Kisah Ketua Geng Motor yang Insyaf Usai Berhaji di Tanah Suci

0
79
Kisah Ketua Geng Motor yang Insyaf Usai Berhaji di Tanah Suci.
Kisah Ketua Geng Motor yang Insyaf Usai Berhaji di Tanah Suci.

SURABAYA, Nawacita – Banyak orang yang mencibir perilaku geng motor. Pasalnya, mereka kerap kali tawuran dan ugal-ugalan di jalanan sehingga membahayakan pengguna jalan yang lain. Namun tidak selamanya mereka berada di jalanan, tapi ada yang insyaf dari perbuatan tersebut.

Kemudian mantan anggota geng motor rajin beribadah seperti melaksanakan salat berjamaah di masjid dan mengaji. Serta aktif dalam pengajian bersama warga di kampung. Hal itu seperti yang dilakukan H Luqman Sehon. Pria kelahiran Desa Langkap, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jatim ini berhenti total dari aktivitas geng motor. Padahal sebelumnya dia menjabat sebagai ketua salah satu geng motor yang ada di Madura yakni Dhumenk Racing Madura (DRM).

“Saya ikut geng motor ketika menginjak SMA sekitar tahun 1988. Geng motor DRM saat itu sangat terkenal di Madura, terutama di Bangkalan. Anggotanya mencapai 4 ribu orang,” ucap Luqman mengawali cerita pengalaman masa mudanya pada wartawan. Menurut Luqman, dirinya menjadi anggota geng motor selama 12 tahun. Bahkan dirinya sempat mencicipi sebagai ketua geng motor DRM. Ketika menjadi anggota geng motor dirinya jauh dari ibadah. Saat itu hidupnya lebih banyak berada di jalanan bersama teman-temannya.

Baca Juga: Kisah Umar Jaya, Pembunuh Bayaran Legendaris Paling Sadis di Indonesia

Tapi di tengah perjalanan, dalam hati kecilnya terbesit ingin berhenti dari geng motor untuk menjalani hidup normal seperti orang pada umumnya. Namun hal itu sulit dilakukan karena saking banyak teman, dan tidak diperbolehkan oleh teman yang lain keluar dari geng motor.

“Kemudian saya berangkat ke Arab Saudi menjadi TKI pada tahun 2000 an. Ini saya lakukan karena ingin menjauh dari geng motor. Di Arab saya menjadi seorang sopir,” ungkapnya. Ketika berada di Arab Saudi, sambung Luqman, dirinya bersyukur karena bisa menjalan ibadah dengan khusuk seperti salat dan mengaji.

Bahkan dirinya sudah mengerjakan haji dan umroh di Mekkah. Untuk haji, dirinya melaksanakan tiga kali tepatnya pada tahun 2005, 2009 dan 2011. Untuk 2005 merupakan haji akbar. Sedangkan untuk ibadah umroh sudah tidak terhitung, karena saking seringnya. Setelah 18 tahun bekerja di Arab Saudi, akhirnya dia pulang ke kampung halaman. Di kampung dia merintis usaha odong-odong.

Baca Juga: Kisah Sukses Orang Terkaya yang Memulai Bisnis di Usia Muda

“Tabungan saya hasil kerja di Arab, saya beli odong-odong untuk buka usaha disini. Saya lebih membuka usaha sendiri daripada mencari pekerjaan pada sebuah toko atau yang lain. Karena saya sudah capek ikut orang,” papar Luqman. Rupanya usaha odong-odongnya yang ada di pasar baru Langkap berbuah manis. Banyak anak-anak yang naik odong-odong miliknya. Lalu dia berpikir menambah 2 odong-odong lagi, tetapi mangkal di lokasi lain yakni di pasar Jurang, Tanah Merah dan Kwanyar.

“Alhamdulillah sekarang saya punya tiga odong-odong. Satu odong-odong rata-rata menghasilkan 150 ribu sampai Rp 200 ribu perhari. Kerjanya dari jam 07 00 WIB sampai pukul 11 00 WIB. Saya sangat bersyukur dengan kehidupan yang sekarang,” tukas bapak dari dua anak itu.

oknws.

LEAVE A REPLY