Tangkal Maraknya ‘Hoax’, Unusa Gelar Sarasehan Hari Pers 2019

0
25

Surabaya, Nawacita.co – Maraknya informasi hoax menginsipirasi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dalam memeriahkan puncak peringatan Hari Pers 2019 yang di pusatkan di Surabaya untuk menggelar sarasehan.

Berita hoax yang menyebar di tengah masyarakat lewat media sosial atau portal-portal berita, menimbulkan keresahan dan rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap sebuah informasi.

“Sejatinya informasi itu netral adanya, hanya saja di tangan-tangan orang yang tidak bertanggungjawab informasi diolah sedemikian rupa dan disalahgunakan sehingga menjadi hoax,” kata Mohammad Nuh, Anggota Dewan Pers terpilih sebagai key note dalam sarasehan yang di gelar, Kamis (7/2) siang.

Nuh mengatakan, sesuai tema yang diambil dalam sarasehan yakni “Membangun Pencitraan Institusi Melalui Pers di Era Revolusi Industri 4.0”, institusi harus siap dalam memasuki era industri media yang tentu berbeda dari era sebelumnya. “Saya melihat dalam era revolusi industri 4.0, yang membedakan sesungguhnya hanya pada cara penyampaian atau media yang digunakan, sedang informasinya tetap. Karena itu bagaimana memilih informasi dengan cermat sehingga tidak dijadikan hoax oleh mereka yang tidak bertanggungjawab,” katanya.

Hadir sebagai pembicara dalam acara sarasehan ini dua pembicara masing-masing, Zainal Arifin Emka selaku Dewan Penasehat PWI Jatim, dan Sapto Anggoro, praktisi media online.

Dalam sambutannya Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng. mengatakan, kemajuan teknologi saat ini membawa berbagai dampak positif dan negatif dalam kehidupan sehari-hari, tidak terkecuali dengan informasi. Masyarakat makin mudah dalam mendapatkan informasi, tapi dituntut untuk cerdas dalam memahaminya, apakah itu berita hoax atau bukan.

Menurut Jazidie, berita hoax sekarang ini sudah dibuat sedemikian rupa agar menyerupai dan terkesan seperti berita yang sebenarnya. Dilengkapi dengan berbagai foto, data, dan keterangan yang membuat seolah-olah itu adalah fakta dan benar adanya. “Karena itu dibutuhkan wawasan dan pengetahuan dalam memahami sebuah informasi yang ada, sehingga kita tidak terjebak dan tidak mengkonsumsi informasi hoax,” katanya.

(Dny)

LEAVE A REPLY