Roti Buaya: Dulu Cuma Buat Pajangan, Kini untuk Makan-Makan

0
50
Roti Buaya
Roti Buaya

Nawacita – Roti buaya jadi seserahan yang wajib dibawa pengantin laki-laki untuk diserahkan ke mempelai perempuan sebagai simbol kesetiaan.

Sejarawan Betawi yang juga menjabat Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra mengatakan, makna roti buaya tak sekedar sebagai simbol kesetiaan, maupun memiliki umur panjang. Kata dia, para leluhur Betawi memaknai itu lebih jauh yakni sebagai penjaga sumber kehidupan.

Para leluhur Betawi terdahulu percaya, bahwa buaya merupakan mahluk siluman yang kerap muncul di sungai untuk menjaga ‘entuk’ atau sumber mata air. Keyakinan tersebut melekat dan diliengkapi dengan cerita rakyat seperti kisah buaya putih.

“Maka pemahaman itu dijadikan simbol oleh leluhur Betawi dan dijadikan salah satu serah-serahan wajib zaman dulu dalam pernikahan. Karena orang kawin itu bukan semata-mata melampiaskan hawa nafsu, tapi bagaimana melanjutkan kehidupan ini. Maka, dia kawin, dia bereproduksi, melahirkan anak, cucu dan melanjutkan kehidupan,” kata Yahya saat di temui di Jalan Rasuna Said Kuningan.

Menurut Yahya, ada perbedaan roti buaya dulu dengan sekarang. Dulu seserahan berbentuk buaya itu dibuat dengan menggunakan daun kelapa atau berbahan kayu. Biasanya, setelah menikah, sepasang buaya tersebut di pajang depan rumah atau di simpan di atas lemari sebagai hiasan.

Kehadiran VOC Belanda yang membuat perubahan bahan baku menjadi bahan roti. Saat itu, meski sudah berubah roti buaya tetap dibuat keras dan tawar tanpa rasa untuk tetap digunakan sebagai pajangan. Hal ini berubah seiring pemahaman Islam yang masuk dalam masyarakat Betawi.

Roti buaya pun kini dikenal dengan kelembutannya dan berbagai macam aneka rasa. Tak hanya itu, kini masyarakat Betawi sudah tidak lagi memajang roti tersebut melainkan lebih dibagi-bagi kepada tengga usai acara pernikahan.

“Dulu itu rotinya roti tawar sebagai mana dulu itu roti sebagai persembahan ke perempuan enggak dimakan tapi di pajang di depan rumah atau di lemari pajangan sampai habis dimakan sesek binatang pengerat,” paparnya.

Meski demikian, menurut Yahya hal itu tidak mengurangi substansi dari pada makna akan roti buaya.

Seorang masyarakat Betawi, Imam Kharmain menuturkan bahwa hampir seluruh keluarga besarnya masih melestarikan budaya membawa roti buaya saat acara pernikahan.

“Menjalani tradisi budaya sama halnya sebagai syiar melestarikan budaya. Itu semua kan yang nyaksiin bukan antara dua keluarga, tapi tetangga dan orang sekitar juga,” tuturnya saat ditemui di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

“Semata-mata hanya untuk mempertahankan salah satu budaya Indonesia, Betawi punye gaye,” pungkasnya.

oke

 

LEAVE A REPLY