Lebih Bahaya Mana? Dampak Asap Karhutla atau Polusi Kendaraan

0
46
Ilustrasi Polusi Udara.
Ilustrasi Polusi Udara.

SURABAYA, Nawacita Dampak asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Riau, Sumatera hingga Kalimantan dinilai sangat mengkhawatirkan. Tapi jika dibandingkan dengan paparan polusi asap kendaraan di perkotaan besar, kira-kira lebih bahaya mana ya?

Asap Karhutla dan asap kendaraan masuk kategori polusi udara di luar ruangan. Dampaknya untuk kesehatan jelas membahayakan, namun tergantung pada besarnya konsentrasi dan lamanya terpapar.

Spesialis Paru dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), FISR, FAPSR menjelaskan, jika dinilai dari Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), cara pengukuran kualitas udaranya sama. Orang dengan kelompok rentan pasti akan terkena dampaknya lebih berat.

Baca Juga: Tips Aman Beraktivitas di Wilayah Terdampak Kabut Asap

“Secara pengukuran kualitas udara itu sama, baik asap Karhutla atau asap kendaraan. Berbahaya atau tidak tergantung masuk zona mana, besarnya polutan dan lamanya orang terekspose,” ucapnya saat dihubungi wartawan, Kamis (19/9/2019).

Dokter Agus menerangkan, angka parameter ISPU yang dipakai biasanya 0-50 sehat, 50-100 sedang, 100-150 sudah menjadi perhatian kelompok sensitif, di atas 150 sudah tidak sehat, 200-300 tidak sehat, di atas 300 sangat berbahaya.

Untuk ISPU asap Karhutla, sebut Dokter Agus, bisa di atas 300. Artinya ini sangat bahaya untuk kesehatan seseorang, terutama pada kelompok rentan. “Kalau ISPU di atas 300 itu menjadi warning, bahkan kabarnya sampai 2.000. Sementara polutan biasa paling banter ISPU-nya antara 150 sampai 200,” terangnya.

Bukan dari sisi ISPU saja, kandungan bahan kimia dari asap Karhutla dan polusi kendaraan juga membahayakan tubuh. Namun keduanya memiliki kandungan berbeda, dari komponen gas dan partikel halusnya.

Di dalam komponen gas, umumnya mengandung karbonmonoksida karbondioksida, nitrik oksida, sulfur oksid, dan ozon. Namun penelitian di Institut Pertanian Bogor (IPB) menyebutkan, asap Karhutla memiliki kandungan gas partikel yang beda dengan polutan biasa.

“Ternyata asap Karhutla jauh lebih banyak karena karena gambut atau bahan alami yang mengeluarkan zat kimia itu itu jauh lebih banyak. Tentu kalau dilihat kontennya, risiko kesehatan lebih cepat muncul karena kebakaran hutan, daripada polutan biasa,” ungkap Dokter Agus.

Baca Juga: Masalah Karhutla di Indonesia, Sampai Kapan?

Dokter Agus membeberkan, dalam jangka pendek, seseorang yang terpapar asap Karhutla sangat rentan kekurangan oksigen. Akibatnya sesak napas, cepat lemah, sakit kepala, bahkan pingsan.

Sebagian besar bisa juga sebabkan iritasi karena asap itu sifatnya mengeluarkan iritan. Ketika mengalami iritasi mata jadi merah, gatal, berair, batuk berdahak, tenggorokan panas, sampai kulit juga gatal.

“Bisa berlanjut pula seperti peradangan, kuman masuk, ISPA, radang paru, pneumonia. Untuk orang yang sudah kena asma, PPOK pasti sering masuk rumah sakit, banyak dirawat, berisiko kematian tinggi,” simpul Dokter Agus.

oknws.

LEAVE A REPLY