik cukai atas pemanfaatan jalan menuju desa-desa, membagi tanah lokal pada pendatang, ongkos produksi naik, sedangkan petani sebagai pekerja memperoleh ongkos murah, hingga peredaran opium yang dibawa kolonial saat itu.

Diponegoro semakin sedih ketika mendapati kerusakan moral di dalam keraton. Ia melihat perwira Belanda seenaknya membawa putri keraton hingga berbulan-bulan.

“Maka, perlu ada keadilan. Karena sejak 200-an tahun, rasa keadilan masyarakat Jawa itu jadi kuat. Berjuang dengan ratu adil itu pasti akan banyak yang mendukung,” kata Wardiman.

“Dia tidak semena-mena membuat perang. Tidak semena-mena memberontak karena makam diobrak-abrik. Tetapi dia mau memperjuangkan hak wong cilik karena sehari-hari dia hidup bersama orang kecil,” kata Peter.

Peter Carey menemukan sosok Diponegoro dalam diri Soekarno. Keduanya memiliki perjuangan dan gaya politik yang mirip. Keduanya juga lugas, mampu mengungkap gagasan, pandai berkomunikasi dalam berbagai pertemuan di berbagai level, ahli pidato, bisa negosiasi, dan sosok muda yang berapi-api.

Keduanya memiliki kapasitas pendidikan berbeda saat itu. Bung Karno orang terdidik. Diponegoro otodidak yang berguru di pesantren. Keduanya berkomunikasi lewat penampilan dan cara berpakaian, admistrator ulung, sangat hemat, dan suka menulis.

“Siapa pun yang mendengar Bung Karno dan bersentuhan dengan Diponegoro tidak akan melupakan mereka,” kata Peter.

Kmp

 

LEAVE A REPLY