Tahukah? Rahasia Kota Surabaya Menurunkan Suhu Udara

0
74
Kota Surabaya.
Kota Surabaya.

SURABAYA, Nawacita Menjelang akhir tahun ini, Surabaya telah memiliki 613 taman kota. Deretan ruang terbuka hijau (RTH) yang dibangun oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini selama 10 tahun terakhir merupakan implementasi dari mimpinya untuk menurunkan suhu udara hingga 22 derajat celcius.

Terkesan utopis? Mungkin saja. Sebab, berdasarkan pantauan accuweather.com, rata-rata suhu udara Kota Pahlawan selama sebulan terakhir berkisar 37-35 derajat celcius pada siang dan sore hari. Sedangkan pada malam hari, suhu udara terendah adalah 26 derajat celcius. Lantas, masih relevankah mimpi seorang Risma?

Terlepas dari mimpi besarnya yang sangat tinggi untuk digapai, Risma memilih untuk tidak berdiam diri. Dia enggan menyalahkan faktor geografis, di mana Surabaya berada di wilayah pesisir. Risma juga tidak mengkambinghitamkan faktor demografis Surabaya yang punya kepadatan penduduk tinggi.

Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu percaya, bila memperbanyak pohon dan taman bisa menekan suhu udara. “RTH ini terus ditambah, sampai suatu saat nanti suhu Surabaya bisa mencapai 22 derajat celcius,” tutur Risma pada Juli 2019 lalu.

Baca Juga: Mengenal Sosok Tri Rismaharini, Bau Keringat dan Jauh Dari Kesan Borjuis

Dia bahkan menyebut, rata-rata suhu udara Surabaya sudah turun 2 derajat celcius. Faktor utamanya adalah jumlah RTH. Semula, suhu udara Surabaya berada pada angka 30-31 derajat celcius. Kini, suhunya berkisar pada 28-29 derajat celcius. Menarik kemudian untuk mempertanyakan, bagaimana peran Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam memelihara pohon serta RTH guna menurunkan suhu udara?

1. Perkembangan RTH di Surabaya

Perjuangan Risma untuk membangun RTH bukan sekadar rektorika belaka. Pada periode pertama kepemimpinannya, salah satu visi besarnya adalah mendengungkan kembali slogan yang sempat hilang. Yaitu “Surabayaku Bersih dan Hijau”.

Selain ambisinya, Risma juga dituntut untuk melaksanakan amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang di wilayah perkotaan yang menuntut RTH publik sebanyak 20 persen serta RTH privat mencapai 10 persen. Regulasi serupa juga termaktub dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 5/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan Dan Pemanfaatan RTH.

Perempuan kelahiran Kediri, 20 November 1961 itu diwarisi RTH oleh Wali Kota pendahulunya, Bambang Dwi Hartono sebanyak 20,2 persen atau sekitar 6.676,55 hektar pada 2009. Perlahan dan secara bertahap, Risma membangun taman baru serta mempercantik taman yang sudah ada. Hingga akhir 2018, RTH di Surabaya telah mencapai 21,79 persen atau sekitar 7.290,53 hektare. Dengan catatan, RTH publik di Surabaya sudah melebihi angka 20 persen.

Dari data yang dimiliki Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya, persebaran RTH pada 2018 adalah sebagai berikut:

RTH Makam                                           : 288,53 hektare
RTH Lapangan                                       : 355,91 hektare
RTH Telaga atau Waduk                       : 192,06 hektare
RTH Fasum atau Fasos Pemukiman  : 205,50 hektare
RTH Kawasan Lindung                         : 4.548,59 hektare
RTH Hutan Kota                                     : 55,81 hektare
RTH Taman dan Jalur Hijau                 : 1.649,10 hektare

Kepala DKRTH Surabaya Hendry Setianto menjelaskan, penambahan RTH publik akan terus dioptimalkan. Risma sendiri mencanangkan kuantitas RTH di Surabaya mencapai 30 persen hingga masa kepemimpinannya berakhir tahun depan. “Target dari ibu (Risma) paling tidak 30 persen, RTH privat dan publik. Akan kami tambah terus,” jelas Hendry kepada wartawan melalui sambungan telepon.

