IHSG Masih Cenderung Melemah

0
19
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jakarta, NawacitaSituasi pasar saham dunia juga tidak terlalu kondusif, seiring ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global dan ketegangan perdagangan AS-China masih menghantui pelaku pasar saham global.

Sementara rilis data ekonomi nasional juga kurang kondusif, sehingga dapat dipakai oleh pelaku pasar untuk melanjutkan aksi profit taking, setelah IHSG terus mencatatkan reli penguatan sejak pertengahan November tahun lalu.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, kemungkinan pekan ini IHSG masih akan melanjutkan konsolidasinya tapi cenderung melemah, dengan perkiraan bergerak di rentang area 6.380-6.600.

“Jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek kedepan yang cerah, terutama jelang rilis laporan keuangan kuartal keeempat tahun 2018,” katanya, Minggu (10/2/2019).

Untuk pekan ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data perdagangan dan ekspor-impor bulan Januari 2019 pada hari rabu. Neraca perdagangan bulan Januari 2019 masih berpotensi mengalami defisit, karena ekspor masih akan mengalami penurunan, sedangkan impor mengalami kenaikan tipis.

Sementara dari luar negeri, cukup banyak data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian para investor pada pekan ini, diantaranya adalah Senin 11 Februari 2019, rilis data perdagangan, manufaktur dan GDP Inggris.    Selasa 12 Februari 2019, rilis data keyakinan bisnis Australia, Pernyataan Gubernur BOE Carney, Pernyataan Ketua The Fed Powell.

Rabu 13 Februari 2019, rilis data indeks keyakinan konsumen Australia, Rilis data inflasi Inggris, rilis data inflasi AS. Kamis 14 Februari 2019, rilis data perdagangan China, Rilis data GDP zona euro, rilis data penjualan ritel AS. Jumat 15 Februari 2019, rilis data inflasi China, rilis data penjualan ritel Inggris.

Sementara dari dalam negeri, IHSG berakhir melemah 14,79 poin (-0,23%) ke posisi 6.521,66 pada akhir pekan. Investor asing membukukan net sell dengan menjual saham senilai Rp192 miliar di pasar regular.

Dalam sepekan IHSG mulai bergerak melemah, dengan mengalami penurunan sebesar -0,17%. Ini merupakan pelemahan dalam sepekan untuk pertama kalinya, setelah sebelumnya menguat 6 pekan berturt-turut. Walaupun melemah, namun sepanjang pekan  investor asing masih membukukan net buy sebesar Rp545 miliar.

Sesuai perkiraan pada pekan sebelumnya, setelah menguat dan mengalami reli selama 6 pekan berturut-turut, IHSG akhirnya mulai berkonsolidasi dengan ditutup melemah tipis sepanjang pekan lalu. Sejumlah sentimen baik dari dalam dan luar negeri berdampak terhadap pergerakan IHSG. Dari ekternal, perkembangan perang dagang masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya tidak berencana untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping sebelum batas tenggat waktu yang ditetapkan untuk mencapai kesepakatan perdagangan AS-China. Sementara dari domestik, rilis data cadangan devisa turun menjadi USD 120,1 miliar pada Januari 2019 dari posisi US$120,7 miliar, serta defisit neraca transaksi berjalan melebar pada kuartal IV 2018 menjadi US$9,1 miliar atau setara 3,57% terhadap PDB Indonesia, direspons negatif oleh pelaku pasar.

Pada pekan lalu, IHSG terlihat mulai berkonsolidasi. Meskipun melemah dalam 2 hari berturut-turut jelang akhir pekan, namun secara teknikal IHSG masih berada di fase uptrend. Terlihat bahwa pola pergerakan IHSG masih sama dengan pekan sebelumnya.

Dari weekly chart nampak bahwa IHSG masih berada di jalur kenaikannya, dengan bergerak naik di dalam channel uptrend. Pergerakan IHSG terlihat masih relatif kondusif, dengan membentuk pola reversal rounding bottom. Indikator teknikal MACD yang masih bergerak naik diatas centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih cenderung bergerak dalam tren positif.

Dari weekly chart, terlihat bahwa support IHSG saat ini masih berada di level 6.380, sedangkan untuk level resistance berada di 6.693.

inlh

LEAVE A REPLY