Produksi Garam Mandek

0
94
Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta, Nawacita – Petani membutuhkan sinar matahari yang sangat terik untuk memproduksi garam. Namun, di daerah-daerah sentra produksi garam justru mengalami curah hujan yang tinggi, padahal seharusnya sekarang masuk musim kemarau.

Daerah-daerah penghasil garam itu antara lain tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Madura Selatan, Cirebon, Indramayu, Pati, Rembang, Jepara, Pasuruan, dan Gresik.

“Madura Selatan, Cirebon, Indramayu, Pati, Rembang, Jepara, Pasuruan, dan Gresik. Produksi lokal belum ada karena hujan terus menerus,” ujar Ketua Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), Tony Tanduk, Senin (31/7/2017).

Untuk mengatasi masalah kelangkaan garam, pemerintah akan mengimpor 75.000 ton garam dari Australia. Menurut Tony, impor ini terlambat karena baru terjadi setelah kelangkaan garam ini melebar ke mana-mana.

Seharusnya pemerintah sudah mengantisipasi karena kebutuhan garam per tahun itu sekitar 4,1 juta ton, sedangkan produksi lokal hanya mampu memasok antara 1,7-1,8 juta ton per tahun.

“Harusnya ada pengamanan dari pemerintah karena garam itu bahan baku bukan produk jadi. Masuk pun harus diolah dulu,” kata Tony.

Selain itu, 75.000 ton belum bisa mengatasi masalah kelangkaan garam. Angka 75.000 ton itu hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, belum termasuk industri.

Misalnya, pengasinan ikan, penyemakan kulit, tekstil, dan pakan ternak. Tony menambahkan impor garam yang ideal hingga akhir 2017 adalah 500.000-600.000 ton. Jumlah ini sudah bisa memenuhi kebutuhan konsumsi hingga industri.

“Ini sudah termasuk untuk konsumsi, dan industri penyemakan kulit hingga aneka pangan,” tutur Tony.

sumber : detik

LEAVE A REPLY