Golkar Akan Kembali Terpecah, Bamsoet vs Airlangga

0
72
Bambang Soesatyo dan Airlangga Hartarto.
Bambang Soesatyo dan Airlangga Hartarto.

JAKARTA, Nawacita – Tak lepas dirundung malang, Partai Golkar kembali dilanda perpecahan internal dalam beberapa pekan terakhir menjelang musyawarah nasional (munas) pada tahun ini.

Sejumlah intrik maupun penggalangan dukungan pada sosok calon ketua umum makin terlihat membelah salah satu parpol tertua di Indonesia itu. Pembelahan tersebut dipicu oleh persaingan antara Wakil Koordinator Bidang Pratama Golkar, Bambang Soesatyo alias Bamsoet dan sang Ketua Umum Airlangga Hartarto selaku bakal calon petahana untuk merebut posisi puncak di partai itu.

Sebagai Ketua DPR, secara lantang Bamsoet mengklaim  telah mendapat dukungan dari sejumlah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Tingkat I dan organisasi sayap partai. Hal itu dikemukakannya dalam sejumlah kesempatan, termasuk dalam pertemuannya dengan organisasi sayap Golkar.

Baca Juga: DPD Golkar Se-Riau Dukung Airlangga Jadi Ketum Lagi

Sedangkan, Airlangga secara mengejutkan beberapa waktu lalu memboyong 34 Ketua DPD Golkar untuk menghadap Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Sulit untuk dibantah kalau apa yang dilakukan oleh Airlangga tersebut merupakan move politik bahwa partai yang biasanya merapat ke pemerintah itu masih eksis mendukung Jokowi.

Sebagai Menteri Perindustrian, Airlangga juga terlihat akrab dengan Presiden Jokowi dalam beberapa kesempatan, termasuk saat meresmikan mobil Esemka pekan lalu.

1. Teman Dekat Lawan Berat

Hanya saja, sampai di mana ujung persaingan kedua tokoh senior partai tersebut masih sulit untuk ditebak. Apalagi, keduanya pernah berada pada kubu yang sama saat terjadi perebutan posisi ketua umum pada Munas Luar Biasa Partai Golkar di Bali pada 2016.

Saat itu, Ade Komaruddin yang dalam posisi sebagai Ketua DPR berhadapan dengan Setya Novanto yang merupakan mantan ketua DPR.

Novanto mundur karena harus menghadapi penyelidikan atas kasus ‘papa minta saham’ yang melibatkan perusahaan multinasional PT Freeport Indonesia.

Akan tetapi, Novanto terpilih menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar secara aklamasi tanpa pemungutan suara putaran kedua. Pasalnya, Ade Komarudin menyatakan tak melanjutkan pertarungan melawan Setya setelah mendapat masukan dari para senior Partai Golkar.

2. Punya Peluang Sama

Pengamat politik Adi Prayitno menilai kini keduanya sama-sama memiliki peluang untuk menjadi ketua umum. Sebab, Airlangga dan Bamsoet merupakan tokoh senior yang kini ada di tubuh partai berlambang pohon beringin itu dengan keunggulan dan kekuatan masing-masing.

Berbeda dari sejumlah partai politik lainnya, Golkar memang kaya dengan kader berkualitas, sehingga tidak bergantung pada satu tokoh. Karena itu peluang Bamsoet tetap signifikan untuk merebut posisi puncak di posisi partai yang telah eksis sejak era Orde Baru itu.

Hanya saja, selaku petahana, Airlangga memiliki power yang lebih besar dari Bamsoet, kata Adi.

Tak hanya sekadar berada di kabinet, sebagai ketua umum Golkar, Airlangga memiliki penetrasi yang kuat ke tingkat DPD. Bahkan Airlangga lah yang merekomendasikan Bamsoet sebagai Ketua DPR.

3. Bamsoet Desak Munas Dipercepat

Karena itu, tidak heran kalau Bamsoet mendesak munas digelar lebih cepat, yakni sebelum Oktober 2019. Sulit untuk dibantah kalau mempercepat munas merupakan cara agar Bamsoet dapat memaksimalkan posisinya sebagai Ketua DPR untuk menggalang dukungan di internal Golkar.

Lewat posisi Ketua DPR, Bamsoet juga bisa menggalang dukungan di pengurus daerah hingga eksekutif kalau memang bisa dilakukan.

Baca Juga: Simpatisan Partai Golkar Ingin Bamsoet Jadi Ketum

Secara faktual memang posisi Bamsoet agak terjepit, kalau munas tidak dilakukan hingga September berakhir. Alasannya, selain berakhirnya jabatannya sebagai ketua DPR pada bulan ini, Airlangga punya posisi tawar ke Presiden Jokowi yang akan menyusun kabinet untuk periode kepemimpinannya yang kedua.

Secara tradisi, Partai Golkar memang membutuhkan restu penguasa selain dukungan dari DPD dan para senior Partai Golkar. Tanpa faktor tersebut akan sulit bagi seorang calon ketua umum Golkar untuk menang di Munas. Itu sejumlah poin yang bisa dinikmati Airlangga.

Pada sisi lan, untuk kekuatan jaringan, Bamsoet lebih piawai dalam membangun dukungan, sehingga mendapat kekuatan suara dari Perempuan Partai Golkar (KPPG).

4. Jaringan dan Modal Besar

Bamsoet juga aktif di Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan dan Putra-putri TNI-Polri (FKPPI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sehingga bisa memanfaatkan jaringan tersebut untuk mendulang dukungan di kalangan para senior.

Akan tetapi, secara tradisi pula partai berlambang pohon beringin itu selama ini kalau tidak dipimpin oleh sosok yang punya modal besar seperti Jusuf Kalla, dipimpin oleh sosok yang punya jaringan seperti sosok Akbar Tandjung.

Karena itulah mesin politik Partai Golkar kian memanas menjelang munas yang selambat-lambatnya akan digelar pada Desember tahun ini.

Bamsoet dan Airlangga seolah-olah sudah menjadi calon resmi ketua umum Partai Golkar dalam sebuah pusaran politik yang tidak berkesudahan. Kita tunggu saja!

bsnws.

LEAVE A REPLY