Ferry M Baldan: HMI Contoh Kongkrit Kebersatuan dalam Keragaman

0
61

Jakarta, Nawacita.co  –  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) genap  berusia 72 tahun. HMI lahir pada 5 Februari 1947 di Jogyakarta dengan tokoh utama pendirinya adalah Drs Lafran Pane.  Lafran Pane tahun lalu mendapat anugerah sebagai pahlawan nasional.

Berbagai cara diungkapkan untuk mengekspresikan kebahagiaannya. Ada yang menggelar syukuran, ada yang menggelar pelatihan, ada yang membuat greeting dalam berbagai desainnya. Flyer juga muncul di mana-mana melalui medsos.

Ketua Umum PB HMI 1990-1992 Ferry

Mursyidan Baldan juga tak luput menghadiri acara yang digelar oleh kader-kader HMI di daerah. Ferry bahkan sudah tiga HUT HMI diperingati bersama kader-kader HMI di daerah.

Tahun 2017 Ferry memperingati Milad HMI di Palembang bersama pengurus cabang dan jajaran Korps Alumni HMI.  Hadir pada kesempatan itu Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin.

Pada HUT berikutnya, yakni pada Dies Natalis 71, Ferry merayakan bersama kader dan alumni Yogyakarta. Mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang ini sekaligus hadir sebagai pembawa materi pada Intermediate Training (LK II) di Yogyakarta.

Tahun ini, pada Milad  HMI ke-72, Ferry kembali merayakan bersama kader-kader di Semarang dalam rangkaian penutupan  Intermediate Training yang digelar HMI Cabang Semarang. Hadir pada hari ini antara lain Korpres MW KAHMI Jawa Tengah Wahid Dasuki.

Pada penutupan InternediateTraining itu, Ferry membawakan orasi ke-HMI-an dan Kebangsaan di Balai Diklat Naker Jawa Tengah.

Dalam orasi Miladnya, Ferry memaparkan  kondisi dan perspektif kekinian HMI. Dikatakan, HMI lahir karena jiwa keislaman dan kebangsaan. Dalam perkembangannya, HMI berdiaspora di mana-mana.

“Relasi alumni dengan HMI terpelihara hanya untuk memelihara, menghidupkan, dan mempertahankan keberadaan HMI sebagai organisasi kader.  Siapapun yang ingin membelokkan HMI sebagai organisasi ‘embel-embel’ dalam kehidupan kebangsaan Indonesia, pasti akan mengalami nasib buruk,” ujarnya.

Menurut Ferry, Independensi HMI adalah harga kehormatan yang tak bisa ditawar dan tak bisa dicederai oleh siapapun. Imunitas kultural dan ideologis HMI pasti akan menolak dan melawan setiap upaya mencederai dan apalagi mereduksi independensi (yang sekaligus bermakna mencederai integritas) HMI sebagai organisasi kader.

“Setiap kader dan alumni HMI secara personal, bebas memilih jalan profesinya masing-masing, terjamin kebebasannya memilih orientasi politik dan bahkan, mazhab peribadatan keagamaannya.  Di lingkungan kader dan alumni HMI-lah, hakekat ‘bhinneka tunggal ika’ itu mewujud nyata,” ujarnya.

“Beragam latar etnis dan kampus, serta mazhab peribadatan itulah yang mencerminkan multikulturalisme HMI. Secara historis, HMI adalah contoh kongkret kebersatuan dalam keragaman,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY