Potensi Penantang Kuat Jokowi dari Luar Parpol

0
42
Presiden RI Jokowidodo
Presiden RI Jokowidodo

Nawacita – Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menyebut lawan kuat bagi Presiden Joko Widodo di pilpres 2019 lebih banyak berasal dari tokoh di luar partai politik ketimbang dari internal partai.

“Jadi lawan tandingnya malah bertambah banyak, bukan semata-mata hanya Prabowo lagi, saya menyebut ada empat nama yang kesemuanya [potensial] berkembang, dan itu di luar partai politik semuanya,” ujar Syamsudin saat menghadiri diskusi Para Syndicate, Jakarta Selatan, Jumat (6/7).

Syamsudin lantas menyebut empat nama yang dapat menjadi lawan berat bagi Jokowi di pilpres 2019. Mereka adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab.

Syamsudin menilai sosok Anies patut diwaspadai Jokowi jika dia ikut mencalonkan diri di pilpres 2019.

Sebab menurutnya, Anies memiliki modal sebagai figur yang dapat memaikan dan memobilisasi isu politisasi agama dan SARA di tengah masyarakat dalam perhelatan pemilu.

“Yang kita tahu figur Anies itu bisa menjadi sumber mobilisasi isu, khususnya isu hubungannya dengan sebut saja politisasi agama atau mobilisasi isu berbasis SARA,” ujarnya.

Selain itu terdapat nama Jusuf Kalla yang dinilai masih memiliki pengaruh kuat di kalangan kelompok Islam maupun masyarakat Indonesia di bagian timur.

“Pak JK bisa muncul lagi sebagai lawan tanding Jokowi, karena Pak JK di peraturan masih punya peluang jadi capres,” ujarnya.

Selain itu, terdapat nama Gatot Nurmantyo dan Rizieq Shihab yang bisa menjadi calon alternatif dan berpotensi menjadi lawan berat Jokowi di pilpres 2019.

Syamsudin menilai kedua tokoh tersebut perlu dipertimbangkan karena memiliki elektabilitas calon presiden atau calon wakil presiden yang cukup memadai berdasarkan hasil penelitian beberapa lembaga survei politik.

Survei Indobarometer menyebut nama Gatot masuk tiga besar nama cawapres dengan elektabilitas tertinggi. Angkanya sebesar 7,9 persen di bawah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 15,1 persen dan Anies Baswedan 13,1 persen.

Sementara Survei Indikator menempatkan Rizieq hanya memiliki elektabilitas di angka 0,8 persen sebagai capres pada simulasi semiterbuka. Meski begitu, Rizieq dinilai memiliki pengikut fanatik yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Ketika negosiasi antartokoh di lingkungan opsisi gagal, mau enggak mau Habib Rizieq atau Gatot akan ditengok sebagai calon alternatif untuk mengalahkan Jokowi,” ujadnya.

Masalah Tiket Parpol

Syamsudin menilai semua tokoh tersebut tak bisa mencalonkan jika tak memiliki tiket dukungan partai politik di pilpres 2019 mendatang

Aturan soal ambang batas presiden mengamanatkan partai politik atau gabungan parpol harus memiliki 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah nasional pada pemilu 2014 guna mengusung pasangan calon presiden.

Ia lantas menilai sosok JK dan Anies sangat ideal menjadi penantang terkuat Jokowi di pilpres mendatang. Akan tetapi, faktor dukungan partai politik bakal menjadi batu sandungan bagi kedua tokoh tersebut untuk maju di pilpres 2019.

Syamsudin mengatakan Partai Golkar yang pernah dipimpin JK pada 2009 dinilai tak akan memberikan ‘tiket’ dukungan pencalonan tersebut di pilpres 2019.

“Kalau Anies jadi wapres dan JK jadi Capres, itu lebih menantang bagi Jokowi tapi sulit mendapatkan dukungan parpol pengusung, ya,” kata Syamsudin.

“Apalagi Partai Golkar lebih memilih Jokowi dibanding mendukung Pak JK, ini didasarkan pengalaman pada pemilu 2004 dan 2014 lalu, JK enggak didukung Golkar,” tambahnya.

Sama halnya dengan Gatot, Syamsudin menilai manuver lobi politik mantan Panglima TNI itu ke berbagai partai politik belum terlihat maksimal.

“Dia enggak punya parpol, Gatot ini kan tokoh yang jual mahal, enggak mau dia komunikasi intensif dengam parpol, mestinya dia lobi intensif itu dilakukan,” ujarnya.

cnn

 

 

LEAVE A REPLY