Jokowi: Indonesia Harus Ikut Kejar Inovasi, Tapi Kebanyakan Aturan

0
44
Joko Widodo Presiden saat memberikan pengarahan kepada direksi maupun pemimpin media di Graha Pena Jawa Pos, Minggu (8/10/2017).
Joko Widodo Presiden saat memberikan pengarahan kepada direksi maupun pemimpin media di Graha Pena Jawa Pos, Minggu (8/10/2017).

Nawacita – Joko Widodo Presiden akhirnya menghadiri acara “Pengarahan Presiden RI menyikapi Transformasi Media di Era Digital” di Gedung Graha Pena, Minggu (9/10/2017).

Presiden RI usai melakukan kunjungan kerja ke Sumenep, Madura, tiba di ruang redaksi Jawa Pos, Graha Pena, tempat berlangsungnya acara, sekitar pukul 21.30 WIB.

Presiden sempat melihat dan mengamati beberapa karya inovasi anak negeri yang dipamerkan di halaman Graha Pena. Menurutnya, perubahan teknologi yang begitu pesat mau tidak mau harus dihadapi oleh Bangsa Indonesia.

Dia mengatakan, bagaimana terkejutnya dia melihat pesatnya perkembangan teknologi itu setelah berjalan-jalan ke Silicon Valley, San Fransisco Bay, California, Amerika Serikat.

Baik ke markas Google, Markas Facebook, Twitter, hingga ke Markas Ali Baba.

“Saya betul-betul, betul-betul sangat kaget, begitu pesatnya teknologi di era global ini,” katanya di hadapan hadirin yang terdiri dari direksi dan para Pemimpin Redaksi media Jawa Pos Grup se-Indonesia.

“Kita baru belajar Internet, sudah masuk mobile internet. Begitu belajar mobile internet, sudah masuk lagi ke artificial inteligence. Kalau kita ikuti itu, mau ke mana?” Kata Presiden.

Begitu cepatnya perubahan, kata Presiden, juga dapat dilihat dari perubahan cara pembayaran. Sebagian dari masyarakat sudah menggunakan kartu kredit.

“Lalu ada paypal, belum selesai paypal, ada alipay, yang gencar-gencaran mengintervensi pola pembayaran di seluruh dunia,” kata Presiden.

Perubahan di era digital ini, tidak hanya mempengaruhi Indonesia, menurutnya hampir di semua negara saat ini gagap menghadapi tekanan inovasi yang begitu cepatnya.

“Presiden Iran pernah tanya ke saya. Presiden Jokowi, apakah keterbukaan media sosial di negaramu sekejam di Iran? Saya jawab, lebih kejam di Indonesia. Kami bisa mengendalikan media mainstream, tapi tidak ada yang bisa mengendalikan media sosial,” ujarnya.

Ada prediksi, kata Jokowi, bahwa akan terjadi perubahan landscape politik global, landscape ekonomi, landscape interaksi sosial, yang pasti akan turut mengubah semua landscape secara nasional.

“Perubahannya seperti apa, belum ada yang bisa memperkirakan,” kata Joko Widodo.

Perubahan ekonomi misalnya, di Indonesia yang disebut-sebut karena daya beli turun, Jokowi memastikan karena terjadi shifting dari offline ke online.

Beberapa pihak mengatakan, peralihan ini tidak lebih dari 2 persen. “Itu kan yang di e-commerce. Bagaimana cara kita menghitung bisnis perorangan yang memasang barang dagangannya di Instagram? Kalau saya tahu caranya. Lewat jasa kurir. Betul, ketika saya cek, lonjakannya mencapai 134 persen,” tegas Jokowi.

Peralihan ini, kata dia, juga menyebabkan 30 persen lebih mall dan toko offline tutup karena serangan platform logistik maupun retail dari Ali Baba.

“Semua harus lihat. Lima, 10, sampai 15 tahun ke depan, bisa lebih cepat bisa agak lambat, generasi Y akan melalui apa saja bukanya di sini (smartphone). Mau baca apa, klik, beli apa, klik. Nanti yang menentukan pasar, politik ke arah mana, mereka ini para generasi milenial,” katanya.

“Ke arah mana perubahannya? Saya belum bisa menyampaikan. Apa yang harus kita tata, apa yang harus kita siapkan? Inilah yang namanya kejar-kejaran inovasi,” ujarnya.

Jokowi memuji mobil listrik maupun sepeda motor listrik sebagai karya anak negeri. Sebab, menurutnya, negara lain sudah lebih dulu memulai.

Kalau Indonesia tidak cepat mulai inovasi, maka akan tertinggal dengan negara lainnya. Jokowi Presiden pun mengakui, penghambat inovasi di Indonesia ini karena terlalu banyaknya aturan yang telah ada.

“Kita itu kebanyakan undang-undang, kebanyakan regulasi. Ada Perpres, ada PP, ada Perda, ada Pergub, ada Perwali. Kita pernah ngitung-ngitung ada 42 ribu aturan. Coba pusing ndak?” Kata Jokowi.

Repotnya, kata dia, regulasi itu lebih mengikat pada pergerakan bangsa Indonesia untuk maju. “Kita tidak bisa bergerak cepat, tidak bisa memutuskan cepat, tidak bisa mengeksekusi cepat,” katanya.

Jokowi mengatakan, dia sudah berupaya melakukan pemangkasan lebih dari 3 ribu perda dan perwali beberapa waktu lalu, meski dibatalkan oleh MK.

“Ini perlu sebuah kekuatan politik yang besar untuk mengubah banyak undang-undang, banyak regulasi lain baik di pusat, di daerah di provinsi maupun di kabupaten dan kota. Baru kita bisa lari cepat. Saya tidak melihat kita kalah dalam otak. Saya tidak melihat kita kalah dalam percepatan,” ujarnya.

Presiden pun mendukung langkah Inisiatif yang dilakukan Dahlan dengan mendukung pada ilmuwan dan generasi muda Indonesia untuk terus melakukan inovasi.

“Langkah inisiatif pak Dahlan ini bagus, kolaborasi seperti ini akan bisa menumbuhkan daya inovasi kita,” katanya.

ssby

LEAVE A REPLY