Emiten Konstruksi BUMN Berpeluang Naik

0
105
emiten konstruksi BUMN berpeluang naik
emiten konstruksi BUMN berpeluang naik

JAKARTA, Nawacita – PT Bahana Sekuritas menilai komitmen pemerintah untuk membangun infrastruktur dan meningkatkan konektivitas di seluruh Indonesia mulai memberi dampak positif bagi saham-saham konstruksi BUMN.

Analis Bahana Sekuritas Ricky Ho mengatakan, beberapa proyek jalan akan selesai pada tahun ini sehingga beberapa perusahaan konstruksi akan mendapat modal baru untuk membiayai proyek lainnya.

Menurut dia, perusahaan konstruksi milik negara akan mendapat keuntungan dari upaya pemerintah yang semakin menggenjot pembangunan infrastruktur menjelang pemilihan presiden (pilpres) tahun depan.

“Melihat keberlanjutan pembangunan infrastruktur di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang ingin mengejar ketertinggalan dibanding infrastruktur di negara Asia Tenggara lainnya, Bahana Sekuritas merekomendasikan beli untuk semua saham BUMN konstruksi dengan pilihan utama,” kata Ricky di Jakarta.

Sejak 2015 hingga 2019, pemerintah mengalokasikan total belanja infrastruktur sebesar Rp1.375 triliun, naik cukup signifikan bila dibandingkan alokasi belanja sejak 2005-2014 sebesar Rp921 triliun. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, pemerintah menganggarkan belanja infrastruktur sebesar Rp410,7 triliun yang akan dipakai untuk pembangunan berbagai infrastruktur di seluruh Indonesia di antaranya 865 km jalan baru, 25 km jalan tol, 8.695 km jembatan, pembangunan bandar udara di delapan lokasi, dan untuk pembangunan jalur kereta api.

“Jadi, perusahaan konstruksi mampu mencatatkan rekor tertinggi atas perolehan kontrak dan kinerja keuangan pada akhir tahun lalu,” kata Ricky.

 

Direktur Utama PT PP (Persero) Tbk (PTPP) Tumiyana mengatakan, sejumlah proyek infrastruktur turut mendorong pendapatan perseroan hingga mencapai angka Rp21,5 triliun pada 2017. Pencapaian ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 31% year on year (yoy) jika dibandingkan periode yang sama pada 2016 sebesar Rp16,5 triliun.

“Secara segmen, jasa konstruksi merupakan kontributor terbesar atau 70% dari pendapatan perseroan, disusul oleh engineering, procurement, and construction (EPC) serta properti dan realti masing-masing sebesar 15% dan 13%,” urai Tumiyana.

PTPP meraih laba kotor dan laba usaha sebesar masing-masing Rp3,25 triliun dan Rp2,52 triliun yang mencerminkan pertumbuhan yang solid sebesar 32% dan 29% secara yoy. Dengan demikian, marjin laba kotor dan margin laba usaha masing-masing terjaga di level 15% dan 12%.

oke

 

 

LEAVE A REPLY