Berkat China, Rupiah Terbaik Kedua di Asia

0
41
Ilustrasi

Jakarta, Nawacita – Nilai tukar rupiah berakhir menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Senin (17/2/2020) meski tertekan sepanjang perdagangan.

Rupiah membuka perdagangan dengan stagnan di Rp 13.670/US$, tetapi tidak lama langsung masuk ke zona merah. Pelemahan rupiah sebenarnya tidak besar, hanya 0,15% di Rp 13.690/US$, tetapi banyaknya sentimen negatif mempersulit rupiah untuk berbalik menguat.

Beberapa menit sebelum pasar dalam negeri ditutup, rupiah baru bisa membalikkan posisi dan mengakhiri perdagangan di level Rp 13.650/US$, atau menguat 0,15% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Penguatan tersebut sekaligus menjadikan rupiah mata uang dengan kinerja kedua di Asia. Hingga pukul 16:05 WIB, hanya rupee India yang lebih baik dengan penguatan 0,21%.

Mata uang utama Asia bervariasi melawan dolar AS pada hari ini, berikut pergerakannya:

Dolar AS vs Mata Uang Utama Asia

Chart: Putu Agus Pransuamitra Source: Refinitiv

Sentimen negatif datang dari eksternal dan internal. Dari eksternal, wabah virus corona yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda membuat sentimen pelaku pasar memburuk.

Berdasarkan data satelit pemetaan ArcGis dari John Hopkins CSSE, korban meninggal akibat virus corona atau yang disebut Covid-19 kini mencapai 1.775 orang dan telah menjangkiti lebih dari 71.000 orang di berbagai negara.

Masih belum diketahui seberapa besar dampak virus corona ke pertumbuhan ekonomi China dan global umumnya, yang pasti akan melambat. Hasil riset S&P memprediksi produk domestik bruto (PDB) Negeri Tiongkok akan terpangkas hingga 1,2%.

Kemudian, Reuters melakukan jajak pendapat terhadap 40 ekonom yang hasilnya pertumbuhan ekonomi China kuartal I-2019 diperkirakan 4,5% jauh melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 6%. Untuk pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020, proyeksinya adalah 5,5% atau jauh melambat dibandingkan realisasi 2019 yang sebesar 6,1%.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menyatakan virus corona mungkin akan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global di tahun ini. “Mungkin ada pemotongan yang kami masih harapkan berada dalam persentase 0,1-0,2,” kata direktur pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, dikutip dari AFP akhir pekan lalu.

Pelambatan ekonomi global menjadi kabar buruk bagi rupiah. Di awal tahun ini, rupiah menunjukkan keperkasaan, bahkan sempat menjadi mata uang berkinerja terbaik dunia. Salah satu sebabnya adalah pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi bangkit tahun ini, sehingga aliran modal deras masuk ke Indonesia, karena asetnya membagi imbal hasil tinggi.

Dengan perekonomian global yang diprediksi melambat, tentunya sentimen pelaku pasar memburuk dan lebih berhati-hati. Apalagi Indonesia tidak lepas dari pelambatan ekonomi juga.

Bank Dunia mengatakan pelambatan ekonomi China sebesar 1% dapat membuat ekonomi Indonesia melambat 0,3%. Itu artinya, perekonomian Indonesia bisa melambat lebih dari 0,3% di kuartal I-2020, dampaknya pasar finansial dalam negeri mendapat tekanan.

Selain itu, kepala ekonom BCA juga mempredikisi pertumbuhan ekonomi di 2020 akan di bawah 5%, sementara untuk kuartal I-2020 diperkirakan berada dalam kisaran 4,6% sampai 4,9% pada kuartal I-2019.

“Kemungkinan full year juga akan di bawah 5%. Karena epidemi ini belum tuntas, dan kita sudah kehilangan momen di satu semester ini,” kata David saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (17/2/2020).

Sementara itu dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Januari 2019 mencapai US$ 13,41 miliar. Sedangkan impor pada periode yang sama mencapai US$ 14,28 miliar. Ekspor terkoreksi 3,71% sedangkan impor turun 4,78% sehingga membukukan defisit sebesar US$ 870 juta.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia menghasilkan nilai median pertumbuhan ekspor di 1,37% year-on-year (YoY). Sementara impor masih menunjukkan kontraksi (pertumbuhan negatif) sebesar 6,24% YoY. Lalu neraca perdagangan diperkirakan tekor US$ 152 juta.

Membengkaknya defisit tersebut menambah tekanan bagi rupiah pada hari ini, sehingga cukup berat untuk bisa menguat.

Namun di balik semua sentimen negatif tersebut, terselip satu hal positif. Bank sentral China (People’s Bank of China/PBoC) sekali lagi bertindak guna meredam dampak wabah Covid-19 terhadap perekonomian.

PBoC mengumumkan penurunan suku bunga Medium-term Lending Facility (MLF) tenor setahun dari 3,25% menjadi 3,15% guna menambah likuditas di pasar, sehingga roda perekonomian bisa berputar. Penurunan MLF hari ini diyakini pelaku pasar sebagai pembuka jalan pemangkasan Loan Prime Rate (LPF) yang akan diumumkan Kamis pekan ini.

Bulan kali ini saja PBoC menggelontorkan stimulus, di awal bulan lalu suku bunga reverse repo tenor 7 hari diturunkan menjadi menjadi 2,4%, sementara tenor 14 hari diturunkan menjadi 2,55% guna meredam gejolak finansial akibat virus corona. Selain itu, PBoC menyuntikkan likuiditas senilai 1,7 triliun yuan (US$ 242,74 miliar) melalui operasi pasar terbuka.

Berkat kebijakan tersebut, sentimen pelaku pasar sedikit terangkat, indeks Shanghai Composite bahkan melesat lebih dari 2%. Namun bursa Asia belum kompak hari ini, beberapa indeks utama seperti Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan masih melemah.

Hal tersebut mengindikasikan pelaku pasar masih berhati-hati, dan belum agresif masuk ke aset berisiko. Kehati-hatian pelaku pasar tersebut juga membuat rupiah tertekan sepanjang perdagangan sebelum akhirnya menguat beberapa menit jelang penutupan perdagangan.

cnbc

LEAVE A REPLY