Kisah Salam Perpisahan Jusuf Kalla dan si Vespa Biru

0
147
Jusuf Kalla dan Mufida Kalla berfoto dengan Vespa berpelat nomor UCU-IDA dalam acara perpisahan JK sebagai Wakil Presiden RI.
Jusuf Kalla dan Mufida Kalla berfoto dengan Vespa berpelat nomor UCU-IDA dalam acara perpisahan JK sebagai Wakil Presiden RI.

JAKARTA, Nawacita Lantunan merdu lagu Anging Mamiri membahana di taman bermain Trans Studio Cibubur, Cimanggis, Jawa Barat, Minggu (13/10/2019). Lagu khas sekaligus kebanggaan rakyat Sulawesi Selatan tersebut dinyanyikan oleh grup paduan suara siswa Sekolah Dasar (SD).

Salah satu penyanyi dari belasan pelajar SD yang memakai baju bodo aneka rona tersebut bernama Khalila. Gadis manis berambut pendek tersebut ternyata cucu dari Wakil Presiden (Wapres) RI Jusuf Kalla dan istrinya, Mufidah Kalla.

“Terima kasih Papa, sudah bekerja keras dan memberikan yang terbaik untuk Indonesia,” ucap Khalila diiringi tepuk tangan membahana hadirin yang ada di arena bermain milik Transp Corp tersebut.

Baca Juga: Kisah Sukses Orang Terkaya yang Memulai Bisnis di Usia Muda

Jika kebanyakan orang terbiasa dengan sebutan Kakek-Nenek atau Opa-Oma, JK dan Mufida ternyata lebih senang dipanggil Papa-Mama oleh cucu-cucunya. Setelah 20 Oktober nanti, pasangan yang berasal dari 2 suku berbeda, yaitu Bugis dan Minang tersebut dipastikan bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk bermain dengan Khalila dan 9 cucu lainnya.

Pasalnya, JK siap menuntaskan tugasnya untuk mendampingi Presiden Joko Widodo dalam periode 2014-2019. Pada Minggu (20/10), JK resmi purna tugas dan menyerahkan tongkat estafet kepada KH Ma’ruf Amin. Tak lupa, JK mengucapkan terima kasih kepada seluruh staf khusus, deputi, staf Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) RI, ajudan, hingga Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) yang membantunya selama lima tahun terakhir.

“Pertama, saya ucapkan terima kasih atas acara ini yang mengingatkan kita sudah bekerja sama dengan baik. Insya Allah, satu minggu lagi saya akan menyelesaikan tugas saya sebagai Wapres. Masih ada waktu lima hari lagi untuk kita berdiskusi,” ucapnya. Jika ada masalah yang belum selesai, mantan Ketua Umum Golkar tersebut memastikan semuanya akan diselesaikan oleh penggantinya nanti, Ma’ruf Amin. Menurutnya, pemerintah tidak akan terputus dan selalu bersambung.

Baca Juga: Kisah Cinta Sehidup Semati Habibie-Ainun

JK melanjutkan sebenarnya hubungan dengan seluruh jajaran Setwapres tidak hanya terjadi 5 tahun, melainkan 10 tahun. Seperti diketahui, dia pernah berkantor di Medan Merdeka Utara saat menjadi pendamping Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada periode 2004-2009.

Salah satu prestasi JK saat itu, tak lain menjadi juru damai atau berhasil mendamaikan konflik SARA di Aceh, Poso, dan Ambon. Saat mengucapkan pidato perpisahan, JK mengungkapkan beberapa kebiasaan yang akan selalu dikenang pasca meninggalkan kantor Wapres RI. Salah satunya, soal kebiasaan makan siang di ruang kerja.

“Saya ada masalah soal makan. Saya ini tidak bisa makan sendiri. Jadi, saat makan mesti hadir semua [deputi dan staf khusus]. Makan seperempat jam, diskusinya satu jam. Makanya, tidak perlu rapat, rapat di meja makan,” ujar Kalla sambil tertawa. Bukan itu saja, dia juga membeberkan bahwa dirinya tidak pernah menggunakan naskah pidato yang dibuatkan oleh staf Setwapres RI. JK mengaku hanya meminta data atau materi pidato yang akan diucapkan saat acara tertentu.

Dia menyatakan hal itu sudah menjadi gaya berpidatonya sejak dulu. Banyak orang memang mengenal sosok JK sebagai pribadi yang ceplas-ceplos, bahkan acap kali melayangkan kritik kepada jajaran pemerintahan yang dipimpin oleh dirinya dan Joko Widodo.

“Minta maaf tadi, kalau pidato saya mau minta bahan saja, bukan pidatonya. Jadi saya itu pidato dulu baru ditulis. Jadi yang berat yang nulis setelah saya pidato, jadi notulen,” tutur JK disambut gelak tawa hadirin. Meski demikian, JK tetap mengucapkan terima kasih kepada seluruh staf yang telah membantunya selama lima tahun belakangan. Termasuk untuk staf khusus, yaitu Sofyan Wanandi.

