BPS Sempurnakan Data Beras, Estimasi Kementan Lebih Tinggi

0
30
Ilustrasi Gudang Beras
Ilustrasi Gudang Beras

Jakarta,Nawacita — Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras hingga akhir tahun ini berada di angka 32,42 juta ton, atau lebih rendah 32 persen dari estimasi Kementerian Pertanian awal tahun lalu yang sebesar 46,5 juta ton.

Berdasarkan risalah perhitungan data beras yang dikutip CNNIndonesia.com, BPS memperoleh data dengan memperhitungkan potensi luas panen hingga akhir tahun yang mencapai 10,9 juta hektare (ha). Dengan proyeksi itu, BPS memperkirakan produksi Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 49,65 juta ton, yang nantinya bisa diolah menjadi beras 32,42 juta ton.

Tak hanya itu, perbedaan data juga terjadi di luas lahan sawah baku. Data citra satelit resolusi tinggi yang diperoleh dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan diolah oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) menunjukkan luasan lahan sawah baku saat ini di angka 7,1 juta ha.

lahan sawah baku itu telah diverifikasi oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang melalui Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional telah menerbitkan Keputusan No. 399/KEP-23.3/X/2018 pada 8 Oktober 2018 silam.

Sementara itu, data Kementerian Pertanian per September menunjukkan data luas lahan sawah sebesar 8,18 juta ha.

Perbedaan lain terdapat pada proyeksi konsumsi saat ini. BPS menghitung konsumsi beras langsung dan tidak langsung sebesar 111,58 kg per kapita per tahun, atau senilai 29,57 juta juta ton. Sementara itu, Kementan memproyeksi konsumsi tahun depan sebesar 33,89 juta ton dengan asumsi pertumbuhan penduduk 1,27 persen tahun depan.

Artinya, terdapat perbedaan proyeksi surplus beras antara perhitungan mutakhir dan data Kementan. Data perhitungan terkini menyebut surplus beras sebesar 2,85 juta ton, sementara Kementan memproyeksi surplus yang jauh lebih tinggi yakni 12,61 juta ton.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengonfirmasi data surplus tersebut. Menurut dia, surplus tahun ini yang mencapai 2,85 juta ton sangat tipis, sehingga kebijakan impor 1,8 juta ton sudah sangat tepat.

Saat ini, data pengadaan beras Bulog per 22 Oktober 2018 tercatat 2,94 juta ton, di mana 61,22 persennya berasal dari pengadaan luar negeri. Jika tidak ada impor, maka persediaan beras tahun ini terancam.

“Jadi intinya persediaan akhir tahun kita aman karena impor. Kalau tidak ada impor, kita tewas,” pungkas Darmin.

cnn

LEAVE A REPLY