Tahukah? Manakah yang Baik, Doa Bahasa Arab atau Indonesia

0
67
Ilustrasi.
Ilustrasi.

SURABAYA, NawacitaSEBAGIAN Muslim di Indonesia memanjatkan doa menggunakan redaksi asli atau dengan bahasa Arab dan dia tahu artinya. Sebagian lainnya berdoa memakai bahasa Arab tapi tidak tahu artinya. Selanjutnya sebagian Umat Islam berdoa menggunakan bahasa Indonesia karena belum mampu atau tidak hafal doa asli dalam Bahasa Arab.

Kemudian muncul pertanyaan, mana yang lebih baik antara berdoa memakai bahasa Indonesia tapi tahu artinya atau berdoa menggunakan bahasa Arab tapi tidak tahu artinya?Dilansir dari laman Suara Muhammadiyah pada Senin (13/1/2020), mengenai pertanyaan tersebut, terdapat dua kemungkinan:

1. Apabila doa itu berada dalam salat, maka wajib melafalkan doa yang ma’tsur (doa yang berasal dari Alquran dan as-Sunnah) dengan lafal bahasa Arab dan tidak boleh membuatnya sendiri apalagi dengan bahasa yang lain, melainkan doa tersebut harus sesuai tuntunan Rasulullah SAW, sebagaimana dalam sabda beliau:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي.

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat [HR. al-Bukhari, 443].

2. Apabila doa itu di luar salat, maka melafalkan doa yang ma’tsur dengan lafal bahasa Arab lebih baik (utama), sebab doa yang ma’tsur adalah doa yang bersumber dari Alquran dan as-Sunnah yang memiliki keutamaan tersendiri dalam membacanya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ آلم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِف حَرْفٌ وَلَام حَرْفٌ وَمِيم حَرْفٌ.

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Alquran maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak berkata “alif lam mim” itu satu huruf, akan tetapi “alif” satu huruf, “lam” satu huruf dan “mim” satu huruf [HR. at-Tirmidzi, 2910].

Baca Juga: Sains Dalam Al Quran, Fakta Menakjubkan Soal Sidik Jari

Di sisi lain, doa tersebut sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti) Rasulullah SAW, karena beliau senantiasa berdoa dengan doa yang ma’tsur. Akan tetapi, meskipun tidak memahami artinya tetap lebih baik (utama) dibandingkan dengan bahasa lain beserta memahami artinya. Sebab, Allah SWT Maha Mengetahui apa yang terkandung dalam diri hambanya ketika berdoa. Firman Allah Swt:

إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ.

Allah Maha mengetahui segala isi hati [Q.S. Luqman (31: 23]

Baca Juga: Terbukti Bermanfaat, 9 Kebiasaan Nabi Muhammad SAW

Jika seseorang itu belum mampu melafalkan doa dengan bahasa Arab maka boleh memakai bahasa lain. Dalam berdoa hendaknya dilakukan dengan menundukkan hati, dan menghayati makna doa tersebut (hal ini dianjurkan pula bagi doa yang ma’tsur). Rasulullah SAW bersabda:

اُدْعَوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِاْلإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءَ مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ.

Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai [HR. at-Tirmidzi no. 3479]

Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya selalu belajar, termasuk dalam hal berdoa, agar doa-doa yang selama ini tidak diketahui artinya menjadi diketahui artinya sehingga menambah kesempurnaan dalam berdoa.

oknws.

LEAVE A REPLY