JK memang merekrut Sofyan tak lama setelah resmi meninggalkan jabatan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) beberapa tahun lalu. Sofyan mengaku dia sudah mengenal JK sejak lama, bahkan sebelum keduanya menjadi pengusaha sukses. “Saya dan beliau sudah kenal saat masih mahasiswa. Kami sama-sama turun ke jalan kala pergerakan 1966,” ujarnya.

Selain Sofyan Wanandi, JK juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Kantor Sekretariat Presiden Muhammad Oemar, Staf Khusus Bidang Ekonomi Wijayanto Samirin, Staf Khusus Azyumardi Azra, Juru Bicara Wapres RI Husain Abdullah, dan pemilik Trans Corp Chairul Tanjung.

Tak lupa, dia menghaturkan terima kasih kepada seluruh ajudan dan Paspampres yang telah menjaganya selama ini. “[Kinerja] Paspampres [dilihat dari] kriteria keamanan. Dia menjaga saya selama 24 jam, tidur pun kita [Paspampres] masih menjaga di bawah. Saya sampaikan terima kasih. Alhamdulilah saya aman, artinya berhasil,” ucap JK.

Baca Juga: Kisah Riwayat Hidup Kiai Kharismatik KH Maimoen Zubair

Kepala Kantor Setwapres RI Muhammad Oemar mengungkapkan dirinya merasa beruntung bisa bertugas dan bekerja menemani JK selama lima tahun terakhir. “Kami merasa kewajiban ini justru menjadi kesempatan emas untuk menimba pengetahuan dan pengalaman. Sosok JK bukan hanya memiliki ketokohan yang melegenda di Indonesia, tetapi di dunia,” katanya.

Oemar menuturkan kiprah JK menjadi Wapres RI selama dua periode, yaitu 2004-2009 dan 2014-2019, bukanlah hal yang sering terjadi. Dia menilai JK sering meluncurkan inisiatif yang orisinal selama menjabat sebagai Wapres RI. Sumbangan pemikiran JK, lanjut Oemar, berlaku untuk semua bidang, misalnya ekonomi, sosial, pendidikan, keumatan, hingga diplomasi internasional.

“Pak JK ini bukan profesor akademik. Namun, pengalaman kami sehari-hari justru ide beliau membuat Phd [profesor] mengangguk-angguk dan angkat jempol,” imbuhnya. Wapres JK juga dipandang memiliki sikap negarawan yang teladan, khususnya saat memberi solusi ketika negara berada dalam situasi krisis.

Latar belakang JK sebagai pengusaha di bidang otomotif disebut benar-benar diterapkan ketika menjabat sebagai orang nomor dua se-Indonesia. Salah satunya penerapan konsep purna jual (after sales).

“Pak JK selalu bilang kita berkenalan baru start. Yang lebih penting bagi pedagang mobil itu after sales service. Hubungan 20 tahun setelahnya harus mampu bertahan,” sambung Oemar. Acara perpisahan JK dan Mufida Jusuf Kalla berlangsung sederhana, tetapi sangat berkesan.  Masing-masing perwakilan staf, ajudan, hingga Paspampres memberikan cinderamata atau kenang-kenangan untuk pasangan RI 2 ini.

Baca Juga: Kisah Cinta Presiden Pertama RI Soekarno-Hartini

Tak lupa, jajaran staf khusus juga naik ke panggung untuk menyanyikan lagu Leaving on A Jet Plane yang dipopulerkan oleh Chantal Kreviazuk. Lagu tersebut menggambarkan seseorang yang akan meninggalkan orang tercinta untuk pergi jauh. Di penghujung acara, panitia meminta JK dan Mufida untuk menaiki sepeda motor Vespa klasik berwarna biru. Plat nomornya bertuliskan UCU-IDA. Ucu merupakan panggilan akrab JK, sedangkan Ida adalah nama pendek Mufida.

Vespa merupakan simbol ketika Ucu dan Ida yang kala itu masih berseragam putih abu-abu mulai menjalin kasih sepulang sekolah hingga akhirnya ke pelaminan. Kini, Vespa biru klasik tersebut seperti mengisyaratkan salam perpisahan. Setelah 10 tahun menjalani suka dan duka, Daeng Ucu akhirnya pergi meninggalkan istana Medan Merdeka Selatan dan kantor Medan Merdeka Utara.

Setelah ini, mereka akan menghabiskan masa pensiun bersama tanpa ada gangguan pekerjaan, rapat terbatas, atau agenda Sidang Umum PBB.

“So kiss me and smile for me
Tell me that you’ll wait for me
Hold me like you’ll never let me go
‘Cause I’m leaving on a jet plane
I don’t know when I’ll be back again
Oh, babe, I hate to go”

bsnws.

LEAVE A REPLY