Polri-TNI Diminta MUI Usut Tuntas Kericuhan 21-22 Mei

0
37
MUI Minta Polri-TNI Usut Tuntas Aktor Intelektual di Balik Kericuhan 21-22 Mei.
MUI Minta Polri-TNI Usut Tuntas Aktor Intelektual di Balik Kericuhan 21-22 Mei.

JAKARTA, Nawacita – Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta Polri dan TNI mengusut tuntas aktor intelektual dibalik terjadinya peristiwa kericuhan di sekitar Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Republik Indonesia pada 21–22 Mei 2019.

“Sebagai negara hukum, polisi wajib menegakkan hukum dan keadilan agar keamanan dan rasa aman masyarakat dapat dijamin,” kata Wakil Ketua Komisi Hukum MUI Ikhsan Abdullah di Jakarta, Minggu (26/5/2019).

MUI menilai tindakan tegas yang dilakukan TNI dan Polri dalam membubarkan massa Aksi 21–22 Mei yang ricuh sudah prosedural serta sesuai norma hukum yang berlaku.

Baca Juga: Polri Tangkap 300 Provokator di Balik Kerusuhan 22 Mei

“Tindakan penangkapan yang dilakukan Polri dan TNI kepada sekelompok masa perusuh sangat tepat,” jelas Ikhsan.

Menurut lembaga independen yang mewadahi para ulama, zuama, dan cendekiawan Islam itu, aparat gabungan telah sangat persuasif kepada massa yang diduga coba mencederai proses demokrasi di Indonesia.

Ikhsan menambahkan, persuasif itu terbukti dari diperbolehkannya massa aksi menggelar unjuk rasa hingga malam. Padahal dalam undang-undang (UU) yang berlaku, demonstrasi hanya diperkenankan sampai pukul 17.00 WIB.

“Polri telah mengawal masyarakat yang menyampaikan aspirasinya sejak pagi sampai diakhiri dengan Tarawih di jalanan walau dalam kesepakatan seharusnya massa harus membubarkan diri selepas buka puasa dan Salat Magrib. Ini sebagai bentuk kelonggaran waktu yang cukup tinggi dari Polri dan TNI,” papar Ikhsan.

Alasan persuasif lainnya, kata Ikhsan, adalah TNI-Polri tidak terpancing menggunakan satu pun peluru tajam untuk membubarkan para massa aksi yang membuat kericuhan di Ibu Kota tersebut.

Baca Juga: Catatan Sejarah 27 Mei: Lumpur Lapindo Mulai Genangi Sidoarjo Hingga Hari Kelahiran Titi DJ

Padahal, menurut Ikhsan, aparat bisa saja menggunakan peluru tajam untuk membubarkan para massa aksi yang memang sudah sengaja untuk membuat Aksi 21–22 Mei yang awalnya kondusif berubah menjadi chaos.

“Ini tindakan yang harus kita puji. Bayangkan kalau sesuai SOP perusuh harusnya sudah ditembaki dengan peluru tajam, karena massa membuat kerusuhan, menyerang polisi-TNI, merusak, dan membakar harta benda milik masyarakat. Ini harusnya justru polisi memiliki kewenangan untuk menembak di tempat,” ujar Ikhsan.

“Tapi, alhamdulillah Polri dan TNI kita sangat sabar dan menunjukkan kelasnya di bulan Ramadhan sebagai pengaman dan pelindung masyarakat. Sekalipun ke depan Polri tidak harus memberikan toleransi apapun kepada perusuh,” ucap Ikhsan mengakhiri.

oknws.

LEAVE A REPLY