HIPMI Dorong ‘Link and Match’ Pendidikan Vokasi dengan Dunia Usaha

0
543

Jakarta, Nawacita – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mendorong terciptanya ‘link and match’ antara pendidikan vokasi yang ada di seluruh Tanah Air, dengan kebutuhan dari dunia usaha atau industri.

Ketua Bidang 9 (Tenaga Kerja, Vokasi, dan Kesehatan) Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI, Sari Pramono mengungkapkan bahwa pada saat ini banyak pengusaha yang masih belum mendapatkan informasi terkait pendidikan vokasi yang ada di Indonesia, mulai dari kurikulum hingga kompetensi lulusannya.

“Kita melihat sekarang ini pendidikan vokasi ini belum tersosialisasi dengan baik, para pengusaha belum tahu. Jadi kita melihatnya link and match-nya tuh belum ketemu,” kata Sari saat dihubungi Nawacita.co dari Jakarta, Minggu (16/2/2020).

Menurut dia, pada saat ini kebanyakan pengusaha lebih memilih menggunakan jasa headhunter, untuk mencari orang atau kandidat pekerja. Namun headhunter itu sendiri pun mungkin masih awam dengan lulusan pendidikan vokasi.

Untuk diketahui, headhunter adalah sebuah perusahaan, lembaga, organisasi atau perorangan yang mencari, memilih dan menempatkan orang berkualifikasi atau professional di suatu posisi dalam perusahaan.

“Headhunter juga belum tentu ngambil dari SMK atau pendidikan vokasi lainnya kan. Nah sebenarnya juga perlu mengajak kerjasama dengan headhunter, supaya mereka juga bisa menginventarisir lulusannya yang siap berapa, CV-nya seperti apa,” ujarnya.

HIPMI pun sependapat dengan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, yang mengatakan Indonesia perlu memiliki komite vokasi, yang dapat mengarahkan pendidikan vokasi di berbagai daerah agar dapat lebih bersinergi dengan dunia usaha.

“Jadi para lulusan pendidikan vokasi itu nantinya bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Dan tidak hanya di dalam negeri, bisa juga mereka ke luar negeri, seperti hotel-hotel, kapal pesiar, atau yang lainnya,” tutur Sari.

Lebih lanjut dia mengingatkan, bahwa dalam hal penyerapan para lulusan pendidikan vokasi itu, pemerintah pun juga harus turun tangan dalam menjaga iklim usaha yang kondusif. Sehingga lapangan pekerjaan pun bisa bertambah banyak.

“Iklim usaha kenyataan di lapangan juga lagi susah nih. Makanya harus kita perkuat, supaya lapangan kerjanya juga sustain. Sekarang ini saja lulusan S1 saya lihat banyak yang susah cari kerja, makanya ini harus benar-benar kita seriusin,” ucapnya.

Terlebih saat ini perkembangan teknologi sudah sangat pesat, sehingga banyak industri yang beralih dari manual menjadi semi-otomasi atau otomasi penuh. Maka tantangan para calon pekerja di masa yang akan datang pun dipastikan semakin berat.

“Apalagi nanti katanya akan terjadi bonus demografi, maka kita harus saling mendukung, pemerintah dengan dunia usaha. Intinya harus tetap berdampingan, bagaimana caranya mempersiapkan bonus demografi mendatang,” tukas Sari.

Usulan dan pendapat dari HIPMI ini sebelumnya telah disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI beberapa waktu lalu. Untuk saat ini, HIPMI akan mendukung pemerintah dengan mendata kebutuhan para anggotanya.

RSA

LEAVE A REPLY