Ketua MPR Ajak Tim Medis dan Kementerian Kesehatan Bahas Corona

0
47
Bamsoet saat bertemu jajaran direksi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta membahas virus corona, Kamis (13/2/2020). Foto: Istimewa

Surabaya, Nawacita – Bambang Soesatyo Ketua MPR RI mengajak para dokter dan tenaga medis di berbagai rumah sakit, serta Kementerian Kesehatan untuk terus mensosialisasikan gerakan hidup sehat kepada masyarakat.

Terutama dalam mengantisipasi penyebaran virus Corona, yang kini oleh WHO diganti namanya menjadi Covid-19, agar masyarakat tidak menjadi korban hoax serta menimbulkan kegaduhan.

“Di berbagai media sosial maupun whatsapp group banyak beredar video orang meninggal mendadak yang informasinya dikarenakan virus Covid-19. Padahal menurut jajaran dokter dan direksi RSCM serta Kementerian Kesehatan, informasi tersebut hoax,” ujar Bamsoet usai bertemu jajaran direksi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Kamis (13/2/2020).

“Orang tersebut meninggal karena serangan jantung. Virus Covid-19 tidak menyebabkan kematian mendadak, melainkan ada gejalanya terlebih dahulu seperti flu, panas, hingga pneumonia, namun masih bisa diobati. Yang bisa menyebabkan kematian mendadak adalah serangan jantung dan stroke. Edukasi seperti ini sangat penting, agar rakyat tidak menjadi korban hoax dan tidak menimbulkan ketakutan yang berlebihan,” jelasnya.

Turut hadir Syaifullah Tamliha anggota Komisi I DPR RI dan Hasrul Azwar Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Maroko merangkap Republik Islam Mauritania.

Jajaran direksi RSCM yang hadir diantaranya dr. Lies Dina Liastuti Direktur Utama, Dr. dr. Sumariyono Direktur Medik dan Keperawatan, Dr. dr. Ratna Dwi Restuti Direktur Pengembangan dan Pemasaran, Dr. dr. RA. Trimartani Direktur Sumber Daya Manusia dan Pendidikan, Haris Fadilah Direktur Keuangan.

Turut hadir dr. Tri Hesty Widyastoeti Marwotosoeko Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, serta dr. Roby Staf Ahli Kementerian Kesehatan.

Mantan Ketua DPR RI 2014-2019 dan Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini mengungkapkan, dari diskusi dengan para dokter di RSCM dan Kementerian Kesehatan, penyebaran virus Covid-19 justru tidak sebahaya penyebaran SARS, MERS, Flu Burung, ataupun Flu Babi.

Tingkat kematian Covid-19 berada di sekitar angka 2 persen, sedangkan tingkat kematian SARS mencapai 10 persen. Artinya, masyarakat tetap harus waspada, namun jangan sampai panik berlebihan sehingga menyebabkan aktifitas terganggu.

“Data dari John Hopkins CSSE, hingga tanggal 13 Februari 2020 mencatat dari 60.329 orang yang terkena virus Covid-19, 1.369 meninggal, dan 6.017 bisa kembali sehat. Korban yang meninggal, 1.310 diantaranya berasal dari Hubei, Wuhan tempat awal penyebaran virus Covid-19. Besarnya jumlah korban yang bisa diselamatkan menjadi angin segar bahwa virus Covid-19 tidak perlu dihadapi dengan kepanikan luar biasa,” tandas Bamsoet.

Bamsoet memaparkan, dengan membiasakan hidup sehat seperti mencuci tangan, menggunakan masker saat ditempat umum, rajin berolahraga dan menjaga imunitas badan, bisa memperkecil peluang terkena virus Covid-19. Dirinya juga bersyukur, sampai sejauh ini belum ditemukan korban virus Covid-19 di Indonesia, namun bukan berarti kita boleh lengah dan tak waspada.

“RSCM sebagai rumah sakit rujukan nasional harus menyiapkan diri sejak dini. Tak perlu khawatir berlebihan, namun juga jangan lengah. Kita pernah punya pengalaman menangani SARS, MERS, Flu Burung, maupun Flu Babi, yang setidaknya menjadi bekal bagi seluruh instansi untuk menghadapi virus Covid-19,” tutur Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia ini menyampaikan, RSCM telah memperkuat peralatan medisnya dengan memesan 2 alat medis dari Amerika untuk menangani pasien yang diduga terkena Covid-19. Sekitar dua minggu lagi alat tersebut akan tiba di Indonesia. Kesiapan ruangan di RSCM juga sangat baik.

“Tentu kita berharap jangan sampai peralatan medis hingga ruangan isolosai terpakai, yang menandakan Indonesia bebas dari Covid-19. Kita juga bersyukur sampai saat ini warga Indonesia yang sedang di obeservasi di Natuna, pasca kepulangan mereka dari Wuhan, seluruhnya dalam kondisi sehat. Observasi masih akan terus dilakukan sampai 15 Februari 2020. Setelah masa obeservasi selesai dan seluruhnya sehat, maka mereka bisa kembali ke rumahnya masing-masing dan melakukan aktivitas seperti semula,” pungkas Bamsoet.

ss

LEAVE A REPLY