Pro dan Kontra Ekonomi RI Lesu

0
134
ilustrasi
ilustrasi

Jakarta, Nawacita – Ekonomi lesu atau tidak akhirnya jadi perbincangan. Ini tak lepas dari kondisi yang dianggap anomali, ketika data makroekonomi menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi, akan tetapi kondisi di lapangan berbeda.

Pro

Di awali dengan data dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI), yang mencatat konsumsi semen nasional hingga semester I-2017 mencapai sekitar 29 juta ton atau turun 1,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Konsumsi semen salah satu indikator kuat pembangunan berjalan baik atau tidak

Selanjutnya data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Ketua Umum Aprindo, Tutum Rahanta, menyatakan industri ritel melemah. Tingkat pelemahan berbeda-beda tergantung produk, paling signifikan adalah pakaian dengan penurunan 15% pada lebaran 2017 dibandingkan tahun sebelumnya.

Sektor properti melambat berdasarkan data Rumah.com. Volume suplai properti mengalami penurunan signifikan di kuartal II-2017, yakni sebesar 9,6%. Capaian tersebut berbanding terbalik jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang mencatatkan kenaikkan sebesar 11,4%.

Data lainnya dari Lembaga konsultan properti asal Australia, Savills. Risetnya menunjukkan tingkat kekosongan (vacancy) pasar perkantoran di area CBD, Jakarta mencapai 18,4% atau naik 2,7% dibanding semester sebelumnya.

Direktur Pemasaran PT Indomarco Pristama (Indomaret), Wiwiek Yusufjuga mengungkapkan kondisi daya beli nasional sedang lesu. Terbukti dengan laba PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) pada semester I-2017 hanya mampu meraup laba bersih Rp 30,5 miliar atau turun drastis 71,03% dari laba bersih di periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 105,5 miliar.

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga ternyata bernasib hampir serupa. Sepanjang semester I-2017 perseroan hanya mampu mengantongi laba bersih sebesar Rp 75,5 miliar. Angka itu turun 16,38% dibanding laba bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 90,37 miliar.

“Ekonomi tetap tumbuh tapi tidak diikuti oleh kegiatan usaha yang harusnya bisa tumbuh lebih cepat, bukan bagian dari perlambatan,” kata Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih.

Kontra

Meski berbagai data, khususnya dari sektor rill menunjukkan pelemahan, akan tetapi pemerintah bersikukuh ekonomi masih tumbuh baik. Acuan sederhana dari indikator makro ekonomi, pertumbuhan di atas 5%, inflasi 3,88% (year on year/yoy), dan nilai tukar stabil Rp 13.300/US$.

“Secara umum sektor keuangan dalam posisi normal. Kita melakukan report dari keseluruhan sektor keuangan, dari sisi makroprudensial, dari sisi fiskal, dan bagaimana interaksi mereka. Jadi hal yang sifatnya positif adalah ekonomi tetap berjalan baik, kondisi sektor keuangan dalam posisi normal stabil. Namun kita tetap waspada terhadap faktor dari luar maupun dari dalam,” kata Sri Mulyani mewakili Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

KSSK beranggotakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan dihadiri oleh Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, Ketua LPS Halim Alamsyah, dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dan jajarannya.

Sri Mulyani mengakui adanya perlambatan dari beberapa sektor, tapi tentunya tidak bisa dipakai dalam kesimpulan ekonomi secara keseluruhan.

“Indikasi yang harus kita teliti lagi dari sektor keuangan adalah pertumbuhan kredit, dari sisi sektor riil adalah denyut atau komposisi dari kegiatan ekonomi apakah itu dari retail yang barangkali lebih membuat headline tapi juga sektor lain seperti pertambangan dan kemudian sektor seperti ekspor. Kita juga perlu lihat daya beli masyarakat walau dalam hal ini inflasinya cukup rendah kalau dibandingkan lebaran tahun lalu,” terang Sri Mulyani.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Yunita Rusanti, mengatakan sepinya pergerakan ekonomi di sektor ritel dikarenakan adanya perubahan pola berbelanja yang dilakukan masyarakat. Bukanlah karena ekonomi lesu.

“Menurut saya Jakarta di beberapa mal agak turun karena ada online. Orang beli online. Bisa jadi sekarang sedang pembangunan infrastruktur, macet di mana-mana, orang cenderung malas ke luar jadi pada beli online,” kata Yunita.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Suahazil Nazara, melengkapi dengan data realisasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) hingga semester I-2017, yang tumbuh 13,5%. Tingkat perolehan PPN merupakan cermin tingkat transaksi yang terjadi di masyarakat. Artinya, semakin tinggi perolehan PPN, semakin tinggi pula transaksi belanja yang terjadi di masyarakat.

“PPN Semester I dibanding 2016 (yoy) naik 13,5%. Artinya transaksi naik enggak tuh? Naik. Kalau enggak ada transaksi enggak naik PPN,” terang Suahasil.

Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menilai ada penurunan konsumsi. Akan tetapi bukan karena daya beli lemah, namun masyarakat yang lebih memilih untuk menabung. Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 11,18%, lebih tinggi jika dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang hanya sebesar 9,87%.

“Porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi juga menunjukkan tren menurun sejak Desember 2016 hingga Juni 2017, sementara itu porsi pendapatan yang digunakan untuk tabungan cenderung meningkat,” kata Josua.

Menunggu Laporan BPS

Sementara itu Menko Perekonomian, Darmin Nasution, masih dalam kondisi bingung. Menurutnya, ritel tak bisa jadi rujukan kondisi daya beli masyarakat secara umum, meskipun Ia tidak menapik adanya pelemahan sektor tersebut.

Bila disebutkan beralih ke transaksi online, Darmin juga belum mendapatkan data yang lengkap. Sehingga tidak begitu saja bisa mengambil kesimpulan. Ia lebih memilih menunggu laporan BPS awal pekan nanti.

“Apakah belanja turun atau pertumbuhannya turun apa enggak? Jangan buru-buru menyimpulkan, tunggu datanya selesai,” kata Darmin.

sumber : detik

LEAVE A REPLY