Dedi Mulyadi: Kids Zaman Now Harus Mengenali Permainan Tradisional

0
151
Dedi Mulyadi
Dedi Mulyadi

PURWAKARTA, Nawacita – Miris, mungkin perasaan tersebut yang saat ini tengah dirasakan calon wakil gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dirinya sedih, karena saat ini sebagian anak-anak zaman sekarang nyaris tak lagi mengenal permainan tradisional yang merupakan warisan nenek moyang itu.

Menurutnya, saat ini minat generasi masa kini terhadap jenis permainan tradisional semakin menurun. Hal ini dibuktikan dengan semakin merebaknya permainan modern melalui aplikasi telepon pintar.

Artinya, saat ini keberadaan permainan yang sempat tersohor itu sudah mulai terkikis modernisasi. Padahal, banyak manfaat yang bisa didapat oleh anak-anak ini dalam permainan tradisional itu.

Sebut saja salah satunya permainan tradisional ‘krotokan’ khas Cirebon. Munurutnya, permainan ini mengajarkan kepada anak-anak agar tidak mudah putus asa. Dengan kata lain, permainan ini bukan sekedar permainan seperti dalam game online atau telepon pintar.

“Generasi sekarang harus memainkan permainan tradisional. Contohnya krotokan, ini mengajarkan agar generasi kita tidak mudah putus asa. Saat jauh, bangkit lagi, terbentur, terbentur, maka terbentuk,” ujar Dedi dalam siaran pers yang diterima Okezone, Jumat (9/3/2018).

Dia berpendapat, permainan ini tak hanya untuk anak-anak. Karena, orang tua pun bisa memainkannya. Jadi, bisa menjadi sarana olah raga. Mengingat, permainan ini membuat seluruh anggota tubuh bergerak sehingga bermanfaat juga untuk kesehatan.

“Bisa juga sama-sama dengan orang tua, kompakan sambil lari, kan sehat tuh,” seloroh dia.

Selain manfaat bagi kesehatan, terang dia, dari sisi ekonomi pun keberadaan permainan tradisional ini bisa turut membantu dalam hal kesejahteraan para perajinnya. Dengan kata lain, dirinya memandang ada potensi ekonomi yang besar jika permainan tradisional dipasarkan secara massif. Artinya, bukan hanya di pasar lokal. Karena itu, seluruh pirantinya harus mapan agar melahirkan produk yang mampu bersaing.

“Permainan tradisional di Jawa Barat ini kan banyak bukan hanya krotokan. Kalau dikelola dengan baik, saya yakin bisa bersaing. Tetapi kualitasnya harus kita perbaiki, barusan saya coba main ini dengan anak-anak, baru sebentar diajak berlari, krotokannya sudah patah,” tambah dia.

Ungkapan Dedi Mulyadi bukan tanpa alasan. Sebelumnya, saat berkunjung ke Pasar Bongkok, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Kamis (8/3) kemarin, dirinya bertemu dengan Tarma (72) seorang pedagang ‘Krotokan’ yang setiap hari berjualan di pasar tersebut.

Di hadapan Dedi, kakek paruh baya warga Arjawinangun, Kabupaten Cirebon itu mengungkapkan keluh kesahnya. Salah satunya, mulai sulitnya memasarkan kerajinan tersebut.

“Sekarang menjualnya susah, sehari paling terjual 3 sampai 4 buah. Satu krotokan harganya Rp15 ribu,” ujar Tarma dihadapan Dedi.

Tarma bercerita, desa tempat tinggalnya merupakan pusat kerajinan permainan ‘krotokan’. Krotokan sendiri merupakan bunyi-bunyian yang keluar dari alat permainan tersebut.

Supaya alat tersebut mengeluarkan bunyi, maka seorang yang memainkannya harus meletakannya di atas tanah. Kemudian, dia harus membawanya berlari dengan cara memegang tongkat yang tersemat pada roda yang dihiasi dengan aneka bentuk binatang.

Awal mula permainan ini tercipta, menurut Tarma, merupakan salah satu usaha para orang tua agar anak-anak mau belajar berjalan. Suara yang dihasilkan oleh krotokan diyakini memotivasi anak-anak tersebut untuk kembali bangkit saat jatuh.

oke

 

LEAVE A REPLY