KPK: Pemeriksaan Emirsyah Hanya Soal Waktu

0
119
Komisi Pemberantasan Korupsi.
Komisi Pemberantasan Korupsi.

Jakarta, NawacitaKomisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih belum merampungkan berkas penyidikan kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Hingga kemarin (Kamis, 8/3/2018) KPK masih sibuk melakukan pemeriksaan terhadap saksi. Namun, KPK belum juga melakukan pemeriksaan terhadap mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar (ESA) sebagai tersangka.

Juru Bicara KPK Febri Dianyah mengakui jika pihaknya cukup kesulitan mengumpulkan bukti korupsi Emirsyah.

“Sebenarnya kasus ini tidak rumit ya tapi memamg ada kompleksitas ketika kita bicara lintas yuridiksi itu yang paling membuat kita membutuhkan waktu karena bukti-bukti masih ada di luar negari juga,” kata Febri kepada wartawan, Jumat (9/3/2018).

KPK harus berkoordinasi dengan Otoritas Singapura sampai Inggris yang juga ikut membantu KPK. “Tinggal proses-proses formil yang perlu kita cermati,” ujarnya.

Pemanggilan Emirsyah sebagai tersangka urusan waktu saja. “Nanti kalau sudah dibutuhkan keterangannya, akan dijadwalkan,” tandasnya.

Sepanjang proses penyidikan kasus ini, sejumlah saksi yang diduga mengetahui kasus ini sudah diperiksa penyidik. Bahkan, tiga saksi mahkota yakni Sallyawati Rahardja, Hadinoto Soedigno, dan Agus Wahjudo pun telah dicegah KPK.

Tak hanya itu, KPK juga telah menggeladah sejumlah lokasi yang berkaitan dengan praktik rasuah di PT Garuda Indonesia tersebut. Lokasi yang digeledah di antaranya Wisma MRA, kantor perusahaan milik Soetikno Soedardjo dan PT Dimitri Utama Abadi, anak perusahaan dari PT Mugi Rekso Abadi, yang bergerak dalam bisnis jasa transportasi udara.

KPK telah menetapkan Emirsyah Satar dan Soetikno Soedardjo selaku bos Mugi Rekso Abadi (MRA) Grup sekaligus Beneficial Owner Connaught Intenational sebagai tersangka. Keduanya disinyalir telah melakukan tindak pidana korupsi dengan perusahaan Rolls Royce dan Airbus terkait pengadaan mesin dan pesawat untuk PT Garuda Indonesia.

Emirsyah Satar diduga telah menerima suap dari Soetikno dalam bentuk uang dan barang dari Rolls Royce. Emiryah Satar diduga menerima 1,2 juta Euro dan USD180 ribu atau setara Rp20 miliar sedangkan barang yang diterima senilai USD2 juta dan tersebar di Singapura dan Indonesia.

Atas dugaan itu, Emirsyah Satar sebagai penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b dan atau Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1991 sebagaimana telah diubah dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Sedangkan Soetikno selaku pemberi suap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1991 sebagaimana telah diubah dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

inlh

LEAVE A REPLY