Bamsoet Puji Pidato Puan Maharani Terkait Revolusi Industri 5.0

0
104
Ketua DPR RI Puan Maharani saat menerima Penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan atau Doctor Honoris Causa dari Universitas Diponegoro.
Ketua DPR RI Puan Maharani saat menerima Penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan atau Doctor Honoris Causa dari Universitas Diponegoro.

JAKARTA, Nawacita – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) memuji pidato Ketua DPR RI Puan Maharani saat menerima Penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan atau Doctor Honoris Causa dari Universitas Diponegoro yang mengangkat tentang Konsep Industri atau Society 5.0 yang telah berada di depan mata meninggalkan Revolusi Industri 4.0.

Seperti diketahui, Revolusi Industri 4.0 walau sudah hampir berjalan sembilan tahun, perkembangannya di Indonesia sangat lambat. Dilansir dari beberapa media dan jurnal tertentu, baru sedikit instansi yang melek perubahan sosial ini yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk langkah konkret perubahan ke arah kemajuan.

“Indonesia memiliki PR besar dalam merespons revolusi industri atau Society 5.0. Di mana peran pemerintah sangat besar. Baik dalam segi pendidikan maupun dari sisi kemampuan aparatur pemerintah dan para pengusahanya dalam menghadapi perubahan sosial ini. Apalagi Indonesia mempunyai visi Indonesia Emas pada 2045 yang harus mampu bersaing dengan bangsa lain serta dapat menyelesaikan masalah-masalah kebangsaan seperti korupsi dan kemiskinan,” ujar Bamsoet –sapaan akrabnya– di UNDIP, Semarang, Jawa Tengah, Jumat 14 Februari 2020.

Baca Juga: Ketua MPR Ajak Tim Medis dan Kementerian Kesehatan Bahas Corona

Bamsoet berharap Puan menjadi inspirasi dan lokomotif dalam Konsep Industri 5.0 yang dapat diartikan sebagai suatu konsep masyarakat yang berpusat kepada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based).

“Puan Maharani adalah satu dari sedikit perempuan Indonesia yang berani mendobrak stigma bahwa perempuan Indonesia tak memiliki kualitas untuk tampil dalam kehidupan politik kebangsaan. Sebagaimana juga sudah ditunjukkan ibunya, Megawati Soekarnoputri; dan neneknya, Fatmawati. Mereka adalah perempuan yang luar biasa, yang sudah menyinari Indonesia,” ujarnya.

Wakil ketua umum KADIN Indonesia ini menerangkan bahwa kemanusiaan, kemajuan teknologi dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Tiga kekuatan tersebut merupakan modal besar bagi Indonesia menjemput seratus tahun kemerdekaan pada 2045.

“Fokus Presiden Joko Widodo yang pada periode kedua ini fokus kepada pembangunan sumber daya manusia, sejalan dengan visi DPR RI maupun MPR RI. DPR RI kini dipimpin Puan yang sebelumnya adalah Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan akan sangat membantu Presiden Joko Widodo mengimplementasikan visi pembangunan SDM. Begitupun dengan MPR RI yang sejak dahulu menggaungkan Empat Pilar MPR RI yang notabene merupakan warisan (alm) Taufik Kiemas ayahanda Puan,” jelasnya.

Terkait kebudayaan, ia menuturkan bahwa peranan kebudayaan dalam pembangunan nasional semakin kuat dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan serta Strategi Kebudayaan. Sehingga, proses pendidikan tidak semata pencerdasan secara intelektual saja, tetapi juga pematangan emosional sosial dan spiritual yang memperkuat karakter bangsa sesuai nilai-nilai Pancasila.

“Pendidikan karakter harus ditujukan untuk membentuk sumber daya manusia berakhlak mulia, memiliki tanggung jawab tinggi, serta budi pekerti luhur. Selain, meningkatkan ketahanan budaya dan mengambil peran penting dalam persaingan global,” tuturnya.

Baca Juga: Bamsoet akan Patuhi Instruksi Larangan Keluar dari Jakarta

Dia menambahkan, hadirnya Generasi Z saat ini harus menjadi perhatian serius dunia pendidikan. Penerapan pendidikan berbasis teknologi digital menjadi keniscayaan, tetapi tetap dengan mengikuti budaya dan adat istiadat bangsa Indonesia.

“Pengoptimalan tiga pusat pendidikan, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat tetap dilakukan. Ketiga faktor tersebut harus saling mendukung dan menguatkan. Penanaman nilai-nilai budaya, nilai-nilai kebangsaan dan Pancasila juga harus terus ditanamkan kepada para generasi millenial dan gen Z,” jelasnya.

Tidak lupa ia mengingatkan bahwa pembangunan pendidikan dan kebudayaan dalam rangka penguatan sumber daya manusia yang berkualitas akan berjalan optimal apabila terwujudnya sinergi dan peran aktif antara pemerintah, pemerintah daerah, dan segenap pemangku kepentingan.

“Seluruh stakeholder harus mau terlibat aktif dalam pembangunan manusia yang dilandasi karakter yang kuat, keterampilan, dan kecakapan yang tinggi. Sehingga, cita-cita kita bersama dalam menciptakan SDM yang mampu menjawab tantangan perkembangan zaman akan mudah dicapai,” pungkasnya.

oknws.

LEAVE A REPLY