2. Taman sudah bagus, bagaimana cara mengelolanya?

Bukan cuma untuk meneduhkan Surabaya, pohon dan bunga yang ditanam juga menampilkan nilai estetika. Salah satu yang mendapat perhatian adalah bunga Tabebuya. Kala bunganya mekar dan berguguran, Surabaya tak kalah indah dibanding Jepang yang sudah tersohor ke seantero jagat dengan Sakuranya.

“Di Surabaya ini kan padat arus lalu lintasnya, kalau tanaman tidak berbunga itu akan menambah penat pengemudi. Jadi dicarikan yang berbunga supaya tingkat stres pengguna jalan berkurang. Bunganya juga yang beraneka warna, tidak monoton,” tambah Hendry.

“Selain itu, kami juga mengabadikan tanaman-tanaman yang hampir punah. Itu juga jadi nilai ya, karena Surabaya ikut melestarikan tanaman,” lanjutnya. Hendry tidak menampik jika perawatan pohon dan taman di Surabaya menjadi kendala tersulit. Dengan suhu udara yang panas, penyiraman bisa dilakukan sebanyak dua kali sehari. Kala musim penghujan tiba, tanaman disiram sekali sehari.

Baca Juga: Hari Anak Sedunia, Berikut Tempat Wisata Bersama Buah Hati di Surabaya

Pemkot juga tidak sembarangan dalam menggunakan media tanam. Surabaya memiliki 28 rumah kompos yang digunakan untuk menyuplai pupuk bakal taman-taman yang ada di Surabaya. Selain memperhatikan kualitas media tanam, pupuk yang dibuat sendiri turut menghemat anggaran daerah.

“Kalau kami harus beli pupuk akan mahal perawatannya, kami gak ada uang untuk itu. Kalau anggaran hanya untuk beli pupuk, sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan lainnya tidak kebagian,” tutur Risma beberapa bulan yang lalu.

Perihal pengawasannya, pemkot juga membentuk satuan tugas (satgas) yang cakupan kerjanya terbagi dalam lima rayon. Antara lain Rayon Surabaya Pusat, Timur, Barat, Selatan, dan Utara. Masing-masing dari mereka bertugas untuk mengawasi apabila apabila ada pohon dan tanaman yang rusak. “Masing-masing rayon terdiri dari 8 sampai 10 kecamatan. Jadi tugas utama mereka itu monitoring atau pengawasan, kemudian pemeliharaan,” papar Hendry.

3. Peraturan Daerah tentang perlindungan pohon

Dari ranah birokrasi, keberadaan Peraturan Daerah (Perda) Kota Surabaya No. 19 Tahun 2014 tentang Perlindungan Pohon tidak bisa diabaikan. Perda ini mendapuk Surabaya sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki regulasi tentang penebangan pohon.

Secara garis besar, tujuan perda sebagaimana tertulis dalam Pasal 2 adalah mencegah dan membatasi kerusakan pohon yang disebabkan oleh perbuatan manusia serta menjaga kelestarian pohon di daerah. Melalui Perda tersebut, tidak ada pihak yang bisa menebang pohon sembarangan, termasuk pemerintah sekalipun.

Dalam Pasal 5 dijelaskan, penebangan pohon harus mendapatkan izin dari Wali Kota Surabaya, yang wewenangnya dilimpahkan kepada Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Poin yang penting digaris bawahi adalah soal penggantian pohon. Pihak yang diberikan izin untuk menebang juga dituntut untuk memelihara pohon yang baru diganti hingga setahun lamanya.

Lebih lanjut dalam Pasal 11, setiap pohon yang ditebang dengan diameter hingga 30 sentimeter, maka jumlah penggantinya adalah 35 pohon berdiameter sekurangnya 10 sentimeter. Untuk pohon dengan diameter 30 hingga 50 sentimeter, besaran penggantinya adalah 50 pohon berdiameter 10 sentimeter. Jika diameternya lebih dari 50 sentimeter, maka harus diganti dengan 80 pohon berdiameter 10 sentimeter.

“Kalau untuk penggantian pohonnya itu menyesuaikan kebutuhan kota. Kami memang mencari tanaman yang bisa menyerap karbon, batangnya kuat, dan berbunga juga. Memang tujuannya jangka panjang juga. Perda itu efektif sekali sampai sekarang,” kata Hendry. Kemudian, untuk mengoptimalkan fungsi pohon, Perda tersebut juga melarang siapapun untuk memaku pohon, menempelkan iklan atau poster, serta membuang limbah berbahaya dan beracun di area sekitar batang pohon.

