Viral Nyanyian Agum Gumelar Soal Penculikan 1998 dan Pemecatan Prabowo

0
123
Agum Gumelar
Agum Gumelar

Jakarta, Nawacita – Jenderal TNI (purn) Agum Gumelar menghebohkan media sosial dengan ucapannya yang beredar lewat sebuah video baru-baru ini. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Joko Widodo ini membeberkan kesalahan calon presiden Prabowo Subianto sebagai pelaku pelanggaran HAM berat.

Agum waktu itu menjadi salah satu anggota Dewan Kehormatan Perwira yang ikut menyidangkan Prabowo Subianto. Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus sebelum Prabowo ini mengaku bicara dari hati ke hati dengan anggota Tim Mawar–tim yang diduga melakukan penculikan dan penghilangan paksa aktivis 1997/1998, yang merupakan bekas anak buahnya.

“Ketika dari hati ke hati dengan mereka, di situlah saya tahu di mana matinya orang-orang itu, di mana dibuangnya, saya tahu detail,” kata Agum dalam sebuah video yang diunggah Ulin Niam Yusron di akun Facebooknya, Ahad, 10 Maret 2019.

Saat dikonfirmasi, Ulin tak menjawab di mana dan dalam acara apa video itu diambil. “Nah itu dia,” kata Ulin melalui pesan singkat, diikuti emoji tersenyum.

Berikut isi ucapan Agum Gumelar dalam video tersebut.

(Terpotong di bagian awal) Subagyo HS waktu itu KSAD, anggotanya ada tujuh orang, letjen-letjen bintang-bintang tiga, karena yang diperiksa bintang tiga. Termasuk di dalamnya almarhum Letjen Arie J. Kumaat, Letjen Yusuf Karta (Kartanegara), Letjen Djamari Chaniago, Letjen Fachrul Razi, Letjen Susilo Bambang Yudhoyono, Letjen Agum Gumelar. Itulah anggota DKP. Tugasnya adalah memeriksa kasus ini, kasus pelanggaran HAM berat.

Berjalanlah DKP, bekerjalah DKP sebulan lebih memeriksa yang namanya prabowo subianto. periksa. Dari hasil pemeriksaan ternyata didapat fakta bukti nyata bahwa dia telah melakukan pelanggaran HAM berat. Saya di samping anggota DKP saya mantan Danjen Kopassus. Tim Mawar yang melakukan penculikan itu bekas anak buah saya semua itu. Saya juga pendekatan dari hati ke hati dengan mereka, di luar kerjaan DKP, karena dia bekas anak buah saya toh.

Ketika dari hati ke hati dengan mereka, di sinilah saya tau di mana matinya orang-orang itu, di mana dibuangnya saya tahu detail, gitu lho. Jadi DKP dengan hasil temuan seperti ini merekomendasikan kepada Panglima TNI, rekomendasinya apa? Dengan kesalahan terbukti, direkomendasikan agar supaya yang bersangkutan diberhentikan dari dinas militer. Tanda tangan semua. Subagyo HS tanda tangan, Agum Gumelar tanda tangan, SBY tanda tangan, semua tanda tangan.

Ya walaupun saya heran, ini yang tanda tangan rekomendasi kok malah sekarang mendukung. Beda prinsip itu orang, benar itu. Itu fakta yang tidak bisa dihapus, siapa bisa menghapus ini. Sampai sekarang Amerika, Inggris, Australia, no sama Prabowo. Tidak bisa masuk ke Amerika, tidak bisa masuk ke Inggris. Ini fakta, bukan black campaign, kalau black campaign itu tanpa didukung data. Contohnya black campaign kalau ke Pak Eko (salah satu hadirin) jadi cagub di Jabar, istrinya empat. Itu namanya black campaign, padahal lima (hadirin tertawa). Ini fakta, bukan black campaign.

Jadi saya ingin…, ini kenapa jadi lupa semua? Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenali sejarah bangsanya. Satu satuan yang besar, Kopassus, satuan yang besar, adalah satuan yang anggotanya mengerti sejarah Kopassus. Tapi lupa, karena udah lama. Bahwasannya sampai detik ini Komandan Jenderal Kopassus sudah yang ke-31 sekarang. Mayjen Nyoman (I Nyoman Cantiasa) ini yang ke-31. Dari 31 Komandan Jenderal Kopassus, cuma satu yang diberhentikan dari dinas militer. Siapa dia? (hadirin menjawab: Prabowo). Ini apa? Jadi kalau buat saya, aneh bin ajaib kalau sampai dia jadi presiden. Buat saya ya, entah buat anda-anda.

(Seorang hadirin bertanya kurang lebih bagaimana memberi tahu kepada milenial) Ya memang gimana ya. Saya sendiri kan diviralkan ini, tapi mau denger apa enggak apa yang saya sampaikan ini. jadi kalau…

(Diviralkan lagi boleh enggak Pak?) Silakan aja. Gini waktu Indro Warkop itu ketika datang ke rumah saya bawa 120 orang alumni Pancasila, dalam sambutan dia, musuh kita sekarang ini cuma satu: ketidakwarasan. Ini Indro Warkop ini, mau ketawa mau gimana ini. Gitu. Jadi saya yakin di ruangan ini kita semua orang waras. Jadi kalau Pak Agum apa kabar? Oh sehat, sehat dan waras. Oh iya pasti dong.

Makanya seperti ibu-ibu di Garut itu, Jokowi, Pak Jokowi itu orangnya baik, jujur, sederhana, enggak pernah nyulik orang. Apanya? (menanggapi seseorang) Yang ngomong gitu? Oh bukan di Garut ya? Ya ya ya.

Itu kira-kira ya selebihnya saya rasa kita harapkan seperti yang saya utarakan tadi kita harus menjadi manusia yang berjiwa nasionalis, kemudian juga harus mempersiapkan, kalau saya sudah begini, sudah tidak mungkin lagi berkembang lebih. Anak saya cucu saya harus lebih dari saya, SDM-nya harus lebih betul-betul dari saya. Kita harus disiplin. kalau tidak disiplin ya…

Militer harus disiplin dan tegas. Disiplinnya sudah dieliminir, tegasnya. Eh tegas itu bukan berarti main lempar asbak, main pukul, main tembak, keluar dari mulut kebun binatang, bukan itu tegas. Main culik, bukan itu tegas. Tegas itu dalam koridor hukum. Katakanlah kalau saya jadi presiden, bingung ngomong bohongnya. Kemudian adik saya melakukan pelanggaran hukum, dengan tegas saya katakan proses hukumnya. Itu namanya tegas. Bukan main pukul, main tempeleng, ancam lempar HP. Bukan itu tegas. Jadi cobalah dibuat mengerti deh rakyat kita. Pak dia itu tegas, apanya yang tegas? Itu bukan tegas, ngawur namanya. Oke deh mungkin sampai di sini.

tmpo

LEAVE A REPLY