Daftar Tradisi Upacara Pemakaman Ekstrem di Indonesia

0
142
Ngaben di Bali.
Ngaben di Bali.

JAKARTA, NawacitaMemiliki banyak suku, bahasa, budaya, hingga adat istiadat, membuat Indonesia kaya akan tradisi. Tradisi itu bukan hanya untuk orang-orang yang masih hidup, tapi juga ada untuk menghormati orang sudah meninggal. Tradisi itu ada yang ikut membakar banyak ternak seperti kerbau, ada yang pembakaran jenazah hingga potong jari. Kami merangkum sembilan tradisi pemakaman yang ada di Tanah Air:

1. Rambu Solo

Rambu Solo merupakan tradisi yang berasal dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Setiap ada kerabat yang meninggal dunia, suku Toraja akan melakukan upacara pemakaman secara besar-besaran, yakni upacara Rambu Solo.

Perlu waktu yang lama bagi masyarakat Toraja untuk melaksanakan tradisi Rambu Solo. Tradisi pemakaman ini menggelar penyembelihan anak kerbau yang sangat banyak. Sehingga, tradisi Rambu Solo bisa menghabiskan uang ratusan juta rupiah.

2. Trunyan

Bali dikenal dengan berbagai ritual dan tradisi unik salah satunya Pemakaman Trunyan. Pemakaman Trunyan dikenal sangat unik karena di tempat tersebut jenazah tidak dikubur di dalam tanah seperti jenazah pada umumnya.

Dalam upacara pemakaman Trunyan, jenazah yang sudah meninggal akan disimpan di atas tanah. Jenazah hanya ditutup menggunakan anyaman bambu agar tidak terlihat dari luar. Tradisi yang dilakukan pemakaman Trunyan dikenal tidak menimbulkan bau busuk karena pohon yang ada di sekitarnya dipercaya dapat menyerap bau busuk dari mayat.

Baca Juga: Daftar Keraton Asli Indonesia dan Serta Sejarahnya

3. Marapu

Upacara pemakaman Marapu merupakan tradisi pemakaman yang ada di Sumba, Nusa Tenggara Barat (NTB). Biasanya upacara yang dilakukan dengan cara menyembelih hewan ternak sebagai jamuan ini dihidangkan kepada tamu yang datang.

Kepercayaan bagi masyarakat Sumba yang tidak menyelenggarakan upacara pemakaman akan membuat keluarga mereka menjadi sial. Biasanya, jenazah orang yang telah tiada akan dimasukkan ke dalam kubur yang baru agar segera bersatu dengan leluhurnya di Surga.

4. Tiwah

Tiwah merupakan salah satu ritual pemakaman Suku Dayak di Kalimantan Tengah. Pemakaman Tiwah akan dilakukan setelah jenazah dikubur selama beberapa tahun hingga meninggalkan tulang saja. Upacara tersebut dilakukan untuk menyempurnakan jenazah dalam upacara terakhir agar keterikatan dengan dunia nyata bisa segera dilepaskan.

5. Sirang-Sirang

Sirang-Sirang adalah salah satu upacara pemakaman yang ada di Sumatera Utara, khususnya Batak Karo. Sejak pengaruh agama Hindu masih melekat dengan kuat, masyarakat Batak Sembiring melakukan upacara pembakaran jenazah dengan cukup besar.

Konon, jenazah akan dibakar di dekat sungai dan jenazah yang sudah menjadi abu akan diambil oleh beberapa orang kemudian melarungkannya ke dalam aliran sungai. Sebelumnya, orang yang melarungkan abu jenazah harus mandi dengan bersih agar tidak kena sial atau diikuti oleh roh dari jasad yang dibakar.

Baca Juga: 10 Warisan Budaya Indonesia Masuk Daftar UNESCO

6. Pembakaran Jenazah dan Potong Jari

Suku Dani yang menghuni lembah Baliem, Papua memang memiliki banyak tradisi unik, termasuk untuk urusan kematian. Tradisi yang dilakukan oleh Suku Dani saat kematian seseorang yaitu salah satu dari mereka harus memotong ruas jari.

Tradisi ini memang ekstrem. Tapi, menurut kepercayaan mereka memotong jari merupakan simbol sebagai ungkapan rasa sakit dan sedih. Setelah pemotongan jari selesai, mereka akan mandi di lumpur lalu mengelilingi jenazah yang akan dibakar dalam keadaan menangis.

7. Ngaben

Ngaben merupakan upacara kremasi atau pembakaran jenazah bagi umat Hindu di Bali. Tak hanya jenazah yang dibakar, benda-benda seperti patung, bunga, dan berbagai persembahan lainnya juga turut dibakar dalam upacara Ngaben.

Ngaben diartikan sebagai simbol keikhlasan dari keluarga untuk melepas kepergian anggota keluarganya. Upacara Ngaben juga dapat diartikan untuk melepas roh dari duniawi dan mengembalikan unsur dari Panca Maha Bhuta ke alam semesta.

Baca Juga: Berikut Daftar Julukan Unik Kota-kota di Indonesia

8. Mumifikasi

Suku Asmat di Papua juga memiliki upacara pemakaman unik. Bagi mereka yang memiliki kedudukan tertinggi seperti kepala suku atau panglima perang, akan dimakamkan berbentuk seperti mumi.

Tubuh mereka akan diolesi zat-zat tertentu kemudian diletakkan di atas perapian hingga terkena asap secara perlahan. Namun, setelah beberapa tahun mayat yang diposisikan dalam keadaan duduk akan berubah warna menjadi hitam dan disimpan di rumah pria dan akan dikeluarkan kembali jika ada tamu yang datang.

9. Kuburan Bayi dalam Pohon

Tradisi mengubur bayi di dalam pohon Tarra masih kerap dilakukan oleh masyarakat di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Pohon Tarra itu terletak di kawasan Kambira, Tana Toraja.Menurut kepercayaan masyarakat, bayi yang meninggal dan belum memiliki gigi akan dimasukkan ke dalam pohon yang penuh getah. Proses pemakaman ini sering disebut dengan Passiliran yang akan dilakukan secara sederhana, namun berbeda dengan adat upacara di Rambu Solo.

Pohon Tarra memang sengaja dipilih karena mengandung getah yang banyak. Getah dari pohon Tarra diibaratkan seperti air susu dan ruangannya dianggap sebagai rahim. Masyarakat Toraja percaya proses pemakaman bayi di dalam pohon Tarra dilakukan agar kelak bayi yang sudah meninggal bisa terlahir kembali dari rahim ibu yang sama.

oknws.

LEAVE A REPLY