Stok Kedelai Lokal Menipis di Kudus

0
33
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Kudus, NawacitaStok kedelai lokal di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, saat ini mulai menipis menyusul belum adanya pasokan dari daerah penghasil kedela.

kata Ketua Primer Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Primkopti) Kabupaten Kudus Amar Ma’ruf.

“Padahal, kedelai lokal sangat diminati pengusaha tahu karena kualitasnya dinilai lebih bagus dibandingkan kedelai impor,” kata Ketua Primer Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Primkopti) di Kudus, Senin (8/10/2017).

Daerah penghasil kedelai lokal yang berlangganan memasok pengusaha tahu di Kabupaten Kudus, di antaranya dari Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Jember, dan Lamongan, Jatim.

Permasalahan yang terjadi selama ini, kata dia, ketersediaan kedelai lokal memang tidak bisa berlangsung secara kontinyu, karena hanya saat musim panen.

Untuk saat ini, lanjut dia, pasokan kedelai lokal memang agak menurun, karena pemasoknya saat ini hanya dari Kabupaten Pati, sedangkan daerah lainnya justru belum ada.

Ia menduga, kondisi cuaca yang kurang mendukung seperti sekarang, berdampak pada hasil panen petani kedelai.

Akibatnya, lanjut dia, pengusaha tahu harus menggunakan kedelai impor karena selalu tersedia setiap dibutuhkan.

Untuk stok kedelai lokal, katanya, hanya tersisa 6 ton dan merupakan stok terakhir, karena dari pemasoknya sudah tidak tersedia lagi.

“Daerah lain yang biasanya memasok kebutuhan bahan baku pengusaha tahu di Kudus hingga sekarang juga belum ada kabarnya apakah memiliki stok atau tidak,” ujarnya.

Sementara stok kedelai impor, katanya, tersedia cukup karena digudang tersimpan 50 ton kedelai.

Jumlah tersebut, kata Ma’ruf, masih bisa ditambah sesuai kebutuhan.

Harga jual kedelai impor sejak tiga pekan terakhir, katanya, cukup stabil dengan harga Rp6.750 per kilogram.

Sementara permintaan juga cenderung stabil berkisar 15-20 ton per hari.

Sementara jumlah pengusaha tahu dan tempe di Kabupaten Kudus mencapai 300 pengusaha yang tersebar di beberapa kecamatan.

inlh

LEAVE A REPLY