Begini detik-detik Pemasangan Mahkota Patung GWK Bali

0
392
Pemasangan Mahkota GWK, Minggu (20/5/2018). IG : @gunarta

 

Badung, nawacita  – Setelah 28 tahun tidak ada kabar, pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, akhirnya mendekati garis finish. Patung setinggi 121 meter dari atas permukaan tanah atau 271 meter dari atas permukaan laut (dpl) ini telah mencapai 70 persen.

Hari ini, mahkota dewa Wisnu telah dipasang. Pantauan detikcom, pemasangan mahkota seberat 3,5 ton ini dilakukan pada Minggu (20/5/2018) siang. Pemasangan ini juga bersamaan dengan upacara pasupati atau penyucian patung GWK.

Seniman Nyoman Nuarta yang merupakan penggagas dan desainer patung ini mengaku bangga dan terharu impiannya segera terwujud.

“Kan sudah 28 tahun berjuang hampir selesai, jadi semua terharu. Pak Gubernur juga. Kan Pak Gubernur dulu juga tim dari awal,” kata Nuarta di lokasi upacara, Minggu (20/5/2018).

Sepeti tampak pada foto-foto di Ig : @gunarta yang menulis status

Hari ini 20 Mei 2018.. Redite-Kliwon-Sungsang..
Perakitan modul mahkota patung wisnu ..@garudawisnukencana@gwkbali
#gwk#culture#culturalpark#bali#paradise#statue#construction#architecture#sculpture#gunart#gunartaphotography

Sebelum mahkota dari mozaik berwarna emas ini dipasang, terlebih dulu dilakukan upacara menurut adat dan tradisi Bali. Dipimpin oleh 4 sulinggih atau orang suci, prosesi ngrastiti dan pecaruan ini dilakukan dengan diikuti oleh ratusan umat hindu. Termasuk para undangan dan pengelola GWK.

“Akhirnya hampir selesai, dulu saya bilang ke Pak Gubernur pokoknya sebelum meninggal harus sudah jadi patung (GWK) ini,” lanjutnya.


Pemasangan patung yang disebut-sebut sebagai patung yang memiliki detail paling jelas di dunia ini ditargetkan rampung pada Agustus mendatang. Pemasangan patung tertinggi nomor 2 di dunia ini awalnya memiliki sejumlah kendala.

“Kalau (GWK) ini selesai yang mendapat manfaat ya kita. Makanya saya tidak mau berbicara ini milik siapa. Saya tidak punya saham di sini. Bagi saya yang penting masih di Indonesia,” pungkas Nuarta.
(tor/det)

LEAVE A REPLY