4. Multilayer RTH di Surabaya

Kemudian, pertanyaan yang menarik untuk diajukan adalah sejauh mana relevansi pohon dan RTH yang tersedia demi menekan suhu udara di Kota Surabaya? Menjawab pertanyaan tersebut, pakar teknik lingkungan Irwan Bagyo Santoso menyampaikan, pohon dan RTH berguna untuk menyerap karbon dioksida (CO2) serta partikulat hasil kendaraan bermotor. Keduanya adalah zat yang menyebabkan suhu udara menjadi panas. “Maka secara otomatis, tumbuhan bisa menurunkan temperatur udara karena mereka menyerap CO2 dan partikulat,” terang Irwan.

Baca Juga: Destinasi Wisata di Surabaya Yang Menarik Untuk Dikunjungi

Pernyataan tersebut juga dibuktikan oleh Annisa ulhaq Aminsyah melalui penelitiannya berjudul “Nilai Kenyamanan Ruang Terbuka Hijau di Surabaya (2018)”. Hasil riset alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) itu menunjukkan, semakin jauh dari RTH, maka suhu udara semakin tinggi. Ada tiga RTH yang menjadi objek kajiannya. Yakni Taman Flora, Kebun Bibit Wonorejo, dan Hutan Kota Balas Klumprik.

Dengan memanfaatkan berbagai metode pengukuran, spesifik untuk Taman Flora, Annisa Ulhaq menuliskan bahwa suhu terendah di kawasan RTH adalah 29 derajat celcius. Jarak pengukuran terjauh yaitu 240 meter dengan suhu udara mencapai 34 derajat celcius.

Selanjutnya Irwan menambahkan, model multilayer RTH di Surabaya juga berguna untuk menurunkan suhu udara. Berdasarkan temuannya, setiap layer memiliki manfaatnya masing-masing guna menyerap CO2 dan partikulat.

Layer pertama itu rumput, layer kedua itu perdu atau semak belukar, layer ketiga itu tanaman besar yang punya kanopi atau rindang. Saya lihat model RTH di Surabaya sudah multilayer dan itu bagus. Bahkan, rumput juga memiliki bulu-bulu kecil yang bisa menyerap CO2,” papar Irwan.

Dia menambahkan, dari bentuknya, Surabaya sebenarnya lebih menampilkan taman yang menyuguhkan panorama. Namun tetap saja, keberadaan taman itu juga berdampak baik untuk lingkungan. “Kalau saya lihat, sebenarnya Ibu Risma lebih kepada estetika, keindahannya. Tapi secara gak sengaja, dengan multilayer-nya, jadi kedapatan juga manfaatnya,” tambahnya.

5. Pohon yang ideal untuk menurunkan suhu udara

Lebih jauh, Irwan mengingatkan supaya Pemkot Surabaya lebih sadar terhadap fungsi-fungsi pepohonan. Sebab, tidak semua tanaman memiliki nilai optimal untuk menyerap CO2 dan partikulat.

“Kalau untuk menekan suhu udara, harus dipilih pohon yang rindang. Kalau untuk menyerap CO2, harus dipilih tanaman yang pertumbuhan akarnya cepat, batang pohonnya kasar dan bergerigi. Bukan pohon tua yang daunnya berguguran,” terangnya.

Oleh karenanya, dosen ITS itu mengimbau supaya pemkot tidak terlalu banyak menanam pohon seperti Tabebuya. “Itu (Tabebuya) dari keindahan oke, tapi untuk lingkungannya itu gak oke. Kalau daunnya gugur, itu kan jadi dekomposisi, sehingga terbuang lagi CO2 ke udara,” sebut Irwan.

Secara garis besar, RTH seluas 21,75 persen masih belum bisa menyerap seluruh CO2 dan partikulat di Surabaya. Bahkan, acuan RTH dari pusat seluas 30 persen dirasa Irwan masih belum bisa menyejukkan Ibu Kota Jawa Timur tersebut.

“Surabaya ini CO2-nya masih positif, artinya masih butuh banyak pohon untuk menyerap CO2. Semakin banyak pohon, otomatis suhu udara juga berkurang. Memang ada kota-kota yang bahkan membutuhkan RTH lebih dari 60 persen,” ungkap Irwan.

