Belajar pada Salman Al-Farisi, Pemimpin Yang Menolak Gaji

0
49

Nawacita – Selain dikenal sebagai petualang pencari kebenaran, ia juga dikenal arsitek kemenangan Perang Ahzab/Khandaq.  Ada yang lain akan diceritakan di sini, ia seorang teladan yang perlu dihayati di tengah kehidupan lebih kuatnya dominan materialisme, terutama masalah jabatan yang selalu menjadi rebutan setiap insan manusia.

Sepeninggalnya Rosulullah Saw., Salman Al-Farisi diangkat menjadi seorang amir di wilayah Madain. Walaupun ia bergaji sekitar 4000-6000 dinar pertahun, ia sedekahkan semuanya untuk fakis miskin dan orang yang membutuhkan.  Satu dirham pun ia tidak mengambil sama sekali. Untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, ia gunakan 1 dirham untuk dijadikan modal untuk usaha, kemudian ia jual dengan harga 3 dirham. Yang satu dirham untuk dijadikan modal kembali, 1 dirham untuk menafkahi keluarganya, dan 1 dirham untuk disedekahkan.  ‘Walaupun amirul mukminin Umar bin Khatab melarangnya, aku tetap akan melakukannya, ‘ ujar Salman al-Farisi.

Pada suatu hari, ketika Salman sedang berjalan di jalan raya, ia didatangi oleh seorang musafir dari Syria (Suriah) yang membawa sepikul buah tin dan kurma.  Salman kelihatannya seperti orang biasa dan tidak berpunya, musafir dari Syria itu menyuruhnya untuk membawa sepikul buah tin dan kurma dengan imbalan tertentu bila telah sampai.  Salman pun menurutnya, lalu membawa barang yang lumayan berat itu. Keduanya berjalan bersama.

Di tengah perjalanan mereka berdua berpas-pasan dengan rombongan. Salman memberikan salam kepada mereka, mereka berhenti sambil menjawabnya, “Juga untuk Amir, kami ucapkan salam.”

‘Juga pada Amir, Amir mana yang mereka maksudkan,’ Tanya seorang musafir Syria itu dalam hati. Keheranannya kian bertambah ketika dilihatnya sebagian dari anggota rombongan segera menuju beban yang dipikul oleh Salman dengan maksud hendak menggantikannya, kata mereka, “Berikanlah kepada kami wahai Amir!”

Kini musafir Syria itu mengerti, bahwa kulinya itu tiada lain adalah Amir wilayah ini (Madain). Musafir Syria itu pun menjadi gugup, kata-kata penyesalan dan permintaan maaf mengalir dari bibirnya. Ia mendekat hendak menarik beban itu dari tangannya, tetapi Salman menolak, dan berkata kepadanya, “Tidak, sebelum kuantarkan sampai rumahmu!”

Sebenarnya Salman menolak jabatan sebagai Amir, namun karena desakan Khalifah Umar bin Khatab pada waktu itu, ia bersedia sebagai pengabdian. Kenapa Salman tidak menyukai jabatan amir, dimana ketika itu jabatan Amir sangat menggoda bagi siapa pun. Ia menjawabnya, “Karena manis waktu memegangnya tapi pahit waktu melepaskannya,” tukasnya kala itu.

-dari berbagai sumber- semoga dapat menginspirasi kita semua.

LEAVE A REPLY