Masalah Karhutla di Indonesia, Sampai Kapan?

0
78
Masalah Karhutla di Indonesia, Sampai Kapan?
Masalah Karhutla di Indonesia, Sampai Kapan?

JAKARTA, NawacitaHUTAN dan lahan kebakaran, berita di banyak media terus mengangkat peristiwa yang tidak kunjung henti tiap tahunnya tersebut. Bahkan, menurut catatan Wikipedia, pada 1997 menjadi salah satu kebakaran terbesar yang asapnya “dikirim” ke Brunei dan sebagian kecil wilayah Thailand, Vietnam, Filipina, dan Australia utara.

Pada kebakaran tahun ini, asapnya pun sampai ke Malaysia. Sehingga membuat Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad akan menyurati Presiden Joko Widodo untuk mengeluhkan dampak asap kebakaran hutan Indonesia.

Dampak kebakaran hutan disebut membuat wilayah Kuching, Sarawak diselimuti kabut tebal.

Baca Juga: Karhutla Jambi dan Sumsel Perburuk Kualitas Udara Sumbar

Namun Menteri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya membantah laporan Malaysia dan mengatakan asap kebakaran hutan Indonesia tidak menyeberang ke Malaysia, serta menuding Malaysia tidak membuka data terkait kebakaran hutan di negaranya.

Menteri Lingkungan Malaysia, Yeo Bee Yin lalu membalas pernyataan Siti Nurbaya bahwa PM Malaysia akan menyurati Jokowi terkait asap kebakaran hutan.

“Saya telah membahas hal ini dengan perdana menteri (Mahathir Mohamad) dan dia telah setuju untuk menulis surat kepada Presiden Jokowi untuk menarik perhatiannya terhadap masalah asap,” ujar Yeo Bee Yin mengutip Malay Mail, Kamis 12 September 2019.

Terlepas dari saling bantah soal data para pejabat dari dua negara, yang pasti pesawat yang mengangkut jamaah haji dari Arab Saudi dan hendak mendarat di Kalimantan Barat hari ini, harus beralih ke Bandara Soekarno-Hatta lantaran tebalnya asap.

Sementara di Sumatera, beberapa pemerintah daerah memutuskan untuk menghentikan aktivitas belajar mengajar sekolah karena kondisi udara di yang semakin pekat.

Baca Juga: PM Malaysia Akan Surati Jokowi Soal Kabut Asap

Tak cuma manusia, kebakaran hutan tentu ganggu kehidupan hewan selaku penghuninya. Sebanyak dua ekor ular besar dan satu ekor ular kecil yang disebut-sebut sebagai keluarga ular ditemukan mati di tengah kebakaran lahan yang melanda kawasan Kalimantan Tengah. Peristiwa itu divideokan hingga menjadi viral di media sosial.

Sampai Kapan?

Pemerintah terus berupaya memadamkan api. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menegaskan akan mengerahkan satu pesawat untuk operasi Teknologi Modifikasi Cuaca atau TMC. Pesawat yang didatangkan adalah jenis CN295 yang dinilai lebih mumpuni.

“Pesawat yang kita datangkan ini mampu mengangkut garam atau NHCL 2,5 ton. Pesawat CN295 sehari bisa beroperasi selama 2 kali,” kata Panglima TNI.

Perusahaan yang diduga jadi biang keladi juga diberi tindakan hukum atas apa yang terjadi. Polisi dan TNI yang dinilai gagal mengatasi kebakaran, pun terancam dipecat.

Namun semua hal itu bukan kali pertama dijalani, tiap tahun pun begitu tapi kebakaran terus terjadi. Rasanya bukan lagi saatnya mencari siapa yang salah, tapi cari solusi agar kebakaran tak melulu terjadi.

Baca Juga: Masyarakat Riau Keluarkan Petisi Terkait Kabut Asap Karhutla

Menko Polhukam Wiranto sebelumnya menjelaskan beberapa upaya yang dilakukan untuk menghentikan kebakaran hutan adalah pasukan darat yang bertugas memadamkan api. Selain itu Kedua, perlu memanfaatkan peluang hujan buatan. Menurutnya, jika ada hujan buatan, maka semua permasalahan karhutla bisa diselesaikan.

Bom air juga salah satu upaya yang akan terus dilakukan untuk memadamkan titik api. Dan yang tak kalah penting, adalah penegakan hukum bagi mereka yang melanggar agar tidak lagi seenaknya bisa membakar hutan.

Dengan langkah-langkah yang telah disusun itu, diharapkan benar-benar bisa mengatasi kebakaran hutan di negeri ini.

oknws.

LEAVE A REPLY