Namun, sebagai kota metropolitan dengan kepadatan tinggi, dia turut mengapresiasi upaya pemkot untuk menghijaukan kembali Surabaya. Dibanding kota lain yang pernah ia jajaki, RTH Surabaya menurutnya bisa menjadi contoh. “Ya, 30 persen sudah bagus walaupun kurang. Yang penting itu, pohon yang ditanam harus disadari fungsinya.”

6. Meningkatkan RTH di ruang privat

Tidak bisa dimungkiri, sangat sulit untuk mencari lahan kosong di Surabaya yang bisa ditanami pohon dalam jumlah besar. Oleh sebab itu, Irwan berharap pemkot bisa mengoptimalkan pembangunan RTH privat.

Secara regulasi, Surabaya sudah memiliki Perda No.7 Tahun 2002 tentang Pengelolaan RTH. Untuk mendapatkan izin mendirikan bangunan (IMB), pemilik bangunan harus menanam pohon dengan jumlah tertentu. Misalnya, untuk rumah tinggal dengan luas 500 meter persegi, wajib menanam tiga pohon pelindung, perdu dan semak hias, serta penutup tanah atau rumput.

Namun, regulasi semacam itu dirasa belum efektif oleh Irwan. Perkaranya, sering kali pemilik bangunan tidak menyisihkan ruang untuk menanam pohon. Untuk menyiasati hal itu, Irwan menyarankan supaya pemkot membagikan bibit tanaman menjalar yang bisa ditanam di rumah-rumah warga.

“Kalau di daerah padat, gak bisa dipaksa tanam pohon yang besar. Saya kira ini tugas tahap kedua ibu Risma, yaitu bagi-bagi bibit tanaman. Tapi harus bibit yang merambat, jadi bisa tumbuh di atap atau tembok-tembok. Ini termasuk peran serta masyarakat untuk RTH di ranah privat,” harapnya.

Menanggapi saran dari Irwan, Hendry menyampaikan bila pihaknya akan menindaklanjuti usul tersebut. Dia menyampaikan, salah satu upaya Pemkot mengoptimalkan RTH privat yaitu bekerja sama dengan sejumlah perusahaan swasta. “RTH privat kami bantu terus ya. Kalau bagi-bagi bibit, selama ini kami dibantu CSR dari perusahaan dan hotel-hotel. Kami lumayan banyak dapat bantuan dari pihak swasta,” tambah Hendry.

7. Surabaya menjadi role model RTH di Indonesia

RTH di Surabaya berhasil menghantarkan Risma meraih penghargaan dari satu panggung ke panggung lain. Penghargaan Adipura? Risma sudah khatam dengan berbagai variannya. Mulai dari Adipura Kencana hingga Adipura Paripurna. Penghargaan tersebut menandakan bahwa cara Surabaya dalam mengelola kebersihan dan pelestarian lingkungan kota sangat diakui pemerintah pusat.

Tak kalah membanggakan, pada 2013 Taman Bungkul dinobatkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai taman terbaik se-Asia. Penghargaan bertajuk “The 2012 Asian Townscape Sector Award” itu didukung oleh empat organisasi dunia, yaitu UN Habitat Regional Office for Asia and The Pacific, Asia Habitat Society, Asia Townscape Design Society, dan Fukuoka Asia Urban Research Center.

Baca Juga: Pilkada Surabaya, Akankah Pengganti Risma Pasangan Nasionalis Religius

Risma sempat bercerita bahwa taman dan pohon yang ia tanam merupakan warisan untuk Surabaya sepanjang dua periode kepemimpinannya. Harapannya, keindahan Surabaya bisa menarik wisatawan dari berbagai negara.

“Saya juga pernah ke negara lain yang ada bunganya, gak kalah. Surabaya gak kalah dengan negara lain. Saya buat (Surabaya) seperti ini tujuannya bukan hanya indah, tapi juga bagaimana meningkatkan wisatawan. Sehingga, usaha apapun di Surabaya bisa bergerak baik,” ungkap dia.

Risma juga tidak mempermasalahkan apabila banyak kota di Indonesia yang mencontek cara Surabaya mengelola taman. Ditambahkan oleh Hendry, setiap hari selalu ada perwakilan dari berbagai kota di Indonesia datang ke Surabaya untuk belajar membangun RTH. “Kami setiap hari kedatangan tamu, minimal dari 3 kota. Setiap hari. Dari Sabang sampai Merauke,” tutup Hendry.

idnws.

LEAVE A REPLY