PT Pertamina EP segera Mengoperasikan SPG Lapangan Paku Gajah

0
46
Direktur Utama Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf
Direktur Utama Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf

Jakarta, Nawacita – PT Pertamina EP Asset 2 segera mengoperasikan Stasiun Pengumpul Gas (SPG) lapangan Paku Gajah dan Kuang yang merupakan bagian dari Proyek Pengembangan Paku Gajah (PGDP) di Muara Enim dan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

“Status saat ini PGDP serahterima fasilitas produksi SPG Pakugajah berkapasitas 45 MMSCFD dan SPG Kuang dengan kapasitas 25 MMSCFD ke Pertamina EP Asset 2,” kata Direktur Utama Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf di Jakarta, Minggu (30/7/2017).

Proyek Paku Gajah saat ini menggunakan fasilitas produksi Early Production Facility (EPF) sewa lengkap, mulai dari memproduksi gas bumi dari sumur-sumur eksplorasi maupun sumur pengembangan yang telah dibor sejak 2010.

Beberapa pengeboran sumur pengembangan dilakukan sejak 2010 melalui tahapan “put on production” dan pada 2013 dilanjutkan dengan pengeboran pengembangan melalui tahap rencana pengembangan (POD) yang telah disetujui SKK Migas.

Selain SPG Paku Gajah dan Kuang, proyek pengembangan Paku Gajah nantinya memiliki jalur pipa trucline 12 inci sepanjang 23 km dari SPG Paku Gajah ke CO2 removal eksisting SPG Merbau.

Selanjutnya, gas yang dihasilkan dari SPG Paku Gajah dan SPG Kuang akan disalurkan ke konsumen PT Perusahaan Gas Negara (Persero) maupun konsumen gas lainnya di Sumatera Selatan.

Menurut Nanang, proyek pengembangan Paku Gajah dibentuk untuk mempercepat monetisasi aset sehingga mendapatkan potensi eksplorasi di struktur Pagardewa, Karangdewa, Prabumenang, Tasim, Pemaat, Kuang Selatan, Lavatera, Piretrium, sehingga dapat diproduksi secara ekonomis.

“Proyek ini merupakan integrasi dari fasilitas produksi yang telah ada, yaitu Metering Pagardewa, SPG Merbau, EPF Sewa, SP Kuang Eksisting dan SP PGN,” ungkap Abdul Manaf.

Sejak 2010 Paku Gajah memproduksi gas dan kondensat dengan menggunakan EPF Pagardewa. Produksi gasnya saat ini mencapai 15 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan 150 barel kondensat per hari.

Seiring pengembangan yang dilakukan, produksi gas pada tahun lalu mencapai 44 MMSCFD dan kondesat 991 barel per hari.

Proyek Pengembangan Paku Gajah mendapatkan penghargaan dalam ajang Pertamina Awards 2016 dalam kategori Strategic Initiatives: Proyek Prioritas Investasi.

Selain di proyek Paku Gajah, Pertamina EP telah mengembangkan beberapa teknologi lainnya seperti Sistem Operasi Terpadu (SOT) untuk memastikan validitas angka operasi produksi melalui jaringan.

Kemudian teknologi Special Design Parameter Survey Seismik 2D di Area Bunyu. Pengembangan ini menghasilkan penambahan sumber daya migas baru dengan nilai hingga Rp30 triliun serta pengakuan dari anak usaha hulu lainnya.

Selain itu Pertamina EP juga sudah menerapkan teknologi Bio Sulfur Recovery Unit (BSRU) pada Matindok Gas Development Project (MGDP). BSRU adalah teknologi untuk mengambil kandungan sulfur dalam gas asam.

Sumber: rri

LEAVE A REPLY