Mengenal Sejarah Singkat Berdirinya Nahdlatul Ulama

0
176
Logo Resmi Nahdlatul Ulama.
Logo Resmi Nahdlatul Ulama.

SURABAYA, Nawacita Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi massa terbesar di Indonesia. Nahdlatul Ulama artinya Kebangkitan Ulama. Didirikan pada tanggal 31 Januari 1926/ 16 Rajab 1344 H di Surabaya. Dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar untuk pertama kali.

Sebagai akibat dari penjajahan Belanda maupun kungkungan tradisi, maka timbullah kesadaran di kalangan  kaum terpelajar maupun Ulama untuk memperjuangkan martabat bangsa melalui jalan pendidikan dan organisasi. Di samping melawan secara fisik (peperangan) kepada Belanda.

Sebelumnya, pada tahun 1916 dibentuklah “Nahdlatul Wathan” (Kebangkitan Tanah Air) sebagai respon bangkitnya nasionalisme yang ditandai dengan berdirinya gerakan “Kebangkitan Nasional” tahun 1908. Kemudian pada tahun 1918 didirikanlah “Taswirul Afkar” atau dikenal juga dengan “Nahdlatul Fikri” (Kebangkitan Pemikiran). Sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum keagamaan/santri. Dari situ kemudian juga didirikan Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Kaum Saudagar).

Serikat ini dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatut Tujjar itu, maka Taswirul Afkar selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

Baca Juga: 31 Januari Sejarah Dunia: Berdirinya Nahdlatul Ulama Hingga Lahirnya Justin Timberlake

Berangkat dari munculnya berbagai macam organisasi dan komite yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dipandang perlu untuk membentuk organisasi yang lebih sistematis dan mencakup guna mengantisipasi perkembangan zaman.

Baca Juga: Kota Madinah Al Munawwarah, Kota Suci Kedua Bagi Umat Islam

Maka setelah berkoordinasi dengan para kyai pesantren (para ulama kalangan tradisional yang tidak terakomodir mengikuti konferensi Islam Dunia yang ada di Indonesia dan Timur Tengah) akhirnya para ulama sepakat untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama pada tanggal 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H. Di mana KH. Hasyim Asy’ari menjadi pimpinan (Rais Akbar) berpusat di Surabaya.

Struktur Organisasi

Nahdlatul Ulama memiliki struktur yang berjenjang dari tingkat dusun/kampung sampai pusat (tingkat nasional). Bahkan sampai pengurus di luar negeri. Berikut struktur kepengurusan secara lengkap :

  1. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

PBNU adalah pengurus pusat (tingkat nasional) yang berkedudukan di Jakarta (Ibu kota negara)

  1. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU)

PWNU adalah pengurus tingkat provinsi yang berkedudukan di ibukota provinsi

  1. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU)

PCNU merupakan jenjang kepengurusan tingkat kabupaten atau kotamadya.

  1. Majelis Wakil Cabang (MWC)

MWC merupakan pengurus di tingkat kecamatan.

  1. Pengurus Ranting (PR)

Merupakan kepengurusan di tingkat desa/kelurahan.

  1. Pengurus Anak Ranting (PAR)

Merupakan jenjang kepengurusan di wilayah sebuah dusun/kampung.

  1. Pengurus Cabang Istimewa (PCI)

Pengurus Cabang Istimewa merupakan jaringan pengurus perwakilan di luar negeri. Misalnya PCI NU Australia, PCINU Arab Saudi, PCINU Jerman dan sebagainya.

Tujuan

Nahdlatul Ulama dibentuk dengan tujuan : menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama’ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat di dalam wadah Negara Kesatuan Republik

Indonesia.

Paham Keagamaan

Di dalam beragama, NU menganut paham Ahlussunah Wal Jama’ah yaitu merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skriptualis). Oleh sebab itu sumber hukum Islam bagi NU tidak hanya Alqur’an dan hadits Nabi tetapi juga menggunakan menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir demikian merujuk pada pemikiran terdahulu seperti Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur Al Maturidi dalam bidang teologi (tauhid/ketuhanan).

Sedang dalam urusan bidang fiqih Nahdlatul Ulama lebih condong mengikuti mazhab Imam Syafi’i dan mengakui tiga mazhab lainnya; Imam Maliki, Imam Hanafi dan Imam Hambali.

Dalam bidang tasawuf, NU mengembangkan metode Imam Al-Ghozali dan Syaikh Junaid Al-Baghdadi yang mengintegrasikan antara tasawuf dan syariat.

Lembaga

Nahdlatul Ulama memiliki beberapa lembaga yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan Nahdlatul Ulama. Tentunya yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu dan/atau yang memerlukan penanganan khusus. Lembaga-lembaga tersebut meliputi :

  1. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LD-NU)
  2. Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU)
  3. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LP-NU)
  4. Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU)
  5. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPP-NU)
  6. Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPK-NU)
  7. Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK-NU)
  8. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (LAPEKSDAM NU)
  9. Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH-NU)
  10. Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (LESBUMI-NU)
  11. Lembaga Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZIS-NU)
  12. Lembaga Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama (LWP-NU)
  13. Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM-NU)
  14. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LK-NU)
  15. Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LF-NU)
  16. Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU)
  17. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI-NU)

Cukup demikian yang bisa kami paparkan mengenai Nahdlatul Ulama. Sebenarnya masih banyak hal yang berkaitan dengan  Nahdlatul Ulama. Semoga Allah memberi pertolongan agar penulis bisa menambah tulisan seputar Nahdlatul Ulama.

Tujuannya agar umat Islam mengerti bahwa di Indonesia memiliki organisasi massa terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Semoga bermanfaat.

Referensi :

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_%27Ulama
  1. http://www.nu.or.id/
  1. http://pcinujepang.org/2017/09/

 

5pinws.

LEAVE A REPLY