Ribuan Mahasiswa Calon Penerima Beasiswa Kuliah Kebanggsaan Bersama Wakil Ketua MPR

0
31
Bupati Faida
Bupati Faida

Jember, Nawacita – Bupati Faida mengundang sekitar 2 ribu mahasiswa calon penerima beasiswa dari Pemkab Jember. Kali ini cukup istimewa, karena ribuan mahasiswa dari berbagai kampus itu mendapat Kuliah Kebangsaan dari Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah bertajuk “Bung Karno, Islam dan Pancasila”.

Ahmad Basarah mengapresiasi langsung program bagus Bupati Faida soal 5 ribu beasiswa bagi mahasiswa asli Jember dengan kriteria mahasiswa dari kalangan tidak mampu, berprestasi serta yatim piatu. “Kita acungi jempol program Bupati Faida. Mahasiswa adalah aset bangsa, maka aset bangsa juga adalah tanggungjawab negara, negara hadir dalam membentuk SDM, jiwa dan raga untuk masa depan bangsa,” kata Ahmad Basarah.
Dalam kesempatan itu, Ahmad Basarah berpesan dan mengingatkan kepada mahasiswa calon penerima beasiswa, bahwa mereka adalah penerus bangsa yang saat ini harus bergelut dengan pendidikan yang mencerdaskan dan sekaligus tantangan global seperti disinformasi soal hoax yang berpotensi memecah belah bangsa. “Seperti kata Bung Karno, para mahasiswa, bercita-citalah setinggi langit, kalau engkau jatuh maka diantara bintang-bintang. Seperti saya, cita-cita ingin jadi presiden, jatuhnya wakil ketua MPR. Seperti Bu Faida bercita-cita menjadi menteri kesehatan, jatuhnya jadi bupati Jember dulu. Jadi, mahasiswa sebagai aset bangsa kedepan harus punya visi kebangsaan untuk Indonesia,” ujar Ahmad Basarah.
Dalam Kuliah Kebangsaan sekitar satu jam itu, Ahmad Basarah juga menyinggung soal Pilkada Jakarta 2017 lalu, yang disebut sebagai awal terjadinya peningkatan intensitas kampanye berbasis politik identitas. Isu yang memanfaatkan sentimen suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) ini dikhawatirkan bakal kembali terulang di Pilkada 2018 yang digelar serentak pada akhir Juni tahun ini. Sehingga untuk mengatasi hal itu perlu upaya serius dari semua elemen bangsa, termasuk mahasiswa, agar penggunaan politik identitas tersebut tak terjadi lagi, karena berpotensi memecah belah keutuhan bangsa.
“Munculnya politik identitas [bernuansa SARA] dalam Pilkada ini merupakan kemunduran 89 tahun [demokrasi] di Indonesia. Kenapa? Karena sejak Sumpah Pemuda, pemuda-pemuda Indonesia sudah memikirkan tentang politik identitas. Dengan apa? Dengan identitas ke-Indonesia-an. Itulah mengapa tema yang saya ambil tadi adalah Persatuan Nasional,” kata Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah, usai memberi kuliah kebangsaan terhadap 2.000-an mahasiswa di Aula PB Soedirman Pemkab Jember, Jawa Timur, Minggu (15/4). Para mahasiswa ini adalah calon penerima beasiswa dari pemkab setempat.
Menurut Basarah, pada tahun 1928 kala itu, generasi muda Indonesia sudah memahami bahwa politik identitas dapat menghancurkan bangsa. Karena hal itu membuat Belanda berhasil memecah belah bangsa Indonesia dengan politik adu domba atau devide et impera. Kesadaran para pemuda inilah yang lantas mengilhami pemilihan Bahasa Melayu, yang kemudian menjadi Bahasa Indonesia, sebagai bahasa pemersatu. Meskipun saat itu, pelaksanaan Kongres Pemuda banyak dihadiri oleh Pemuda Jawa dan berada di Pulau Jawa.
“Bahasa yang dipilih itu Bahasa Melayu, bukan Bahasa Jawa. Kenapa? Karena mereka menyadari Bahasa Melayu ini adalah bahasa perdagangan yang dapat membuat Bangsa Indonesia menyatu dengan bahasa itu dan maju ke depan. Jadi kalau sekarang Pilkada menggunakan politik identitas, maka peradaban politik kita mundur melampaui tahun 1928. Dan ini yang harus kita peringatkan agar tidak terus dilanjutkan,” jelas politisi yang juga menjabat Wakil Sekjen PDIP tersebut.
Dalam kuliah yang juga dihadiri Dirjen Kumham Prof Widodo dan Direktur Puskapsi Unej Bayu Dwi Anggono itu, Ahmad Basarah menegaskan, seharusnya pertarungan perebutan suara dalam Pilkada harus diwarnai dengan adu gagasan dan program antar pasangan calon yang dapat memajukan bangsa. Bukan justru mengeksploitasi isu-isu bernuansa SARA maupun politik uang. Sebab menurut dia, kedua hal itu sangat bertentangan dengan semangat demokrasi yang tujuan akhirnya untuk menyejahterakan rakyat.
“Isu SARA akan berdampak panjang bagi kerusakan bangsa. Sedangkan money politic akan merusak bangsa dalam jangka pendek, karena kepala daerah yang terpilih itu pada umumnya terjerat kasus-kasus korupsi,” terangnya.
Lantas apa peran mahasiswa untuk menangkal eksploitasi politik identitas yang memanfaatkan isu SARA tersebut? Mengenai hal itu, pria 49 tahun ini meminta para mahasiswa untuk lebih cerdas sehingga dapat membedakan setiap informasi yang diterima. Apakah fakta atau fitnah, serta mana sesuatu yang bisa merusak bangsanya dan mana yang dapat membangun bangsanya.
Oleh karena itu, dia mengapresiasi program Bupati Jember, Faida, yang memberikan ribuan beasiswa bagi mahasiswa asal kabupaten setempat. Karena menurut Basarah, program itu merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan amanah pembukaan UUD 1945. Sebab dengan kecerdasan yang dimiliki, segala macam upaya untuk memecah belah bangsa melalui politik adu domba, berita hoaks dan fitnah itu bisa ditangkal.
“Jadi kata kunci yang pertama adalah dengan kecerdasan para mahasiswa. Karena mereka adalah calon-calon para pemimpin bangsa,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Faida, menyatakan, sebagai calon pemimpin bangsa dan dunia, para mahasiswa ini perlu mendapat suntikan semangat dari sejarah pendiri bangsa. Oleh karenanya, Pemkab Jember menghadirkan Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah untuk menyampaikan kuliah kebangsaan di hadapan mahasiswa tentang sejarah perjuangan merebut kemerdekaan, juga upaya mempertahankan Indonesia dari berbagai ancaman disintegrasi.
“Sehingga para mahasiswa ini terlecut semangatnya. Dan ketika lulus nanti dapat bermanfaat bagi keluarga, lingkungan, serta turut membangun daerah dan negaranya,” tandas Bupati Faida.
jmb

LEAVE A REPLY