Berbagi Informasi Dengan Para Doktor Prodia Gelar Autoimmune Wellness

0
43

Nawacita.co – Autoimun merupakan penyakit yang diakibatkan adanya gangguan sistem imun yang ditandai dengan reaktivitasi sistem imun baik sel T maupun sel B (autoantibodi) melawan sel tubuh sendiri (autoantigen). Penyakit autoimun yang sering ditemukan seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang umum dikenal dengan penyakit lupus dengan angka kejadian LSE di Indonesia sebesar 0.5% dari total populasi penduduk Indonesia.

Penyakit autoimun penyebabnya multifaktorial dan gejalanya pun tidak khas, akibatnya penyakit autoimun ini tidak mudah dikenali sehingga seringkali memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosisnya. Jumlah dokter ahli penyakit autoimun pun belum banyak di Indonesia sehingga seringkali ketika dirujuk sudah parah karena tidak dikenali sejak dini.

Mencermati kejadian tersebut, Prodia sebagai laboratorium klinik yang menjadi ”centre of excellence” bagi para mitra kerja, salah satunya para dokter di Indonesia, mengadakan sharing informasi dalam bentuk seminar nasional yang akan diselenggarakan di 18 kota besar di Indonesia yang mengangkat penyakit autoimun sebagai tema besarnya. Seminar nasional mengusung tema Good Doctor for Better Autoimmune Treatments. Dengan adanya seminar nasional bersama para dokter ini, diharapkan para dokter mendapatkan informasi lebih lengkap seputar penyakit, dalam hal ini adalah penyakit autoimun, sehingga dapat mengenali penyakit autoimun sejak dini

Seminar nasional di Kota Surabaya berlangsung di Gedung Graha Prodia Surabaya Lt.9, pada tanggal 14 Juli 2018, dengan menghadirkan dr. Awalia, SpPD-KR., FINASIM dan Dr. dr. Gatot Soegiarto, Sp.PD-KAI sebagai pembicara yang akan memaparkan patofisiologi, jenis-jenis autoimun, faktor risiko, diagnosis pencegahan dan pengelolaan (termasuk nutrisi); serta Dokter Penanggung Jawab PT Prodia Widyahusada Tbk cabang Surabaya dr. Endang Retnowati, MS, SpPK(K), serta diikuti 168,  yang akan memaparkan seputar peran biomarker dalam penegakan diagnosis autoimun serta pemeriksaan pendukung.

Penting bagi kita untuk meng-update informasi terkait penyakit autoimun kepada rekan-rekan dokter, agar para dokter dapat melakukan diagnosis dan tatalaksana yang tepat bagi pasien yang bergejala.” Kata dr. Awalia, SpPD-KR., FINASIM

”Penelitian terkait penyakit autoimun memang jarang, karena jenis penyakit autoimun sendiri ada 80 jenis, oleh karena itu sangat penting bagi para dokter untuk mendapatkan update informasi, agar para dokter dapat mengenali gejala penyakit autoimun, memilih sarana penunjang diagnosis yang sesuai, dan melakukan tindakan medis yang tepat bagi pasien yang bergejala maupun yang sudah mengalami autoimun.” jelasnya.

Selaras dengan pernyataan dr. Awalia, SpPD-KR., FINASIM, Dr. dr. Gatot Soegiarto, SpPD-KAI juga mengungkapkan penting bagi para dokter untuk mendapatkan informasi terbaru terhadap penyakit autoimun ini, karena pasien yang datang ke dokter spesialis umumnya sudah Parah dan cukup mengkhawatirkan. ”Pasien yang datang ke spesialis banyak yang sudah dalam kondisi parah mungkin karena penyakitnya tidak terdiagnosis saat masih dini. Oleh karena itu penting sekali bagi para dokter untuk mengetahui lebih banyak informasi tentang penyakit autoimun lini. Di sisi Iain, banyak kondisi penyakit yang tidak spesiftk tetapi sudah divonis sebagai penyakit autoimun. Tentu saja hal itu bisa menimbulkan keresahan atau kecemasan pada pasien serta masyarakat .” tuturnya

Dr. dr. Gatot Soegiarto, SpPD-KAI menambahkan, “Penyakit autoimun memang paling banyak terjadi karena faktor genetik, namun faktor lingkungan juga ikut berperan.

