Pertama Kali Digelar, Hukuman Cambuk di Luar Pekarangan Masjid Banda Aceh

0
71
Pertama Kali Digelar, Hukuman Cambuk di Luar Pekarangan Masjid Banda Aceh.
Pertama Kali Digelar, Hukuman Cambuk di Luar Pekarangan Masjid Banda Aceh.

JAKARTA, Nawacita – PERTAMA kalinya sejak 2018, penyelenggaraan hukuman cambuk di Banda Aceh, Provinsi Aceh, dilaksanakan di luar pekarangan masjid. Hukuman cambuk ini tepatnya dilakukan pada Kamis 19 September 2019.

Dalam pelaksanaan hukuman tersebut terdapat enam terpidana kasus ikhtilat (bercumbu) yang dicambuk di Taman Bustanus Salatin. Lokasi ini berjarak sekira 1 kilometer dari Masjid Raya Baiturrahman.

Ketiga pasangan itu diturunkan dari dalam kendaraan milik Dinas Satuan Polisi Pamong Praja dan Syariat Islam Kota Banda Aceh. Semuanya mengenakan pakaian serba putih dan bersiap naik ke panggung. Berdasarkan pengamatan wartawan di Aceh, Hidayatullah, yang melaporkan untuk pers, hanya puluhan warga yang menyaksikan pelaksanaan hukuman cambuk ini.

Baca Juga: Pertama di Dunia, Sepeda Motor Hibrida Dirakit di Sunter

Kondisi tersebut berbeda ketika hukuman secara reguler digelar di pekarangan Masjid Raya Baiturrahman yang disaksikan ratusan orang dan kerap menyoraki terpidana. Di Taman Bustanus Salatin tidak terdengar sorakan dan teriakan penghinaan untuk semua terpidana.

Warga hanya menyaksikan dua terpidana yang tampak tidak mampu berdiri usai disabet rotan sepanjang 1 meter sebanyak 20 kali dan harus dipapah saat turun dari panggung cambuk.

Di Malaysia Tertutup

Salah seorang warga Malaysia yang kuliah di Aceh, Ulya Binti Thalal, mengatakan pelaksanaan hukuman cambuk yang terjadi di Aceh dan di negaranya jauh berbeda. “Di tempat kami dilakukan secara tertutup dan warga tidak melihat langsung. Hanya dapat diketahui dari media massa,” ungkap Ulya.

Hukuman cambuk sejatinya pernah dipindah pada 2018. Saat itu Pemerintah Provinsi Aceh bersama Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sepakat memindahkan lokasi hukuman cambuk dari tempat umum ke dalam kompleks penjara atau lembaga pemasyarakatan agar tertutup dari pandangan publik.

Namun, hal tersebut hanya berlangsung beberapa bulan dan hukuman cambuk kembali digelar di pekarangan masjid.

Sengaja Dilakukan

Wali Kota Banda Aceh Aminullah mengatakan pemindahan lokasi cambuk ke luar pekarangan masjid sengaja dilakukan.

“Karena kalau di masjid warga sudah lumrah mengetahui cambuk sehingga membawa anak-anak menonton. Dengan pemindahan tempat baru, maka belum terlalu banyak orang yang mengetahui lokasi cambuk tersebut, jadi pelaksanaan berjalan dengan tertib,” kata Aminullah kepada wartawan di Banda Aceh, Hidayatullah, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Aminullah menambahkan, pemindahan lokasi eksekusi hukuman cambuk tidak melanggar ketentuan dalam qanun syariat Islam, sebab hukuman tersebut masih dilakukan di area publik. “Cambuk di mana saja dapat dilakukan, yang penting di tempat terbuka dan dapat disaksikan oleh semua orang yang ingin melihat sehingga dapat memberikan efek jera,” ungkap Aminullah.

Baca Juga: Pertama Di Asia Pasifik, Kaspersky Membuka Pusat Transparansi

Akan tetapi, Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Syiah Kuala, Masrizal, skeptis dengan efek jera dari hukuman cambuk. Dia menilai pemerintah seharusnya melakukan penelitian, sudah sejauh mana cambuk dapat mengurangi pelanggaran syariat di Aceh.

“Jangan hanya cambuk, namun tanyakan semua pelanggar dan semua orang lain sudah sejauh mana cambuk tersebut dapat mengubah masyarakat sehingga tidak lagi melakukan pelanggaran syariat,” ucap Masrizal.

Walau demikian, Masrizal menyambut baik pemindahan lokasi eksekusi hukuman cambuk dari pekarangan masjid ke tempat lain. Menurut dia, harus dibedakan antara rumah ibadah dan tempat eksekusi cambuk.

oknws.

LEAVE A REPLY