Destinasi Wisata Tersembunyi di Pulau Masalembu

0
85

Nawacita – Pulau Masalembu merupakan salah satu kepulauan terluar yang tercatat sebagai salah satu kepulauan di Kabupaten Sumenep, Madura. Bahkan tidak jarang Masalembu juga dikenal sebagai ‘pulau marjinal’ dibandingkan puluhan pulau lain yang berada di Kepulauan Sumekar.

Selama ini, Masalembu hanya dikenal dengan sebutan pulau ‘Segitiga Bermuda’ yang kerap menjadi sumber prahara tenggelamnya sejumlah kapal yang berlayar di perairan tersebut. Sebut saja KM Thamphomas II yang menjadi salah satu strategi transportasi laut yang terbakar dan tenggelam di perairan Masalembu.

Bahkan salah satu penyanyi legendaris Virgiawan Listanto atau yang akrab disapa Iwan Fals juga mengabadikan tragedi tenggelamnya KM Thamphomas II dalam sebuah lagu dengan judul ‘Celoteh Camar Tolol’. Dimana bait-bait lagu tersebut juga menceritakan perjalanan tenggelamnya kapal yang menewaskan ratusan penumpang.

Tragedi yang sempat menyedot animo masyarakat dalam skala nasional tersebut, juga disebut dalam catatan lagu Sunda khas Doel Sumbang. Ia juga menceritakan ‘kisah kelam’ seputar tenggelamnya KM Thamphomas II.

Namun lepas dari berbagai tragedi masa lalu, Masalembu juga memiliki rentetan destinasi wisata yang sangat sayang untuk diabaikan. Bahkan, sangat layak di sejajarkan dengan destinasi wisata di Indonesia, khususnya di kepulauan Sumenep.

Panorama alam yang masih alami juga tidak kalah indah dan menarik dari wisata lain di Sumenep, seperti Pantai Lombang, Pantai Slopeng hingga Pantai Sembilan Gili Genting. Selayaknya kepulauan di Sumenep, Masalembu juga memiliki panorama pantai elok nan indah. Kejernihan air ditambah keindahan alam tidak kalah alami terlihat dengan nuansa pohon kelapa yang berjejer rapi di sekitar lokasi wisata.

Suasana tersebut justru menghilangkan tragedi kelam masa lalu, beberapa lokasi wisata tersebar di berbagai titik di Masalembu yang sangat layak untuk disambangi. Seperti Dermaga Cinta, Pantai Songgo hingga Pantai Cemara di Desa Masalima.

Termasuk juga destinasi wisata lain yang berada di Desa Sukajeruk, seperti Pantai Kolam di Kampung Mandar, Pantai Masna yang terletak di Dusun Landasan, hingga rentetan pohon kelapa yang kerap dijadikan sebagai lokasi Bumi Perkemahan di Dusun Ambulung dan beberapa destinasi wisata alam lainnya.

Belum lagi destinasi wisata masa lampau, seperti peninggalan kilang minyak yang berada di Kampung Proyek, Desa Sukajeruk. Sayang saat ini sebagian besar fasilitas rencana pengeboran minyak yang digarap Pertamina sudah habis tanpa bekas, sekalipun terdapat beberapa peninggalan yang masih digunakan hingga saat ini.

Tidak hanya itu, sejumlah komunitas pemuda hingga kelompok pelajar asal Masalembu juga kerap mempromosikan tanah kelahiran mereka melalui berbagai jejaring media sosial (medsos). Guna memperkenalkan Masalembu kepada khalayak. Tidak jarang mereka juga melaksanakan berbagai program di ranah rantau dengan latar tema ‘Keindahan Masalembu’.

Hanya saja pengembangan sekaligus promosi destinasi wisata Masalembu untuk sementara getol dilakukan oleh sekelompok atau komunitas tertentu saja. Sementara atensi pemerintah setempat justru tak terlihat. Sekalipun jajaran aparatur desa juga tidak menutup mata terhadap potensi wisata yang dimiliki.

Kendala Transportasi
Memang bukan lagi menjadi rahasia bahwa jarak tempuh dari Madura daratan menuju atau dari kepulauan Masalembu, terbilang cukup jauh dibandingkan jarak tempuh ke kepulauan lain di Sumenep. Sebab jarak antara penyeberangan dari dua titik berbeda harus menempuh ratusan mil, baik dari pelabuhan Kalianget Sumenep ataupun dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Untuk mencapai kepulauan Masalembu, masyarakat harus menjalani transportasi laut sekitar 12 hingga 15 jam perjalanan laut melalui transportasi printis. Jarak tempuh tersebut belum lagi saat terjadi gelombang besar yang bisa memakan waktu lebih dari durasi semestinya, sungguh menjadi perjalanan melelahkan dan ‘mendebarkan’.

Bagi masyarakat Masalembu hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah. Tapi tidak bagi masyarakat luar. Perjalanan seperti itu jelas sangat melelahkan sekaligus mendebarkan, apalagi jika menggunakan pesawat terbang jarak yang harus dilalui justru kurang dari 30′ menit perjalanan.

Minimnya fasilitas transportasi laut kadangkala membuat perjalanan semakin menguras tenaga dan pikiran. Sebab sebagian warga terpaksa harus bertahan hingga 5 atau bahkan sepekan untuk kembali ke daratan, apalagi transportasi laut hanya bisa mengandalkan pada kapal printis semata.

Sebenarnya terdapat sejumlah transportasi laut yang bisa memudahkan warga untuk tidak bertahan lama di Masalembu, salah satunya dengan menggunakan transportasi tradisional dan tentunya harus memakan waktu lebih lama dibandingkan printis. Namun masyarakat enggan mengikuti perahu tradisional dan lebih memilih printis sekalipun harus bertahan lebih lama dari semestinya.

Seyogyanya juga terdapat landasan pesawat terbang masih bisa digunakan, yakni eks Bandara Elnusa yang berada di Dusun Landasan, Desa Sukajeruk, Masalembu. Tapi hal itu justru tidak dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai jalur alternatif sebagai solusi transportasi menuju dan dari kepulauan Masalembu.

Hanya saja jauhnya jarak tempuh dan perjalanan yang harus dilalui terkesan hilang seketika dengan panorama keindahan Pulau Masalembu, bahkan panorama alam yang alami bisa saja menghilangkan kepenatan selama menjalani perjalanan panjang dari daratan menuju kepulauan yang juga terdiri dari tiga pulau berbeda.

Sebab selain Pulau Masalembu, masih terdapat dua pulau lain yang notabene tercatat sebagai bagian dari Kecamatan Masalembu. Masing-masing Pulau Masakambing dan Pulau Keramaian, sekalipun kedua pulau tersebut secara geografis lebih dekat ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, atau bahkan Sulawesi dibandingkan Sumenep ataupun Surabaya. dms

beritajatim

LEAVE A REPLY