Benarkah? Stres Ternyata Bisa Berdampak Positif

0
39
Stres Ternyata Bisa Berdampak Positif.
Stres Ternyata Bisa Berdampak Positif.

SURABAYA, Nawacita Kehidupan sehari-hari tidak bisa terlepas dari yang namanya stres. Beban pekerjaan, tanggung jawab atas suatu hal, ujian, masalah keuangan, dan hubungan dengan orang lain bisa menjadi faktor seseorang mengalami stres. Namun yang perlu dilakukan adalah mengelola stres tersebut agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik.

Stres memang membawa banyak masalah pada tubuh dengan menyerang otak dan saraf, jantung, lambung, pankreas, usus, organ reproduksi, serta lainnya. Pada otak dan saraf stres dapat menyebabkan sakit kepala, putus asa, kelelahan, sedih, cemas, marah, iritabilitas, sulit konsentrasi, gangguan memori, gangguan tidur, serta gangguan jiwa seperti kecemasan, panik, dan depresi.

Kemudian pada jantung, stres bisa menyebabkan perasaan berdebar, tekanan darah meningkat, risiko kolesterol tinggi, dan meningkatkan kemungkinan serangan jantung. Pada lambung, stres menyebabkan mual, nyeri lambung, nyeri ulu hati, peningkatan berat badan, dan nafsu makan menurun atau meningkat. Lalu pada pankreas stres menyebabkan peningkatan risiko diabetes.

Baca Juga: Waspada Gejala Distimia, Depresi Kronis yang Sering Tidak Disadari

Sedangkan pada usus stres menyebabkan diare, konstipasi, dan masalah pencernaan lain. Stres juga membawa masalah pada organ reproduksi. Pada wanita dampaknya menstruasi tidak teratur dan terasa nyeri serta gairah seksual menurun. Pada pria bisa terjadi impotensi, produksi sperma menurun, dan gairah seksual menurun. Masalah lainnya dari stres adalah jerawat, masalah kulit, ketegangan otot, risiko massa tulang rendah, dan melemahnya sistem imun.

Namun, pada kondisi tertentu sebenarnya stres malah bisa berdampak positif. Dijelaskan oleh dokter spesialis kesehatan jiwa dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Timur, dr Albert Maramis, SpKJ, stres sebenarnya adalah reaksi tubuh terhadap suatu perubahan yang bersifat memaksa atau membutuhkan penyesuain diri. Reaksi tersebut dapat berupa respons fisik, mental, dan emosional.

“Stres itu dalam keadaan tertentu kadang dibutuhkan. Sebab stres bisa jadi baik, bisa jadi buruk,” ungkap dr Albert saat ditemui dalam acara Partners Gathering MIKA, Rabu, 10 Juli 2019 di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.

Dokter Albert mencontohkan, saat seseorang merasa stres karena ujian, maka dirinya akan berusaha untuk belajar dengan baik agar bisa mengerjakan soal-soal.

“Bayangkan kalau dia tidak merasa stres, dia tidak belajar. Hasil ujiannya bisa jadi jelek. Dalam hal ini stres menjadi baik karena bisa mendorong seseorang berprestasi,” jelasnya.

Baca Juga: Mengenal Skizofrenia, Gangguan Mental Dengan Perubahan Perilaku

Stres yang berdampak positif dikenal dengan istilah eustres. Jenis stres ini menguntungkan bagi kesehatan, motivasi, kinerja, dan kesejahteraan. Biasanya orang-orang yang mengalami akan merasa positif dan menyemangati diri sendiri serta mampu mengatasi rasa stres itu.

Sebaliknya, jenis stres yang berdampak negatif dengan istilah distres. Kondisi ini ditandai dengan perasaan tidak menyenangkan, tenaga terkuras, menurunkan kinerja, tidak dapat diatasi, dan terjadi dalam jangka panjang. Tanda-tanda ini harus diwaspadai.

“Orang seringkali tidak waspada jika dirinya stres, mereka kerap memaksakan diri untuk tetap bertahan. Padahal tingkat stresnya itu sudah melebihi kemampuan diri untuk beradaptasi. Di saat inilah mereka membutuhkan bantuan untuk mengatasi stres, mulai dari bantuan terhadap diri sendiri, bantuan dari orang lain, hingga tenaga profesional,” tandas dr Albert.

oknws.

LEAVE A REPLY