Bank BNI jawara kredit Sindikasi tahun 2017

0
54

Nawacita.co – Upaya PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) meningkatkan kredit bersama dengan bank-bank lain menjadikan bank terbesar keempat Tanah Air ini sebagai jawara kredit sindikasi.

Berdasarkan riset Bloomberg, Bank BNI di tahun 2017 menempati peringkat pertama sebagai arranger kredit sindikasi. Posisi ini sama dengan tahun sebelumnya.

BNI tercatat menyalurkan kredit sindikasi US$ 3,52 miliar atau setara Rp 47,66 triliun dengan total perjanjian kredit sebanyak 21 perjanjian.

Adapun, dari sisi pangsa pasarnya, BNI tercatat menguasai 12,13% pangsa pasar kredit sindikasi di Indonesia. Jika dibandingkan dengan tahun 2016, pangsa pasar BNI juga tercatat naik sebanyak 0,76% dari 11,36%.

Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta menyebut, tahun ini pihaknya masih akan fokus dalam penyaluran kredit sindikasi. Beberapa sektor yang masih menjadi sasaran utama perseroan antara lain infrastruktur dan manufaktur.

“Tahun ini masih pada infrastruktur dan manufaktur. Kami fokus sindikasi, untuk proyek-proyek besar,” katanya  Rabu (10/1).

Sebagai catatan saja, per November 2017, BNI telah menyalurkan kredit hingga Rp 406,09 triliun atau tumbuh 11,81% secara tahunan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp 363,18 triliun.

Selain BNI, urutan kedua sebagai arangger kredit sindikasi terbesar dipegang oleh PT Bank Mandiri (persero) Tbk dengan total market share mencapai 8,8%. Sementara penyaluran kredit sindikasi yang dipimpin bank bersandi emiten BMRI ini menembus angka US$ 2,56 juta.

Menyusul BNI dan Mandiri, Mitsubishi UFJ Financial Group juga terbilang paling aktif menjadi lead arranger kredit sindikasi. Tercatat peningkatan pangsa pasar MUFJ telah mencapai 4,12% dari tahun 2016 menjadi 8,69% di tahun 2017.

Adapun, total pembiayaan yang disalurkan mencapai US$ 2,52 juta dengan total persetujuan kredit tertinggi diantara seluruh industri yakni 26.

Head of Global Corporate Banking & Financial Institution The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Pancaran Affendi mengatakan pihaknya bakal terus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia terutama di sektor infrastruktur pada tahun 2018 ini.

“Fokus utama kami tetap di sektor infrastruktur,” kata Pancaran.

Data Bloomberg menjabarkan bahwa sepanjang tahun 2017 mayoritas kredit sindikasi yang disalurkan oleh perbankan dan lembaga keuangan masuk ke sektor industri sebesar 30% dari total kredit yang mencapai US% 29,06 juta. Disusul oleh sektor perangkat lunak (utilitities) sebesar 28% dan keuangan 14% sementara sisanya masuk ke industri lain.

(Ktn)

LEAVE A REPLY