Menteri Siti Jelaskan Tentang Titik Kebakaran Hutan yang Meluas

0
44
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Susi Nurbaya.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Susi Nurbaya.

Jakarta, Nawacita – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyebut kebakaran hutan pada Juli meningkat sebanyak 49 persen dibandingkan tahun lalu. Namun, jika dibandingkan dengan Juni hanya meningkat sekitar 20-23 persen.

“Kita mengikuti terus perkembangannya. Memang kalau dilihat hot spotnya Juli naik. Dibandingin tahun lalu 49 persen lebih tinggi dari Juli tahun lalu dibanding dengam Juli 2015 itu 27 persen . cuma dibandingin Juni itu 20 -23 persen. Hot spot kita lebih banyak dan ekskalatif di Juli,” terang Siti sela Rakernas tahun 2017 dengan tema ‘Untuk Hutan, Lingkungan, dan Perubahan Iklim Berkeadilan’ di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (2/8/2017).

Siti menyebut titik panas (hot spot) yang masih terpantau ada di Kalimantan Barat (Kalbar), Riau, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Penyebabnya, kata Siti, tak lain karena pembukaan lahan tradisional yang dilakukan secara serentak.

“Daerah-daerah yang masih terus (muncul hot spot) Kalbar, tapi sudah kita tangani ada tim kami di lapangan sejak minggu. Dan water bombing juga sudah turun karena api kecil-kecil harus banyak (penyiraman) di darat sana,” terangnya.

“Juga harus banyak persuasi di masyarakat, karena pembukaan lahan tradisional serentak, hari ini menurun. Persoalan sekarang dengan demikian di Kalbar, NTT bisa di Riau juga,” sambung Siti.

Untuk kebakaran di Riau, Skti menyebut tim satgas kebakaran hutan sudah bergerak di lapangan. Hanya saja untuk penanganan di Kalimantan Barat, Siti mengakui memang tersendat akibat biaya operasional.

“Riau setiap ada api sistemnya sudah jalan, satgas sudah jalan. Kalbar satgas di sana ada cuma macet di dalam mekanisme operasionalnya kita turun untuk mendorong,” jelas Siti.

Untuk kawasan Pulau Jawa pihaknya juga sudah berhasil mendeteksi pemicu titik api. Salah satunya adalah bekas sawah yang dibakar.

“Saya minggu lalu bisa saja terdeteksi dan petaninya bakar bekas-bekas tanaman, ” ucap Siti.

Siti menambahkan kebakaran di NTT sudah berhasil ditangani. Lagi-lagi penyebab kebakaran karena kebiasaan masyarakat yang sengaja membakar lahan untuk menumbuhkan rumput baru.

“NTT sudah selesai di ladang rumput alang-alang dibakar, memang dibakar untuk mendapat rumput hijau yang baru untuk ternak,” pungkasnya.

Sumber: detik

LEAVE A REPLY