Patgulipat Prabowo-Sandi Ingin Menang

0
62
Prabowo Subianto bersama Sandiaga Uno.
Prabowo Subianto bersama Sandiaga Uno.

Nawacita – Ungkap Curang, Aib Sendiri Terbuka

Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-KH. Ma’ruf Amin menyayangkan aksi buka-bukaan Kubu Prabowo-Sandi terkait kecurangan Pilpres 2019. Aksi ini justru malah membuka tabir aib mereka sendiri, yang terbukti melakukan kecurangan di sejumlah daerah.

“Karena kebohongan ditutup kebohongan lalu ditutup lagi dengan kebohongan berikutnya. Lama-lama jadi kehilangan kesadarannya kalau lagi berbohong. Akhirnya malah bongkar aib sendiri,” ujar Wakil Direktur Saksi TKN Lukman Edy, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Rabu (15/5).

BPN 02 mengungkapkan keberadaan TPS Tuyul di Sukabumi. Di mana terdapat sejumlah pemilih DPT dengan tanggal lahir yang sama. Dari penelusuran tim TKN, kubu Prabowo-Sandi justru meraih diuntungkan di TPS 13 Nanggerang yang disebut sebagai TPS Tuyul. Paslon 02 meraih suara tertinggi sebesar 130. Sementara Jokowi-Amin mendapatkan 47 suara.

Padahal kasus hari ultah yang sama kerap terjadi di desa atau daerah terpencil. Pasalnya, banyak warga perdesaan yang tidak ingat dengan tanggal lahirnya atau lahir tanpa sertifikat kelahiran. Undang-undang memberikan kesempatan kepada mereka menentukan tanggal lahir guna memenuhi persyaratan kartu identitas penduduk.

Berdasarkan aturan Sistem Informasi Manajemen Kependudukan (Simduk) yang berlaku sebelum tahun 2004, penduduk yang lupa tanggal lahirnya akan ditulis lahir pada 31 Desember. Sedangkan, Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) yang berlaku mulai tahun 2004 mengatur penduduk yang lupa tanggal lahirnya akan dicatat lahir pada 1 Juli atau dicatat pada tanggal 15 jika mereka ingat bulan lahirnya.

“Entah BPN tidak paham soal aturan tanggal lahir ini, atau mereka memang sengaja membuat gaduh. Seakan-akan ada kecurangan yang dilakukan KPU. Jadi siapa yang diuntungkan dari TPS Tuyul ini? Yah mereka kan,” pungkas Lukman Edy.

Sementara itu, Direktur Konten TKN Fiki Satari menyatakan, upaya delegitimasi pemilu tidak mencerminkan kualitas dan kedewasaan calon pemimpin maupun kelompok elite untuk membangun bangsa Indonesia ke arah yang lebih maju. Apalagi usaha tersebut ditujukan membentuk kecemasan dan kebingungan di masyarakat.

Fiki mengungkapkan terdapat empat tahapan dalam skenario deligitimasi pemilu yang dilakukan oleh BPN 02:

Disorientasi

Prabowo Subianto maupun Sandiaga Uno di berbagai kesempatan kampanye politiknya sering menyebut kabar hoax mengenai tarif listrik tinggi menjerat rakyat. Padahal, PLN tidak pernah menaikkan tarif sejak Juli 2015. Bahkan, mulai 1 Maret 2019, PLN menurunkan tarif listrik bagi 21 juta pelanggan R-1 900 VA Rumah Tangga Mampu (RTM).

Distrust

BPN 02 kompak menjalankan skenario mendelegitimasi penyelenggara pemilu dengan rajin berteriak curang yang berujung menimbulkan rasa ketidakpercayaan rakyat. Namun, penelusuran tim TKN di lapangan justru menemukan sejumlah kecurangan yang dilakukan pihak 02.

Mulai dari pencoblosan surat suara, politik uang, sampai penolakan saksi 02 menandatangani surat hasil pemilu, meski tidak ditemukan adanya kecurangan. Sebab, para saksi 02 memang telah diinstruksikan oleh BPN tidak menandatangani surat hasil pilpres.

“Bagaimana mungkin kubu 02 klaim menang 62% tapi tidak mempunyai saksi saat rekapitulasi. Setelah itu mereka terbukti gak pegang salinan C1. Kini klaimnya berubah lagi jadi 54%. Ini memang skenario untuk menjatuhkan KPU,” tegas Fiki.

Disobedience

Setelah penghitungan suara KPU bergerak stabil dan menunjukkan keunggulan Jokowi-Amin dengan selisih belasan juta suara. BPN 02 mulai melancarkan skenario lanjutannya yakni mendorong publik melakukan pembangkangan dengan tidak menerima hasil penghitungan suara.

Mereka memulainya dengan narasi meragukan dan menolak hasil quick count lembaga survei serta penyelenggara pemilu. Namun, setelah perolehan suara sejumlah parpol koalisi menembus threshold 4%, narasi BPN lalu berubah menjadi tidak mengakui hasil Pilpres 2019.

Perlu diingat, rangkaian Pemilu Serentak 2019 diikuti oleh lebih dari 80% pemilih. Dengan jumlah suara terhitung telah menembus batas psikologis 80 juta suara, kans Jokowi-Amin memenangi Pilpres 2019 telah di depan mata. Berarti, pasangan Jokowi-Amin dipilih berdasarkan suara rakyat sesuai konstitusi yang berlaku.

People Power

Mobilisasi massa oleh oknum atau pendukung Prabowo-Sandi telah berlangsung di sejumlah tempat. Mereka meluncurkan tekanan politik jalanan untuk memaksa KPU mendiskualifikasi pasangan Jokowi-Amin. Dengan demikian, skenario lanjutannya adalah menekan KPU yang dituding curang, untuk mendiskualifikasi Jokowi-Amin.

“Benar atau salahnya biar masyarakat yang menilai sendiri apa yang pihak 02 pertontonkan. Namun TKN yakin kedewasaan politik rakyat telah maju sehingga mampu memberikan penilaian yang baik,” ujar Fiki.

Berkaca pada hal ini, TKN mengimbau kepada masyarakat untuk mengawal kerja KPU dan Bawaslu, dan mengesampingkan segala informasi sesat dan fitnah yang berseliweran di media sosial untuk mendeligitimasi lembaga pemilu. (Moh. Yaqin)

LEAVE A REPLY