Penawaran IPO Terbesar di Dunia Kemungkinan Molor Jadi Tahun Depan

0
62
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jakarta, Nawacita – Rencana penjualan saham perusahaan minyak raksasa dunia, Saudi Aramco diperkirakan molor hingga 2019. Padahal penawaran saham ke publik (Initial Public Offering/IPO) ini diharapkan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.

Saudi Aramco mengatakan bahwa pihaknya terus meninjau opsi untuk rencana tersebut. Pihaknya pun enggan merinci dengan pasti kapan waktu yang tepat untuk melakukan IPO.

Terdapat beberapa alasan yang membuat perusahaan menunda IPO hingga tahun depan, antara lain target IPO dan kesepakatan, harga minyak yang diharapkan bisa lebih tinggi, dan meningkatkan pasar modal Arab Saudi.

Pemerintah Arab Saudi selaku pemilik modal BUMN migas tersebut menargetkan nilai IPO hingga US$ 2 triliun. Akan tetapi, jika dilepas hanya 5% menjadi sekitar US$ 100 miliar atau lebih kecil dari IPO sebelumnya termasuk Alibaba US$ 25 miliar di 2014.

Selain besarnya kesepakatan, Arab Saudi ingin menggabungkan daftar di bursa efek domestiknya dengan IPO di pasar global utama seperti London, atau New York. Ini juga memiliki risiko hukum yang besar untuk dipertimbangkan.

“Proses pengadilan dan pertanggungjawaban merupakan perhatian besar di AS dan bahwa pejabat tidak mau tunduk pada raksasa minyak tersebut untuk risiko tersebut,” kata Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al Falih seperti dikutip dari CNN Money, Selasa (13/3/2018).

Alibaba dan Facebook pada 2012, membutuhkan waktu antara enam dan sembilan bulan untuk menyelesaikan persiapan peraturan dan kepatuhan dan roadshow investor menjelang IPO mereka.

“Jika sebuah keputusan tidak dibuat pada bulan April, maka IPO akan dipastikan akan tergelincir sampai 2019 karena semua perencanaan dan lead time dibutuhkan,” kata analis pasar modal.

Selain itu, harga minyak juga perlahan merangkak naik sejak anjlok US$ 26 per barel di awal 2016. Harga minyak mentah saat ini diperdagangkan di atas US$ 60 per barel, namun masih jauh dari US$ 100 per barel seperti di 2014.

“Mereka mungkin juga ingin melihat harga minyak agak tinggi karena ini akan membantu valuasi. Sebagian besar prakiraan menunjukkan harga minyak yang lebih tinggi di tahun 2019, termasuk di antaranya,” kata Kepala Ekonom Samba Financial Group James Reeve.

OPEC, yang dipimpin oleh Arab Saudi, dan sekutunya seperti Rusia telah memotong produksi minyak sejak Januari 2017 untuk mengurangi pasokan global. Mereka sepakat pada bulan November untuk memperpanjang pemotongan produksi sampai akhir 2018.

Badan Energi Internasional mengatakan pekan lalu bahwa produksi minyak dari Amerika Serikat (AS), Brasil, Kanada, dan Norwegia, dapat membuat kebutuhan dunia terpenuhi dengan baik, lebih dari sekadar memenuhi pertumbuhan permintaan minyak global hingga tahun 2020.

Selain itu, Saudi Aramco akan mencatatkan saham perdananya di bursa saham kerajaan sendiri, Tadawul, di Riyadh. Akan tetapi sebelum melanjutkan IPO, Al Falih mengatakan bahwa kerajaan tersebut tengah menunggu Tadawul diberikan status emerging market oleh MSCI.

Jika MSCI puas dengan reformasi pasar, status baru ini diharapkan bisa mengubah bursa efek Saudi di mata investor, dan menarik puluhan miliar dolar uang asing.

dtk

LEAVE A REPLY