Menko Darmin Sebut Secara Nasional Arah Inflasi RI Turun Tiap Tahun

0
41
Inflasi.
Inflasi.

Jakarta, Nawacita Sejumlah Menteri Ekonomi Presiden Joko Widodo (Jokowi) merapat ke Bank Indonesia (BI) pada Senin ini. Kehadiran para menteri tersebut untuk membahas pengendalian inflasi nasional.

“Ya itu rapat pembukaan lah 2018 dari tim pengendali inflasi pusat. Itu kan tim pengendali inflasi itu ada daerah, ada tingkat II, ada provinsi, pusat ada nasional,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Gedung BI Jakarta, Senin (22/1/2018).

Darmin menjelaskan, pemerintah memiliki target inflasi yang dituangkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Target inflasi pemerintah sebelumnya 4 persen plus minus 1 persen. Tahun ini, pemerintah menargetkan 3,5 persen plus minus satu persen.

“Tadi itu kita yang pertama memang kita itu secara nasional selalu ada target inflasi nanti memunculkan di APBN juga biasanya dimunculkan. Dan target itu selalu antara sekian plus minus satu. Kalau tadinya sampai tahun lalu inflasi kita itu secara nasional kita targetkan 4 plus minus satu. Mulai tahun ini menjadi 3,5 plus minus satu. Mulai 2020 dia akan menjadi 3 plus minus satu,” jelas Darmin.

Menurut Darmin, arah inflasi nasional menurun. Pemerintah berupaya menekan inflasi supaya Indonesia bisa bersaing dengan negara lain.

“Jadi kita melihat Indonesia sebetulnya secara umum arah inflasinya menurun dari tahun ke tahun. Dan kita ingin supaya inflasi kita juga tidak jauh dari negara-negara lain, negara-negara partner dagang,” kata dia.

Namun begitu, Darmin belum bisa memaparkan secara detil hasil pertemuan kali ini. Pasalnya, pertemuan tersebut baru tahap awal.

“Jadi kita belum membahas secara detil urusan substansi,” ungkapnya.

Hadir dalam pertemuan ini antara lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno. Namun, keduanya tak banyak berkomentar terkait pertemuan ini.

BI: Sasaran Inflasi Sesuai Target Selama 3 Tahun

Bank Indonesia (BI) menilai sasaran inflasi dapat terpenuhi dalam tiga tahun berturut-turut. Hal itu melihat perkembangan inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada Desember 2017 tercatat 0,71 persen (mtm). Secara tahunan mencapai 3,61 persen.

BI menyatakan, perkembangan inflasi itu sesuai dalam kisaran sasaran inflasi yang ditetapkan empat plus minus satu persen.

Terkendalinya inflasi 2017 didorong oleh rendahnya inflasi inti yang tercatat 2,95 persen (yoy), sejalan dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengarahkan ekspektasi inflasi.

Selain itu, rendahnya inflasi volatile food yang tercatat 0,71 persen (yoy), terendah dalam 14 tahun terakhir, seiring terjaganya pasokan dan distribusi bahan pangan; serta terkendalinya dampak kenaikan berbagai tarif dalam inflasi administered prices yang tercatat 8,70 persen (yoy).

Selain itu, inflasi 2017 juga didukung oleh faktor positif permintaan dan penawaran, rendahnya tekanan dari eksternal, serta koordinasi kebijakan yang kuat antara BI dan Pemerintah di Pusat maupun Daerah.

Inflasi IHK pada Desember 2017 meningkat dibandingkan bulan lalu (0,20 persen, mtm) sesuai dengan pola musimannya. Inflasi Desember 2017 lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi Desember tiga tahun terakhir sebesar 1,28 persen (mtm).

Berdasarkan komponen, meningkatnya inflasi bulan ini terutama dipengaruhi oleh inflasi kelompok volatile food dan kelompok administered prices di tengah rendahnya inflasi inti.

Inflasi inti tercatat sebesar 0,13 persen (mtm), sama dengan bulan lalu. Perkembangan tersebut sejalan dengan terjangkarnya ekspektasi inflasi, masih rendahnya permintaan domestik, nilai tukar yang stabil dan rendahnya harga global.

Kelompok volatile food tercatat inflasi sebesar 2,46 persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan lalu sebesar 0,38 persen (mtm). Inflasi terutama bersumber dari komoditas beras, ikan segar, telur dan daging ayam ras, cabai merah, tomat dan cabai rawit.

Kelompok administered prices mengalami inflasi sebesar 0,91 persen (mtm) meningkat dibandingkan dengan bulan lalu sebesar 0,21 persen (mtm). Perkembangan tersebut terutama didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara, tarif kereta api, dan angkutan antar kota sejalan dengan musim liburan dan penyesuaian bensin non subsidi. Selain itu, tekanan inflasi administered prices juga didorong oleh kenaikan tarif aneka rokok.

Ke depan, inflasi diperkirakan kembali berada pada sasaran inflasi 2018, yaitu 3,5 plus minus atu persen. Koordinasi kebijakan antara Pemerintah, baik Pusat maupun Daerah, dan Bank Indonesia akan terus diperkuat dalam pengendalian inflasi.

lpt6

LEAVE A REPLY