Sebanyak 60 Persen Dana Pensiun Masih di Keranjang Deposito

0
37

Jakarta, Nawacita — Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) mencatat penempatan portofolio investasi masih didominasi oleh instrumen deposito. Sebab, mayoritas peserta dana pensiun (dapen) lebih memilih instrumen berisiko rendah.

Wakil Perkumpulan DPLK Nur Hasan Kurniawan menyebutkan tren penempatan instrumen investasi DPLK di deposito beberapa tahun terakhir selalu sama, yakni sekitar 60 persen. Sisanya berada di keranjang reksa dana, obligasi dan sukuk, saham, dan Surat Berharga Negara (SBN).

“Saham kecil sekali, sama seperti tren selama ini hanya sekitar 4 persen per Agustus 2018,” ucap pria yang akrab disapa Nanang, Selasa (23/10).

Berdasarkan data asosiasi dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total investasi DPLK per Agustus 2018 sebesar Rp78,51 triliun, menurun tipis dibanding Juli 2018 sebesar Rp78,64 triliun.

Jumlah investasi yang ada di keranjang deposito berjangka pada bank tercatat paling banyak, yakni Rp46,41 triliun. Sementara itu, saham hanya Rp3,09 triliun, obligasi sebesar Rp10,13 triliun, dan sukuk sebesar Rp1,54 triliun.

Meski total investasi secara keseluruhan menurun, namun perolehan Return on Investment (RoI) DPLK rupanya naik secara bulanan. Tercatat, RoI DPLK per Agustus 2018 sebesar 4,46 persen, sedangkan bulan sebelumnya 3,9 persen.

Hanya saja, Nanang memprediksi pertumbuhan aset DPLK tahun ini kemungkinan di bawah 10 persen. Padahal, aset DPLK biasanya tumbuh 10-15 persen tiap tahun.

Pada akhir Agustus 2018, aset neto DPLK tercatat sebesar Rp79,52 triliun. Realisasi itu semakin menurun dari bulan sebelumnya Rp79,74 triliun.

“Tahun ini akan semakin menurun karena kondisi ekonomi lalu minat program pensiun juga masih rendah,” ucap Nanang.

Namun, sambung dia, prediksi penurunan ini tak berhubungan dengan tahun politik 2019. Nanang menyebut industri dana pensiun belum berkembang pesat karena pola pikir masyarakat dalam negeri yang menganggap hal itu belum begitu penting.

Penjual Asuransi Kurang Sosialisasi

Dalam kesempatan yang sama, Sub Head Public Relation DPLK Syarifudin Yunus menjelaskan latar belakang mayoritas peserta DPLK lebih memilih instrumen deposito karena pihak penjual kurang memberi edukasi terkait produk investasi yang dimiliki perusahaan.

“Misalnya nih saya mau buka, mau instrumen apa pak, saya tanya balik bagusnya apa, kata sales-nya deposito saja pak aman, saham berisiko,” ucap Syarifudin.

Namun, informasi yang didapat peserta DPLK biasanya hanya sebatas itu tanpa dijelaskan lebih lanjut oleh pihak penjual. Untuk peserta yang masih muda atau milenial pun cenderung mengikuti arahan penjual.

“Makanya harusnya mungkin ada kelas tersendiri misalnya untuk satu perusahaan yang bagi karyawan-karyawannya untuk menjelaskan jenis-jenis produk investasi,” jelas Syarifudin.

Menurut dia, kaum milenial seharusnya memilih jenis investasi agresif seperti saham agar imbal hasil yang diterima juga tinggi. Syarifudin sadar risiko instrumen saham jauh lebih tinggi dibandingkan deposito, hanya saja jika investasi untuk jangka panjang maka akan menguntungkan.
“Misalnya untuk umur 25 tahun, kan kalau untuk pensiun diambilnya masih 10 tahunan 20 tahunan lagi, ya lebih baik saham,” tandas Syarifudin.

Ia menambahkan, sisi positif dari kondisi ini adalah fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak akan menjadi sentimen negatif untuk imbal hasil investasi DPLK, karena portofolio saham di bawah lima persen dari total keseluruhan.

“Aman-aman saja, sedikit sekali sahamnya. Tidak ada pengaruh,” pungkas Syarifudin.

cnn

LEAVE A REPLY