BI Prediksi Banyak Negara Kerek Suku Bunga Acuan Tahun Ini

0
59
Deputi Guberrnur Senior BI Mirza Adityaswara
Deputi Guberrnur Senior BI Mirza Adityaswara

Jakarta, Nawacita — Bank Indonesia (BI) memprediksi akan ada lebih banyak negara yang menaikkan suku bunga acuannya pada tahun ini. Hal ini berpotensi dilakukan untuk menjaga ekonomi global tumbuh dengan sehat dan mencegah terjadinya gelembung (bubble) dalam perekonomian.

“Perkiraan kami, tahun 2018 lebih banyak negara yang menaikkan suku bunga acuan dibandingkan 2017. Keinginannya ekonomi tumbuh dengan sehat. Jangan malah (ekonomi) dibiarkan tumbuh cepat lalu bubble dan nanti malah crash (hancur),” ujar Deputi Guberrnur Senior BI Mirza Adityaswara di Gedung Sjafruddin Prawiranegara, Senin (2/4).

Mirza menyebutkan beberapa negara yang berpeluang berlanjut menaikkan suku bunga acuannya tahun ini sebagian besar merupakan negara maju, yakni Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, dan Australia.

“(Suku bunga acuan) Australia kemarin sudah naik. Tahun ini, suku bunga Australia mungkin juga akan naik lagi,” ujarnya.

BI: Inflasi dan CAD Jadi Pertimbangan

Melihat fenomena itu, bukan berarti BI bakal ikut menaikkan suku bunga acuannya atau BI 7 Days Reverse Repo Rate. Dalam menentukan suku bunga acuan, lanjut Mirza, BI mempertimbangkan dua faktor utama yaitu inflasi dan defisit transaksi berjalan (CAD) yang terjaga.

Karenanya, selama dua tahun terakhir, BI berani menurunkan suku bunga acuannya sebesar 200 basis poin (bsp) meskipun selama periode yang sama bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), telah mengerek bunganya lima kali.

Pada Rapat Dewan Gubernur BI pertengahan Maret lalu, BI juga menahan suku bunga acuan di level 4,25 persen. Padahal, di pekan yang sama The Fed menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin.

Sepanjang 2017, realisasi inflasi 3,61 persen atau sesuai target BI, empat plus minus satu persen. Sementara itu, CAD ada di kisaran minus 1,7 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Tahun ini, BI menargetkan inflasi ada di kisaran 2,5 hingga 4,5 persen. Sementara itu, CAD sedikit membengkak ke kisaran minus 2 hingga 2,5 persen dari PDB karena perekonomian yang semakin menggeliat. Namun, level CAD tersebut masih di bawah level aman tiga persen dari PDB.

Lebih lanjut, Mirza mengungkapkan bank sentral telah memangkas suku bunganya cukup banyak selama dua tahun terakhir, untuk itu ia berharap perbankan bisa merespon dengan segera memangkas suku bunga kredit. Di saat bersamaan, pelaku industri juga diimbau untuk berani ekspansi. Dengan demikian, pertumbuhan kredit bisa bergerak ke level dua digit.

Sebagai catatan, berdasarkan data uang beredar BI, penyaluran kredit per akhir Februari 2018 mencapai Rp4.690,6 triliun atau tumbuh 8,2 persen secara tahunan.

cnn

LEAVE A REPLY