Wagub Emil Dardak Ingin Konsep Kota Aglomerasi Bisa Diterapkan di Jatim

0
42

Malang, Nawacita – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menginginkan agar pembangunan di Provinsi Jatim terjadi keseimbangan pembangunan antara perkotaan dengan pedesaan. Tidak hanya itu saja, pembangunan perekonomian juga diharapkan terjadi kesetaraan dengan cara mengembangkan salah satu kawasan sebagai pusat kota dalam upaya menumbuhkan wilayah setempat.

“Tetapi yang lebih mendapatkan perhatian adalah tumbuhnya pengembangan ekonomi di kota-kota kecil sebagai penyangganya atau intermedianya. Seperti pengembangan ekonomi di Kota Kediri, Kota Madiun yang mampu menjadi aglomerasi atau kawasan pusat kota yang menjadi pusat pertumbuhan di wilayah sekitarnya,” ujarnya saat menjadi narasumber di acara “The 4th International Conference Planning in The Era Uncertainty”, di Universitas Brawijaya (UB) Malang, Rabu (13/3).

Salah satu contoh yang pernah dilakukannya adalah ketika dirinya meneliti Kecamatan Boyolali, Jawa Tengah sebagai syarat mencapai gelar doktoralnya. Dimana wilayah tersebut mampu menjadi kota aglomerasi desa-desa di sekitarnya.

“Di situ terdapat pusat industri yang mewadahi produk-produk hasil produksi desa sekitarnya, seperti produk susu, daging atau hasil pengolahan lainnya. Akibatnya perkembangan ekonomi di kecamatan dan desa sekitarnya dapat tumbuh dengan baik,” ungkapnya

Sementara saat menyampaikan paparannya yang berjudul “Bridging of Urban and Regional Development”, Wagub Emil Dardak menyampaikan beberapa syarat untuk menjadikan sebuah kota aglomerasi bagi daerah sekitarnya. Yakni soal tersedianya tenaga kerja yang cukup banyak, dan berkembangnya pusat-pusat industri kecil. Disamping itu, pemerintah daerah harus mampu membangun taman-taman kota, sehingga bisa menjadi pusat rekreasi bagi masyarakat sekitar yang pada akhirnya akan tumbuh pusat perekonomian di tengah keramaian.

“Jadi tujuannya untuk lebih mengembangkan daerah dan menjadi daya tarik masyarakat agar mengunjungi kota aglomerasi,” jelasnya.

Menurut Wagub Emil Dardak, dalam membangun kota aglomerasi juga bisa dikembangkan di wilayah yang terdampak dan seakan menjadi daerah terisolir, seperti terkena dampak jalan TOL. Salah satu caranya, pemerintah harus memikirkan dan membangun kota aglomerasi di daerah tersebut.

“Perlu dibangun cluster-cluster baru di gerbang-gerbang keluar jalan TOL. Karena jalan yang lama yang bukan menuju jalan TOL perkembangan ekonominya menjadi berkurang,” ungkapnya.

Dirinya mencontohkan, daerah Serpong di Jakarta, pertumbuhan perekonomiannya begitu pesat setelah dibangunnya jalan TOL. Di daerah tersebut juga dijadikan pusat industri yang menampung begitu banyak tenaga kerja.

“Dengan melihat daerah Serpong, alangkah baiknya bila sistem tersebut dikembangkan di Malang, karena posisinya sangat strategis, dan menurutnya perlu dibangun ring road sebagai jalur koneksi antar beberapa daerah,” pungkasnya.

“The 4th International Conference Planning in The Era Uncertainty” (Perencanaan konferensi internasional di era ketidakpastian), merupakan agenda yang diadakan oleh Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang. Tujuannya yakni untuk menyelaraskan beberapa perspektif kontektual terkait inovasi dan kreatifitas yang tetap memperhatikan nilai ekonomi, ekologi dan sosial agar dapat menciptakan bangsa yang berkelanjutan (sustainable nation), serta berdampak pada peningkatan daya saing berkelanjutan.

Sustainable nation tersebut membutuhkan rekomendasi maupun sinkronisasi dari stakeholder ayang terlibat baik dari akademisi, sektor privat maupun pemerintah. Sehingga, nantinya akan menciptakan kota yang inklusif, nyaman dan berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan satu bentuk penguatan komunikasi lintas keilmuan, dengan membangun kerangka komunikatif antara peneliti, dan praktisi dari berbagai bidang keilmuan (teknik, geografi, MIPA, sosiologi, studi pembangunan dan lainnya, untuk bersama-sama memetakan berbagai alternatif sebagai solusi yang integratif bagi isu pembangunan wilayah dan kota terkini.

( Hms/dny)

LEAVE A REPLY