Sri Mulyani: APBN Dipastikan tak Pernah Sakit

0
29
Sri Mulyani.
Sri Mulyani.

Jakarta, NawacitaMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan, 4 tahun pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, kinerja neraca APBN dalam kondisi aman, kredibel dan sehat.

Hal tersebut dikatakan Sri Mulyani pada saat konferensi pers 4 Tahun Pemerintah Jokowi-JK di Kantor Setneg, Jakarta, Senin (23/10/2018). “Dalam masa pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, kondisi APBN aman, kredibel dan sehat,” kata Sri Mulyani.

Kondisi yang baik tersebut kata Sri Mulyani terlihat dari defisit APBN yang terus menurun, defisit keseimbangan primer berhasil diturunkan mendekati Rp0, penerimaan perpajakan meningkat drastis dan pertumbuhan pembiayaan utang juga semakin menurun.

“Defisit APBN setiap tahun menurun. Dari tahun 2014 komoditas drop sehingga perekonomian mendapat tekanan. Waktu itu defisit APBN 2,3% dari GDP dan sekarang menuju 2,1% di tahun 2018. Bahkan outlook-nya untuk 2018 mungkin bisa mendekati 2%. 2019, untuk pertama kali kita akan mendesain di bawah 2% yaitu 1,8(%),” katanya.

Dari sisi defisit keseimbangan primer, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini bilang bahwa penurunan defisit APBN tersebut diikuti dengan penurunan defisit keseimbangan primer.

“Sekarang ini keseimbangan primer sudah mendekati Rp0. Itu artinya sudah mendekati balance. Ini adalah bukti yang sangat jelas bahwa kebijakan fiskal itu prudent. APBN yang sehat adalah karena penerimaan perpajakan kita meningkat,” katanya.

Pendapatan dari penerimaan pajak yang meningkat juga turut berkontribusi sebesar 81% terhadap kemandirian APBN, dimana utang hanya bersifat pelengkap atau suplemen.

“Kalau dilihat dari kontribusi 74% dari total pendapatan negara dikontribusikan dari sektor perpajakan. Tahun 2018, sudah meningkat menjadi 81%. Kita melihat APBN kita makin mengandalkan dari sektor perpajakan. Utang hanya suplemen. Bukan yang utama, penerimaan perpajakan kita yang menjadi backbone,” tambahnya.

Penerimaan perpajakan tersebut juga mengindikasikan komitmen Pemerintah untuk mendukung kemandirian APBN dan mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan utang yang juga terus menurun. Misalnya, pada 2018 pembiayaan utang tumbuh negatif 9,7% dibandingkan 2014 yang tumbuh positif 14,6%.

Kondisi tersebut diikuti pula dengan penurunan penerbitan SBN (netto) yang tumbuh negatif 12,2% di 2018. Lebih rendah dari pertumbuhan penerbitan SBN (netto) pada 2014, sebesar positif 17,8%.

inlh

LEAVE A REPLY