Dana Asing Keluar, BI: Masih Banyak Investor Setia

0
32
Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta, Nawacita – Bank Indonesia (BI) menyebut aliran dana asing yang keluar dari Indonesia (capital outflow) berasal dari investor jangka pendek. BI pun menekankan masih banyak investor jangka panjang yang memiliki kepercayaan kuat pada perekonomian Indonesia.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah menjelaskan bahwa investor jangka pendek biasanya hanya mempertimbangkan risiko dari pergerakan nilai tukar atau kurs mata uang dan pergerakan imbal hasil (yield) dari Surat Berharga Negara (SBN). Investor jenis ini sangat mudah dipengaruhi oleh sentimen global.

Jika kondisi pergerakan ekonomi global lebih stabil, ia pun optimis, para investor tersebut bakal kembali masuk ke Indonesia.

“Yang keluar itu karena ada yang terkena shock-shock global. Shock itu kan tidak konsisten, tidak bertahan, akan ada masa risk on dan risk off (risiko meningkat dan berkurang),” ujar Nanang di Gedung BI,

Kendati investor jangka pendek memilih ‘angkat kaki’, menurut catatan Nanang, sejatinya masih banyak investor jangka panjang yang masih setia untuk mengalirkan dananya ke Indonesia, termasuk sejumlah bank sentral negara lain yang masih ‘setia’ memegang SBN.

“Saya yakin masih banyak (investor yang setia), datanya saya ada, termasuk bank sentral negara lain yang berinvestasi di SBN. Mereka masih banyak di sini, karena yang dilihat mereka itu fundamental. Artinya, mereka masih percaya dengan fundamental ekonomi Indonesia,” jelasnya.

Untuk itu, BI melihat bahwa seluruh kalangan tak perlu khawatir dengan meningkatnya outflow belakang ini.

Outflow memang ada keluar cukup besar. Tapi saya tekankan, real investor masih di sini, yang keluar investor jangka pendek. Tapi mereka akan kembali lagi kalau risiko globalnya sudah reda,” jelasnya.

Siaga Beli SBN

Kendati optimis para investor akan kembali, BI memastikan akan siaga membeli SBN yang dilepas investor ke pasar sebagai bentuk operasi moneter dalam menstabilkan sektor keuangan. Namun, penyerapan SBN oleh BI dipastikan tak akan mendistorsi mekanisme pasar.

Nanang menjelaskan, pembelian SBN tak dilakukan secara besar-besaran. Pasalnya, BI tetap mempertimbangkan perlunya pembelian yang sesuai dengan mekanisme pasar, sehingga intervensi dari BI tak mendistorsi pergerakan harga SBN di pasar.

“Jangan sampai BI masuk dan mendistorsi harga yang ada. Jadi kami lihat betul, supaya mekanisme tetap berjalan, namun bisa menambah kepercayaan. Jadi ketika dana asing keluar, itu membuat harga (SBN) tidak stabil, maka kami akan masuk,” terang dia.

Adapun pembelian SBN di pasar yang ditinggalkan oleh investor, perlu dilakukan BI agar tidak menimbulkan risiko, misalnya pelemahan nilai tukar atau kurs rupiah. Pasalnya, ketika investor asing keluar dan menjual SBN yang dimilikinya, maka penjualan SBN itu akan menghasilkan valuta asing (valas).

“Ketika mereka beli valas, rupiah melemah, jadi harga SBN-nya turun, jadi kami beli SBN itu. Rupiah yang kami sedot, itu dinetralisir dengan pembelian SBN. Jadi secara intinya, kami melihat pasar masih netral dan ini akan stabil,” jelasnya.

Kendati begitu, Nanang menjelaskan, sejauh ini BI tak memilki target tertentu dalam melakukan pembelian SBN. “Kami tidak ada target, tapi itu akan menggantikan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang sekarang terus turun,” pungkasnya.

Sebelumnya, BI menegaskan akan melakukan intervensi ganda dengan melakukan intervensi pada kurs rupiah dan pembelian SBN. Kedua hal ini dilakukan untuk menstabilkan sistem keuangan Tanah Air dan mengurangi risiko-risiko yang mungkin muncul.

cnn

 

 

LEAVE A REPLY