Sudah Disuntik, BPJS Kesehatan Masih Tinggalkan Defisit Rp15,5 Triliun

0
51
Menkeu Usul Tambah Anggaran untuk Kenaikan Gaji PNS Rekrutan Baru.
Sri Mulyani MenKeu

JAKARTA, Nawacita – Kementerian Keuangan menyebut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan masih mengalami defisit sekitar Rp15,5 triliun. Meskipun pemerintah sudah memberikan suntikan dana sekitar Rp13,5 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, defisit BPJS kesehatan semula diprediksi mencapai Rp32,4 triliun. Namun dikarenakan pemerintah memberikan injeksi sebesar Rp13,4 triliun maka angka defisit berkurang.

“Kenaikan itu masih menyisakan sampai dengan akhir Desember BPJS Kesehatan meski sudah diberikan Rp13,5 triliun masih gagal bayar Rp15,5 triliun,” ujarnya saat ditemui di Komplek DPR-RI, Jakarta, Selasa (18/2/2020).

Oleh karena itu lanjut Sri Mulyani, dirinya berharap jika kenaikan iuran bisa tetap dilakukan. Hal tersebut demi kelanjutan pelayanan kesehatan murah yang diberikan kepada masyarakat.

“Kami mohon pembahasan ini bukan hanya masalah satu aspek. Kalau Dewan dan Pemerintah peduli sistem jaminan kesehatan berkelanjutan kita lihat seluruh aspek. Oleh karena itu dengan Perpres 75 kiamat sudah transfer Rp13,5 triliun kepada BPJS sebelum akhir 2019. Untuk kurangi defisit yang estimasi Rp32 triliun,” jelasnya.

Bahkan menurut Sri Mulyani, demi menutupi defisit tahun lalu, BPJS Kesehatan meminta kepada pemerintah untuk membayar iuran PBI bisa dibayar di awal. Karena angka defisit yang terjadi pada tahun lalu belum tertutupi meskipun sudah diberikan injeksi.

“Ini BPJS Kesehatan masih defisit makanya kirim surat ke kami untuk minta seluruh PBI dibayar di depan,” ucapnya

Untuk tahun 2020 sendiri, pemerintah memperkirakan jika keuangan BPJS Kesehatan akan mengalami surplus mencapai Rp 17,2 triliun. Angka itu didapat dari penyesuaian iuran premi seluruh kelompok, konsistensi BPJS Kesehatan menjalankan bauran kebijakan atas rekomendasi BPKP, potongan cukai rokok, dan intersep DAU atas tunggakan Pemda.

okzone

LEAVE A REPLY