Karya Itu Bernama Al-Khairaat by Ruslan Sangaji – PALU

0
168
Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi ayahanda habib Anis solo) dan Habib Idrus bin Salim Al-jufri (pendiri Ponpes Al-Khairat Palu-Sulawesi) bersama kakek kami. Foto : http://majelisalmunawwarah.blogspot.com

Dibuat menyambut Haul Habib Idrus Bin Salim Al-Jufri ke 50

Karya-karyanya sudah terlalu banyak. Salah satu karya terbesarnya adalah Alkhairaat. Bagi masyarakat Indonesia Timur, tidak asing lagi dengan nama ini. Pasalnya, lembaga pendidikan Islam ini tersebar hingga ke pelosok-pelosok di seantero Indonesia Timur. Mulai dari Palu hingga ke Papua. Bahkan di Jakarta dan Surabaya pun telah berdiri perwakilannya.

Lantaran itu, jika orang menyebut Alkhairaat, maka yang akan terbersit di ingatan masyarakat, adalah nama Habib Idrus bin Salim Aljufri. Di kalangan abnaul alkhairaat (anak-anak Alkhairaat) menyebutnya dengan sebutan Ustadz Tua (akhir-akhir ini disebut Guru Tua). Seorang ulama ternama yang lahir di Taris, Hadrmaut, Yaman Selatan pada 14 Sya’ban 1319 Hijriah atau 18 Maret 1891 Miladiah.

Ustadz Tua dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beragama dan cinta ilmu pengetahuan, anak kedua dari pasangan Sayed Salim bin Alawy –seorang mufti di Hadramaut– dengan Andi Syarifah Nur– putri keturunan seorang raja di Sulawesi Selatan, yang bergelar Arung Matowa Wajo– ini sarat dengan pengetahuan keagamaan. Sejak muda Guru Tua dikenal memiliki wawasan yang luas dan sudah menghafal Alquran. Beliau juga ahli di bidang Fiqhi (hukum Islam).

Karena terjadi pergolakan politik di negaranya ketika itu, akhirnya ia dibuang oleh Inggris dan disuruh meninggalkan Yaman Selatan. Karena kerinduannya pada daerah ibunya, akhirnya Habib Idrus bin Salim Aljufri memilih ke Batavia (Jakarta).

Di Batavia-lah, pertama kali Habib Idrus bin Salim Aljufri memainkan peran pertama kali. Sejak saat itu, aktivitasnya pun terbilang cukup padat. Ia berpindah dari satu mimbar ke mimbar lainnya untuk mengajarkan agama kepada umat ketika itu. Tahun 1926, menjadi tahun penuh kesibukan Sang Ustadz Tua.

Dari situ pula, Habib Idrus bin Salim Aljufri berkenalan dan menjadi teman diskusi dengan pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, di Jombang, Jawa Timur. Keduanya kerap kali terlibat dalam pembicaraan, bahkan perdebatan sekitar masalah agama hingga upaya meningkatkan kualitas umat Islam melalui jalur pendidikan di pesantren.

Tidak hanya itu. Habib Idrus bin Salim Aljufri, melanjutkan lagi dakwah ke Solo, Jawa Tengah dan ia dipercaya membina madrasah Al Rabithah Al Alawiyah cabang Solo. Selain sebagai pengajar, ia juga ditunjuk sebagai kepala sekolah tersebut. (Kini, lembaga pendidikan Al Rabithah Al Alawiyah berubah nama menjadi Yayasan Pendidikan Islam Diponegoro).

Habib Sagaf bin Muhammad bin Salim Aljufri, cucu Habib Idrus bin Salim Aljufri, mengatakan, saat itu, di Jawa sudah sangat banyak ulama dan habaib. Akhirnya, tahun 1929, Habib Idrus bin Salim Aljufri kemudian memilih mengajarkan agama di kawasan timur Indonesia. Ia memulai perjalanan ke Ternate, Maluku Utara. Beberapa saat di daerah kesultanan Islam itu, Habib Idrus bin Salim Aljufri kemudian memilih melanjutkan perjalanan lagi ke Donggala, Sulawesi Tengah.

Di Donggala ketika itu, masyarakat masih hidup dalam kepercayaan animisme dan dinamisme. Habib Idrus bin Salim Aljufri berpikir, ia harus mengajak umat di Donggala untuk memeluk Islam. Akhirnya, ia mendekati para tokoh masyarakat setempat, sampai akhirnya menikah dengan putri Donggala dari keturunan raja setempat.

“Beberapa saat kemudian, Guru Tua menyampaikan keinginannya untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam,” kata Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri yang juga Ketua Utama Alkhairaat itu.

Gagasan itu disambut positif para tokoh masyarakat. Maka berdirilah sebuah madrasah yang diberi nama Alkhairaat. Madrasah Alkhairaat yang pertama ini diresmikan pada 14 Muharram 1349 atau 1930 masehi. Dari situlah, cikal bakal berdirinya ribuan madrasah dan sekolah Alkhairaat di kawasan Timur Indonesia.

Kini, Habib Idrus bin Salim Aljufri telah tiada. Beliau telah wafat pada hari Senin 12 Syawal 1389 Hijriyah atay 22 Desember 1969. Sang Guru Tua hanya bisa meninggalkan karya besar yang tak bergerak bernama Yayasan Pendidikan Islam Alkhairaat dan karya bergerak, yaitu ratusan ribu santri dan alumni Alkhairaat.

“Suatu ketika beliau ditanya soal karya berupa buku, beliau hanya menjawab, karya ku adalah Alkhairaat dan murid-muridku yang selalu mengajarkan agama kepada umat,” kata Habib Idrus bin Salim Aljufri.

HAUL

Setiap tahun di bulan Syawwal tahun Hijriyah, abnaulkhairaat memperingati hari mangkatnya Ustadz Tua, atau yang disebut Haul. Tahun imi, akan dilaksankan pada 30 Juni 2018 di halaman Alkhairaat Jalan SIS Aljufri Palu.

Acara Haul Ustadz Tua itu juga, sekaligus sebagai temu kangen atau reuni ribuan alumni Alkhairaat dari seluruh pelosok negeri, bahkan dari Malaysia dan Brunei Darussalam akan membanjiri Palu.

Dari tahun ke tahun juga, jumlah jamaah terus bertambah. Informasi dari pihak kepolisian, dari alat hitung yang mereka gunakan, tahun 2016 jumlah jamaah lebih 7 ribu orang, tahun 2017 lebih 10 ribu orang, dan diperkirakan tahun ini meningkat menjadi 15 ribu orang.

Tiap tahun, pejabat negara juga hadir dalam acara itu. Tahun ini, Panglima TNI, Kapolri dan beberapa lainnya telah memgkonfirmasi untuk hadir.

Semoga kehadiran semua pihak makin membesarkan Alkhairaat dan terus bermanfaat bagi ummat di Nusantara ini.

Salam

Ruslan Sangaji, Palu Sulawesi Tengah – Juni 2018

Haul Habib Idrus Bin Salim Al-Jufri ke 50 digelar setiap tanggal 30 Juni

LEAVE A REPLY