Saat ini telah ada penelitian yang menyatakan bahwa defisiensi atau kekurangan kadar vitamin D dalam tubuh dapat menjadi salah satu faktor risiko seseorang mengalami penyakit autoimun. Mereka yang mengalami penyakit autoimun ternyata rata-rata nilai kadar vitamin D-nya sangat rendah. Kita juga perlu mewaspadai hal ini dan para dokter perlu tahu.” Di Indonesia prevalensi defisiensi vitamin D pada wanita berusia 45-55 tahun adalah sekitar 50%. Penelitian di Indonesia dan Malaysia menemukan defisiensi vitamin D sebesar 63% terjadi pada wanita usia 18-40 tahun. Sedangkan penelitian pada anak 1-12,9 tahun, ditemukan 45% anak mengalami insuflsiensi vitamin D.

dr. Endang Retnowati, MS, SpPK(K), mengatakan Prodia menyediakan pemeriksaan-pemeriksaan Iaboratorium yang dapat menunjang diagnosis para dokter terhadap penyakit autoimun ini.

”Prodia menyediakan pemeriksaan ANA IF, ANA Profile, ANTI dsDNA NcX, ProALD, AMA M2, yang dapat dimanfaatkan para dokter untuk menunjang diagnosis penyakit autoimun. Pemeriksaan lanjutan terkait jenis-jenis autoimun itu sendiri pun tersedia, misalnya saja AIH untuk autoimun hepatitis; Laju Endap Darah (LED), ANA, antobodi spesiflk seperti: Antitopoisomerase-l (anti-scI-70) dan Anticentromere antibody (ACA) serta urinalisis, untuk diagnosis sklerodema, dan masih banyak Iagi. Prodia juga menyediakan pemeriksaan Vitamin D-ZS OH Total untuk menilai kecukupan vitamin D dalam tubuh.” terangnya.

Regional Head PT Prodia Widyahusada Tbk Jawa Bali Nusra Sriwoelan menyatakan bahwa seminar nasional .ini rutin dilakukan dengan para dokter untuk memfasilitasi para dokter di seluruh ‘Indonesia terkait informasi ter-update seputar penyakit, gejala, diagnosis, hingga pengobatannya.

”Melalui seminar nasional bersama para dokter ini, Prodia ingin memfasilitasi para dokter yang ada di seluruh Ilndonesia untuk mendapatkan informasi terkait penyakit ter-update ataupun penyakit yang angka kejadiannya cukup banyak, tetapi belum menjadi perhatian.

Mulai dari bagaimana gejala penyakit tersebut, seperti apa penanganan yang tepat, dan seberapa berbahaya penyakit tersebut. Tema-tema yang dipilih Prodia juga akan disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan para dokter untuk diketahui lebih dalam,” ungkap Sriwoelan.

Lebih lanjut Sriwoelan mengungkapkan, sebagai Iaboratorium klinik pertama yang mengusung Next Generation Medicine, serta gencar dalam edukasi P4 medicine, yang salah satu di antaranya adalah preventive medicine, Prodia merasa perlu turut andil untuk melakukan tindakan maupun kegiatan yang mendukung terwujudnya tindakan pereventif di tengah masyarakat.

”Saat ini tindakan preventif itu perlu dilakukan oleh kita masyarakat umum agar dapat terhindar dari risiko terburuk sebuah penyakit. Agar masyarakat bisa melakukan tindakan preventif sejak dini, diperlukan informasi dan juga semacam ajakan dari para dokter kepada pasien ataupun instansi kesehatan seperti kami, Prodia, kepada para pelanggan, agar kita mulai  membiasakan diri  untuk melakukan tindakan preventif terhadap penyakit ,” pungkas Sriwoelan

(Dny)

 

LEAVE A REPLY